Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Eddy Roesdiono

'S.C'. S for sharing, C for connecting. They leave me with ampler room for more selengkapnya

Tukang Mengajar Bahasa Indonesia

OPINI | 17 September 2012 | 17:19 Dibaca: 575   Komentar: 12   8

‘Tukang’ merupakan kata bahasa Indonesia yang unik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘tukang’ setidaknya diartikan sebagai ‘orang yang mempunyai kepandaian dalam suatu pekerjaan tangan tertentu dengan alat tertentu, misalnya tukang kayu, tukang sepeda, tukang arloji, tukang potret keliling, tukang tagih, tukang cukur, tukang tulis.

Dalam perkembangan pengunaannya sehari-hari, ternyata kata ‘tukang’ mampu menjelajah ke berbagai ranah kepelakuan bidang pekerjaan. Bila kita amati fungsi kata ‘tukang’, maka kita akan mendapatkan gambaran variasi fungsi kata tersebut sebagai berikut :

#1 Pelaku Pekerjaan

Ini bisa kita simak dari frasa : tukang sapu, tukang sunat, tukang gigi, tukang semir, tukang parkir, tukang sayur, tukang becak, tukang kayu, tukang batu, tukang besi, dan semacamnya. Dalam perkembangan bahasa Indonesia, kata ‘tukang’ telah berfungsi sebagai panhandler (kata yang mewakilli) untuk pelaku-pelaku yang belum memiliki kata baku. Kata-kata baku seperti ‘sopir’, ‘guru’, ‘nelayan’, ‘pramugari’, ‘pengacara’, ‘penyiar’, tidak perlu didahului oleh kata ‘tukang’ karena sudah merujuk pada makna pelaku pekerjaan. Dalam masyarakat bahasa Indonesia dialek Betawi, kata ‘tukang’ sangat intensif digunakan : tukang rokok, tukang bubur (ada sinetron RCTI berjudul TUKANG BUBUR NAIK HAJI), tukang gorengan, tukang WC. Tokoh babe yang diperankan Benyamin Sueb dalam sinetron SI DOEL ANAK SEKOLAHAN malah menyebut si Doel (diperankan Rano Karno) sebagai ‘tukang insinyur.

Beberapa hari lalu, saya sempat mendengar istilah ‘tukang HP, ‘tukang pulsa’, untuk menerangkan pelaku pekerjaan memperbaiki/menjual HP dan menjual pulsa.

Kata ‘tukang’, dalam hal ini. tampaknya juga telah menggantikan atau lebih populer daripada kata ‘juru’ atau ‘pandai’. Buktinya, saat ini jarang kita mendengar atau menggunakan kata ‘juru mudi’, ‘juru rawat’, ‘juru parkir’, ‘juru tulis’, ‘pandai gigi’, ‘pandai besi’.

#2 Pelaku Abu-abu

Kata ‘tukang’ juga digunakan untuk menyebut pelaku yang menjalankan pekerjaan yang bukan benar-benar pekerjaan, misalnya : tukang jambret, tukang copet, tukang peras, tukang palak, tukang catut, Percayalah pada saya, kata ‘tukang’ dalam hal ini lebih enak digunakan daripada ‘penjambret’, pencopet’, ‘pemeras’, atau ‘pemalak’.

#3 Sebutan Olok-olok Untuk Kebiasaan Buruk

Bagaimana kita menyebut orang yang biasa atau punya kebiasaan melakukan tindakan-tindakan yang secara sosial tidak menyenangkan? Mari kita buat daftarnya : tukang gosip, tukang adu-domba, tukang bikin onar, tukang kawin, tukang resek, tukang intip, tukang tipu, tukang selingkuh, tukang nangis, tukang ngebut, tukang minum, dan ‘tukang-tukang’ berlabel buruk lainnya.

Menarik dikemukakan adalah fakta bahwa ‘tukang’ merupakan kata bahasa Indonesia yang lentur, kaya makna sekaligus konsisten sebagai kata yang digunakan untuk memberi label pelaku dengan pekerjaan atau pelaku dengan kebiasaannya, tanpa mengubah kosa kata di belakangnya. Cobalah bandingkan dengan bahasa Inggris yang perlu banyak jenis akhirani kata untuk menerangkan pelaku (akhiran -er/or seperti pada kata teacher, instructor; akhiran –ist seperti pada kata journalist, artist; akhiran –ant seperti pada kata assistant, consultant), akhiran –ian seperti pada kata historian, librarian, technician.

Sayangnya, dari sudut padang status kehormatan kosa-kata, ternyata kata ‘tukang’ memiliki derajad kurang tinggi dibandingkan dengan ‘juru’ atau ‘pandai’ atau ‘ahli’ dalam hal mana ‘tukang’ hanya digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang kurang bergengsi, meskipun sebenarnya mereka yang menyandang gelar ‘tukang’ dalam artian pelaku pekerjaan, sebenarnya adalah para ahli di bidangnya.

Mungkin karena itulah, profesi-profesi tertentu enggan, menolak atau tak nyaman disebut tukang. ‘Reporter’ tidak pernah tergantikan oleh ‘tukang lapor’ , dan syukurlah, ‘guru bahasa Indonesia’ juga belum digagas untuk digeser oleh ‘tukang mengajar bahasa Indonesia’

Salam dari salah seorang tukang artikel Kompasiana!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 5 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 10 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 11 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 13 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengabdi …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Usai Gasak Malaysia, Timnas Justru Takluk …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Nama Makanan yang Nakutin …

Arya Panakawan | 8 jam lalu

Gelar Terpental demi Sahabat Kental …

Adian Saputra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: