Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Bona Ventura Ventura

#Dear TwitterBook, #LoveJourneyBook @leutikaprio

Bahasa Indonesia dan Industri Kreatif Pabrik Kata-kata

OPINI | 18 September 2012 | 22:08 Dibaca: 2888   Komentar: 0   0

Pulau Bali menawarkan beragam pesona budaya. Organisasi kemasyarakatan Subak yang mengatur sistem pengairan sawah dan sudah diakui oleh UNESCO. Pecalang yang menonjolkan partisipasi masyarakat mengamankan wilayah adatnya secara swadaya. Mepasah membaringkan jenazah di bawah pohon taru menyan tanpa menguburnya. Ragam budaya tersebut identik dan melekat dengan masyarakat Bali. Selain itu, ada pula budaya yang tidak diwariskan secara turun-temurun. Budaya yang tidak berasal dari turun-temurun dicontohkan oleh Pabrik Kata-kata Joger. Salah satu industri kreatif yang kini sudah identik dengan pariwisata Bali.

Wisatawan mancanegara atau nusantara memiliki beragam julukan untuk Bali. Bali sebagai pulau Dewata, pulau seribu pura, pulau beragam budaya. Satu yang kini juga sudah identik dengan Bali adalah Pabrik Kata-kata Joger. Belum lengkap rasanya ke Bali tanpa berkunjung dan berbelanja di Joger. Siapa saja yang berwisata ke Bali, maka dia akan minta dibelikan oleh-oleh dari Joger. Menyebut Bali saat ini identik pula menyebut Pabrik Kata-kata Joger. Ciri khas dari produk-produk Joger adalah menonjolkan keunikan dan kelucuan kata-kata.

Keusilan mengolah kata-kata dalam produk Joger memunculkan beragam opini. Ada yang merasa lucu, unik, kreatif, namun ada pula beberapa pihak yang dapat tersinggung. Bahasa sebagai instrumen komunikasi menyediakan ruang multi tafsir. Kata-kata yang biasa dapat saja bermakna menghina bagi penutur bahasa yang mempunyai tendensi terhadap suatu situasi.

Bahasa, industri kreatif dan gudang estetika kata-kata

Industri kreatif di Indonesia mulai mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Instruksi presiden tahun 2009 memutuskan untuk membentuk kementerian tersendiri yang menunjang industri kreatif Indonesia. Memang bidang industri kreatif tidak berdiri sendiri, melainkan digabung dengan bidang pariwisata, sehingga menjadi kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif. Industri kreatif dibagi ke dalam dua bidang, yakni: industri kreatif berbasis seni budaya dan industri kreatif berbasis media, desain serta iptek. Industri kreatif berbasis seni budaya terdiri dari film, musik, seni pertunjukan, seni rupa, fashion, kerajinan dan kuliner, sedangkan industri kreatif berbasis media, desain serta iptek terdiri dari konten animasi, games, arsitektur dan desain (Pangestu,2012,9).

Salah satu industri kreatif yang memunculkan kreator baru secara berkesinambungan adalah bidang fashion. Kreator baru di bidang fashion berawal dan besar di antara komunitas, lalu membesar berkat WoM marketing (Words of Mouth). Pabrik Kata-kata Joger termasuk ke dalam industri kreatif berbasis seni budaya. Joger didirikan oleh Joseph Theodorus Wuliandi pada tahun 1980. Nama Joger sendiri adalah sebuah bentuk terima kasih untuk temannya yang bernama Gerhard Seeger — teman bersekolah ketika di Jerman — yang telah menghadiahkan uang 20 ribu Dollar di pernikahannya, yang sekaligus menjadi modal utama usahanya. Joseph dan Gerhard, itulah kepanjangan dari Joger. Sekarang Joseph kerap dipanggil Mr. Joger. Sebagai pabrik kata-kata, maka tiap bulan Joger memunculkan kata-kata baru minimal satu. Ide awal produksi kata-kata berasal dari kejadian sehari-hari yang terkadang luput dari pengamatan orang awam.

Kelucuan dan keunikan pengolahan kata-kata Joger sudah mulai dari bagian luar. Di bagian luar ada kata-kata: ini tembok Joger, bukan tembok Berlin. Di bawah tulisan tersebut tertera kata-kata: belanja tidak belanja tetap thank you. Untuk penguatan merek produk-produknya Joger pun mengiklankan dengan cara yang tidak lazim, seperti kata-kata: Joger jelek Bali bagus. Bali baik sejak dulu, Joger jelek baru-baru. Kata-kata di atas kaus oblong Joger pun tetap menampilkan pesan dan keunikan mengolah kata, simak beberapa contoh berikut:

  1. cintailah Tuhan tanpa membenci sesama maupun merusak lingkungan hidup. Kalau kita memang benar-benar beragama dan mencintai Tuhan Yang Maha Esa, Maha Baik, Maha pengasih dan Maha Penyayang. Sudah selayaknyalah kita secara berkesinambungan benar-benar mau serta mampu mencintai atau minimal tidak membenci sesama manusia dan juga tidak secara terlalu serakah merusak lingkungan hidup kita yang konon sama-sama kita cintai serta dambakan kelestariannya secara adil dan beradab (Joger 020807, T58)
  1. Maaf 1001 maaf! Kami adalah kumpulan orang-orang waras yang merasa tidak punya masalah dan juga tidak suka atau ingin cari maupun bikin masalah dengan siapapun juga. Bagi anda yang mungkin sedang ingin bermasalah, silahkan cari saja orang-orang yang suka bermasalah atau mereka yang memang hobi cari atau bikin masalah (Garing Joger 28112010, T58)
  1. Kalau yang pria disebut dewa, berarti yang wanita pasti dewi. Ketika yang betina cumi-cumi, maka yang jantan pun seharusnya bisa dan boleh cuma-cuma. Ketika yang betina benar-benar kepiting, berarti yang jantan harus ekstra hati-hati, karena bisa saja kepotong. Kalau yang wanita kita sebut selebriti, maka seharusnyalah yang pria kita sebut selebroto. Tapi walaupun sang istri penjahit profesional, sebaiknyalah sang suami tetap tidak merasa berhak atau apalagi wajib mendirikan dirinya penjahat (Humor Khas Joger 03062012)
  1. Orang yang malas belajar biasanya waktu ujian akan terpaksa nyontek. Orang yang suka nyontek biasanya akan jadi lebih malas belajar dan orang yang malas belajar otaknyapun kosong. Orang yang otaknya kosong biasanya PDnya rendah. Orang yang yang PDnya rendah biasanya rugi sendiri. Dari sebab itulah saya memilih belajar siang malam agar tidak terpaksa nyontek pagi sore.
  1. Sikap berhati-hati adalah lambang kewaspadaan. Curiga adalah lambang kekhawatiran. Makanya, sebelum repot-repot mencurigai atau (apalagi) menuduh orang lain, curigailah diri kita sendiri secara jujur terlebih dahulu (Joger 010102, JR KK 233).
  1. Saya paling suka dan bangga pada kombinasi angka 5758 (liMA tuJUh liMA delaPAN) yang bisa berbunyi dan bermaksud MAJU MAPAN. Semoga saja kita semua bisa dan boleh benar-benar makin lama makin MAJU dan makin MAPAN terus secara sosial, ekonomis maupun secara politis! Iman – Amal – Aman – Amin! (Sugesti Positif Versi Joger, 07052012, TSA).

Dari lima contoh tersebut tampak bahwa kata-kata yang ada dalam tiap produk Joger kreatif, unik, lucu dan mengandung pesan moral. Tim kreatif memotret realitas kehidupan, lalu ditampilkan ke atas kaus dengan apik. Kata-kata yang ditampilkan mampu membuat pembaca tersenyum, berpikir dan tersindir. Contoh nomor satu tepat dengan kondisi Indonesia yang masih mengalami beragam tindak kekerasan, karena ada individu yang mencintai Tuhan dengan jalan membenci sesama. Kebencian terhadap sesama yang bermula belum dapat menerima perbedaan. Kekerasan yang terjadi tidak hanya pada tataran antar individu semata, namun kekerasan pun dapat terjadi dari negara terhadap warganegara, karena negara gagal memberikan perlindungan sejumlah hak dasar warga (Desyani, Tempo.com,2012).

Contoh nomor dua pun cukup akrab dengan situasi terkini. Konflik dapat berawal dari hal sepele. Terkadang justru salah satu pihak tidak ingin memperpanjang masalah, karena masih menggunakan akal sehat (waras). Konflik vertikal atau horizontal dapat disebabkan oleh memudarnya penggunaan akal sehat dan lebih menonjolkan kekuatan fisik. Mungkin saja pihak yang kerap mencari-cari masalah sedang bermasalah, sehingga mereka tidak dapat hidup tenang, apabila situasi aman dan baik-baik saja.

Permainan bahasa tampak dalam contoh nomor ketiga. Kreativitas dalam mengolah kata-kata tampak dalam perubahan dari kata dewa menjadi dewi, kepiting menjadi kepotong, selebriti menjadi selebroto, penjahit menjadi penjahat. Melalui kreativitas yang bersumber dari realitas, maka perubahan kata yang terjadi meskipun hanya beberapa huruf mampu menghadirkan pesona keindahan makna kata. Ada kesan dalam memproduksi kata-kata dilibatkan pula “kegenitan intelektual”, sehingga siapa pun yang membaca akan berkomentar dalam hati, “Kok bisa ya”?

Budaya instan dimunculkan dalam contoh keempat. Siswa yang ingin mendapat nilai bagus, namun tidak ingin mengikuti proses yang semestinya. Mencontek di sekolah akan berkembang biak saat sudah dewasa dalam bentuk korupsi. Mencontek kini, korupsi nanti. Cara mujarab untuk terhindar dari budaya mencontek dengan mengikuti proses pembelajaran dengan tekun dan rajin. Sedangkan contoh kelima cukup menyentak kesadaran, karena mengangkat tentang budaya curiga. Curiga tanpa alasan cukup mengkuatirkan, karena dapat menimbulkan fitnah keji. Melalui kata-kata yang ditampilkan di kaus contoh nomor lima sesungguhnya mengajak siapapun yang membaca agar lebih introspeksi diri. Dalam kreativitas kata-kata Joger tampak jelas pesannya, curiga adalah lambang kekhawatiran. Makanya, sebelum repot-repot mencurigai atau (apalagi) menuduh orang lain, curigailah diri kita sendiri secara jujur terlebih dahulu. Contoh terakhir merupakan kata-kata sugesti positif versi Joger. Kemampuan mengolah dan merangkai kata digabung dengan penggunaan akronim dari angka-angka (5758, liMA tuJUh liMA delaPAN). Melalui akronim tersebut dikomunikasikan harapan terhadap Indonesia, yakni MAJU MAPAN. Harapan itu makin diperkuat dengan doa dalam kata-kata, Iman – Amal – Aman – Amin! Doa yang semakin indah, apabila menjelma dalam tindakan. Tiap umat beriman diharapkan berkontribusi melalui amal kebajikan masing-masing, niscaya keadaan Indonesia aman. Tentu saja masyarakat akan mengaminkan dalam hati masing-masing.

Industri kreatif terus melahirkan ide-ide kreasi yang mempunyai nilai jual, keunikan dan daya saing. Pabrik Kata-kata Joger tetap berkibar hingga kini. Toko yang menjual produk-produk Joger tidak pernah sepi dari antrean, karena produk-produk yang dijual tidak pernah sepi dari ide kata-kata kreatif. Bahasa Indonesia berperan sebagai sumber ide kreativitas yang tidak mengenal batas. Lambat laun Joger menjadi identik dengan Bali, sehingga menjelma sebagai salah satu alat promosi pariwisata bagi Bali. Joger tetap antusias diminati, karena keunikannya sebagai pabrik kata-kata dan hanya dapat dibeli di Bali. Kejelian Mr. Joger melihat peluang dalam memproduksi kata-kata sudah mendapat apresiasi yang tinggi dari para konsumen.

Daftar Pustaka

Desyani, Anggrita. 2012. Kontras: Penyerangan Syiah Indikasi ”Failed State” http://www.tempo.co/read/news/2012/08/27/063425705/Kontras-Penyerangan-Syiah Indikasi-Failed-State. diakses pada tanggal 17 September 2012.

Pangestu, Mari Elka. Maksimalkan Modal Budaya, Forum Manajemen Prasetya Mulya volume

XXVI No. 03, Mei-Juni 2012.

www.jadiberita.com, diakses pada tanggal 13 September 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membatik di Atas Kue Bolu bersama Chef Helen …

Eariyanti | | 02 October 2014 | 21:38

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Lidia Putri | | 02 October 2014 | 18:06

Nasib PNPM Mandiri di Pemerintahan Jokowi …

Ali Yasin | | 02 October 2014 | 10:05

Teror Annabelle, Tak Sehoror The Conjuring …

Sahroha Lumbanraja | | 02 October 2014 | 16:18

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Emak-emak Indonesia yang Salah Kaprah! …

Seneng Utami | 8 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Dahsyatnya Ceu Popong! …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gara-gara Incest di Jerman, Nginap di Hotel …

Gaganawati | 7 jam lalu

Usul Gw kepada Anggota Dewan …

Bhre | 7 jam lalu

PKC # 3: Kekasih Baru …

Ervipi | 7 jam lalu

Ini Baru #Shame On You# Jika PSC Off Ticket …

Aprindah Jh | 8 jam lalu

Negeriku Tercabik …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: