Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Uus Hamdani

Belajar sama-sama, sama-sama belajar

Bahasa sebagai Atribut Identitas Nasional

OPINI | 13 September 2012 | 06:28 Dibaca: 1238   Komentar: 0   0

Mempelajari Bahasa Indonesia memang susah-susah gampang. Sebagaimana beberapa bahasa daerah yang ada di di tanah air, Bahasa Indonesia memiliki struktur bahasa berkaitan dengan segmentasi penggunaannya. Dalam kaidah Bahasa Sunda disebut undak-usuk basa atau penggunaan kata-kata yang berbeda untuk setiap peruntukan baik yang berkaitan dengan tempat, zaman dan kedudukan seseorang.

Kalau diamati lebih lanjut maka pola penggunaan bahasa Indonesia ternyata bisa lebih sulit mencari kata-kata yang tepat dibanding dengan bahasa daerah ditambah dengan kesulitan dalam menentukan pola penulisan yang sering kali keliru terutama dalam penggunaan kata sambung dan imbuhan.

Merespon fenomena seperti ini maka sebaiknya pendidikan Bahasa Indonesia bagi pelajar, pemuda dan mahasiswa khususnya dan secara umum bagi kita perlu didorong perbaikan meliputi setidaknya tiga hal, yakni :

1. Penggunaan kata-kata yang tepat, yang dimaksudkan disini adalah melakukan pemberian pemahaman tentang tata cara penggunaan yang tepat dalam suasana dan kepada orang tertentu, klasifikasinya mesti diperjelas, seperti kapan harus menggunakan kata kamu, kau, anda, saudara, you, ente, elo.

2. Penulisan kata-kata yang tepat, hal ini terutama untuk membiasakan dua hal, pertama, penggunaan imbuhan masih banyak yang kesulitan dalam hal ini seperti penggunaan awalan ke- untuk menunjukkan tempat apakah disambung atau tidak, dan yang kedua, bagaimana penggunaan kata serapan yang berasal dari bahasa asing dan lebih khusus dari bahasa yang tidak menganut asas what you say is what you write seperti Bahasa Inggris.

3. Pengingkatan pemahaman terhadap arti kata-kata serapan yang baru, banyak kata-kata yang masuk secara begitu saja menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Dengan posisi penempatan kata yang kurang cocok dengan arti sebenarnya dalam bahasa asal, tetapi dipahami oleh sesama lawan bicara dan komunitas tertentu maka diperlukan penelaahan yang lebih lanjut. Apakah kata serapan tersebut akan diterjehmahkan sesuai dengan arti asli pada daerah/ negara asalnya atau akan diberi arti yang baru sesuai dengan apa yang digunakan komunitas yang menggunakan pada maksud tertentu yang berbeda dengan asal arti di kamus bahasa asalnya.

Kelihatannya memang perbaikan penggunaan bahasa tersebut simpel, namun dengan semakin berkembangnya teknologi informasi mendorong pihak-pihak yang berwenang dalam pemeliharaan dan pengembangan Bahasa Indonesia untuk bekerja lebih fokus dan terarah menjaga kemurnian Bahasa Indonesia sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia (Srijanti, 2009).

Bahasa sebagai atribut identitas bangsa

Bahasa Indonesia merupakan salah satu atribut yang menjaga identitas bangsa Indonesia mesti dijaga, dipelihara serta dirawat bukan hanya oleh pihak berwenang tetapi juga oleh semua kita. Sebagaimana sifat atribut, maka Bahasa Indonesia memberikan suatu komponen yang lebih lengkap terhadap ke-Indonesia-an kita. Jika orisinalitas Bahasa Indonesia kurang terjaga maka suatu saat bangsa Indonesia mengalami suatu krisis identitas dikarenan lunturnya penggunaan atribut satu persatu yang menandakan lunturnya identitas kebangsaan kita.

Untuk menjaga terpeliharanya identitas bangsa, maka untuk menjaga atribut yang berupa bahasa ini perlu dilakukan setidaknya beberapa hal berikut :

1. Meyakinkan diri, keluarga dan masyarakat bahwa sebagai sebuah bangsa, Indonesia harus memiliki seperangkat atribut yang mencirikan identitasnya sebagai sebuah bangsa.

2. Memahamkan bahwa salah satu atribut tersebut adalah  bahasa yang menjadi bahasa persatuan yakni Bahasa Indonesia yang harus terus dipelihara dan ditingkatkan kualitas penggunaannya.

3. Mengajak dan menjadi teladan dalam menggunakan Bahasa Indonesia dalam setiap percakapan sesering mungkin dengan tetap membagi proporsi untuk bahasa asing dan bahasa daerah. Penggunaan bahasa ini selain dalam agenda resmi juga dalam pergaulan sehari-hari.

4. Senantiasa memperbaiki kualitas penggunaan bahasa baik dalam lisan dan tulisan serta menambah pemahaman terhadap kata-kata yang digunakan, salah satu kelemahan kita adalah sering mengucapkan kata yang sebenarnya kita sendiri tidak paham arti dan maksud dari kata tersebut, selain itu juga terus dengan meningkatkan pemahaman terhadap kata-kata baru yang masuk dan diserap ke dalam Bahasa Indonesia.

5. Membiasakan melakukan percakapan dan penulisan dengan pengucapan dan penulisan yang baku sehingga terbangun karakter yang baik dalam penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

6. Yang paling penting lagi adalah mendidik anak-anak muda dan pelajar untuk mengasah keterampilannya dalam penggunaan bahasa baik secara lisan terlebih dalam memulai kebiasaan menumpahkan ide dalam suatu tulisan sehingga menulis sehingga menulis menjadi suatu kebiasaan bagi anak-anak Indoensia. Hal ini tentu salah satunya dengan mendorong upaya peningkatan kualitas pendidikan bahasa khususnya di sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Pemerintah harus mencari strategi dan memformulasi stimulus agar para pemuda dan mahasiswa menjadi gemar menulis.

Dengan demikian, perbaikan-perbaikan yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai salah satu atribut identitas nasional maka diharapkan masyarakat menggunakan Bahasa Indonesia dengan nyaman dan terbiasa menggunakan Bahasa yang baik dan digunakan secara benar. Pembiasaan ini diharapkan secara otomastis dapat membangun masyarakat yang peka terhadap rasa bersalah dalam penggunaan bahasa yang bemuara terhadap inisiatif untuk melakukan koreksi sendiri dengan penuh kesadaran dalam rangka menjaga identitas bangsa yang saat ini sering kali tidak disadari khususnya oleh generasi muda seperti penggunaan kata-kata yang tidak baku, penulisan yang tidak tepat misalnya mencampur huruf dengan angka, menulis kata-kata secara gantian antara huruf kecil dan huruf kapital dan sebagainya.

Menciptakan semangat menjaga identitas bangsa ini tentu saja tidak cukup dilakukan oleh pemerintah tetapi juga mesti dibangun kesadaran mulai dari kita dan keluarga. Keterbatasaan pemerintah sudah selayaknya dibantu dengan membangun kesadaran masyarakat yang dimulai dari mendidik diri dan keluarga terdekat yang pada dan akhirnya membangun kesadaran masyarakat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Akun Dinda Tidak Takut Komen Pedasnya Pada …

Febrialdi | 8 jam lalu

Prabowo Terancam Tidak Bisa Bertarung di …

Rullysyah | 8 jam lalu

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 18 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 18 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: