Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Andi Firmansyah

Seorang pendidik yang bertugas di Tanjung Balai Karimun Prov. Kepri Aktif menulis di beberapa forum yang selengkapnya

Tokoh-tokoh Sastrawan Dunia

OPINI | 09 September 2012 | 02:18 Dibaca: 10384   Komentar: 2   0

1. SIR WALTER SCOTT (1771 – 1832 )

Sir Walter Scott dilahirkan di Edinhburg, Scotlandia, 15 agustus 1771, meninggal 21 September 1832. Ia merupakan pengarang Inggris yang paling kesohor dalam membuka abad kesembilan belas dengan cerita-cerita romantic dan puisi naratif yang diangkat dari kisah-kisah sejarah. Dua karyanya yang paling popular adalah Waverly (1814) dan Ivanhoe (1820).

Masa kanak Scott tidaklah menyenangkan. Ia sering sakit-sakitan dan penderitaan itu harus ditanggung seumur hidup berupa kaki yang pincang. Oleh sebab itu, karya-karya awalnya dipublikasi bukan dengan namanya sendiri, sebagai akibat rasa rendah diri. Akan tetapi, karya-karyanya yang muncul setelah tahun 1825 menggunakan namanya, demikian pula pada karya-karya sebelumnya setelah mengalami cetak ulang.

Tahun 1802 – 1903 muncul karya awalnya yang cukup berkualitas yaitu tiga jilid balada yang diangkat dari cerita – cerita lisan Scotlandia. Karya – karyanya yang lain adalah Minstrelsy, Lay of the Last Minstrel (1805), Lady of the Lake (1810), Guy Mannering (1815), Old Mortality ( 1816), Rob Roy (1817), kumpulan puisi Rokeby (1813), Quentin Durward (1823), The Talisman (1825), Anne of Geierstein (1829).

Sebagaimana banyak pengarang kesohor yang mengalami kesulitan keuangan, Scott mengalami tahun 1826 yang menyebabkan ia harus menulis lebih banyak karya lagi. Karya-karya Scott menunjukkan latar belakang sejarah dan dunia lama oarng – orang Scotlandia dan Inggris. Karyanya yang terkenal yaitu Ivanhoe (salah satu favorit saya) berkisah tentang abad pertengahan di Inggris yaitu penggambaran konflik orang – orang Anglo Saxon dan orang – orang Normandia. Konflik itu diungkapkan dengan gaya bahasa yang khas dan sangat mengesankan sebagai pengarang romantic. Scott memperlihatkan kemampuan yang prima terutama penguasaannya atas bahan – bahan sejarah dan persoalan perwatakan.

Tokoh – tokoh seperti Ivanhoe, Cedric, Rowena, Isaac dan York menunjukka pengggambaran watak yang sangat mengesankan, dimana penggunaan antagoni dan protagonist dengan memperhatikan tokoh – tokohnya secara sosiologis sangat tepat dan kuat. Karya ini menunjukkan keunggulan Scott terutama dibandingkan dengan sejumlah karyanya yang lain, juga dari pengarang seangkatannya. Sebagai pengarang romantic, Scott meninggalkan pengaruh yang besar dan kuat kepada genberasi pengarang sesudahnya dimana karya – karyanya menjadi acuan dan contoh yang pas untuk bentuk sastra romantic.

2. EMILE ZOLA

Dilahirkan di Paris . Salah seorang sastrawan Prancis yang kesohor dari abad kesembilan belas. Emile Zola merupakan pelopor aliran Naturalisme, corak utama sastra Prancis abad XVII. Sukses pertamanya dimulai dari novelnya Theresa Requin (1867) dan puncak karyanya adalah novel Germinal (1885) yang diikuti oleh sejumlah karya yang kadangkala controversial, seperti Nana (1881) yang dianggap pornografis. Novel ini mengungkapkan gambaran prostitusi secara gamblang sehingga pelukisannya kadangkala terlalu terbuka. Namun Zola bukan menulis tentang pornografi karena yang ingin dikatakannya adalah masalah moral. Karyanya yang lain adalah Les Rougons –Macquart (1870), La Fortune des Rougons (1871), Le Ventre de Paris (1873), La Conquete de Plassans (1875), Son Excellence Eugene Rougon (1876), L’Assommoir (1877), La Debacle (1892), Les Trois Villes (1894), Les Quatre Evangiles (1894), Les Heritiers Rabourdin (1874), Renee (1887), dan L’ouragan (1901)

Disamping menghasilkan karya kreatif berupa fiksi novel dan drama, Zola juga menulis kritik, esai sastra dan sejumlah surat maupun pembelaan. Surat terbukanya yang merupakan pembelaan terhadap Alfred Dreyfus yang berjudul J’accuse (1898) merupakan pendapat yang berani dan tajam dalam membangkitkan rasa solidaritas yang tinggi. Akibat pembelaannya, ia harus menyingkir ke luar negeri selama setahun. Demikian juga kritik seninyayang lebih merupakan pembelaan terhadap karya-karya kaum impresionis seperti Eduard Manet dan lain-lain. Kedudukannya sebagai tokoh aliran naturalism makin kukuh setelah ia menerbitkan Roman Experimental (1881), Le Naturalisme au Theatre (1881), dan Romanciers Naturalistes (1881)

Menurut Zola, seni adalah alam yang dapat diindra melalui watak. Oleh karena itu, dalam novel Zola watak sangat diutamakan sehingga watak mampu menggambarkan setting, pikiran dan ide-ide dasar yang ingin disampaikan pengarang.

3. VICTOR HUGO (1802 – 1885)

Victor Hugo dilahirkan di Besancon, Prancis, 26 Februari 1802, meninggal 22 Mei 1885. Nama lengkapnya Victor Marie Comte Hugo, putra seorang jendral yang cukup terkemuka di zaman Napoleon. Ayahnya pernah menjadi gubernur di Spanyol dan Italia. Sejak usia lima belas tahun ia telah menulis puisi dan tahun 1817 mendapat pujian dalam sayembara yang diadakan Akademia Prancis dan tahun 1819 memperoleh hadiah sastra dari Academia des Jeux Floraux de Toulouse.

Hugo menduduki tempat terhormat dalam sastra Prancis karena karya – karyanya mendominasi hampir seluruh abad 19. Ia merupakan pemuka aliran roamntik, baik dalam puisi maupun dlam prosa. Tahun 1822 terbit kumpulan puisinya Odes et Ballades yang berhasil menarik simpati public. Tahun 1823 terbit novel pertamanya Han d’Islande meruakan buku hadiah perkawinannya dengan Adele Foucher (1822). Di rumah pasangan inilah tempat pertemuan kaum romantikus Prancis.

Drama yang pertama berupa epos Cromwel (1827) dan dramanya yang kesohor adalah Hernani (1830), Les Roi s”Amuse (1832), Marie Tudor (1833) dan Ruy Blus (1838).

Selama tujuh belas tahun sejak penerbitan pertama, ia telah menerbitkan sejumlah kumpulan esai, tiga novel dan lima kumpulan puisi. Masing – masing kumpulan puisinya adalah Les Orientalis (1828), Feuilles d’ Automne (1831), Les Voix Interiues (1828), dan Les Rayons et Les Ombers (1840), Sementara dua romannya yang sangat terkenal dan tentunya sangat memikat hati saya adalah Notre Dome de Paris (18310 dan Les Mirables (1862)

Melewati masa panjang dalam sejarah Prancis, Victor Hugo mengalami dan mengikuti kegiatan pemerintahan hingga saat rezim yang berkuasa jatuh dan ia ikut terusir. Namun pengalaman itu memperkaya wawasannya dalam kegiatan sastra. Sehingga masa pengasingannya ke luar negeri merupakan bagian dari kegiatannya belajar dan menulis hingga kembalinya ke Prancis setelah runtuhnya Kekaisaran Kedua (1870) dan berdirinya Republik Ketiga, dimana ia ikut ambil bagian dalam lembaga legislative. Meskipun dua decade terkhir kemtian orang – orang tercintanya, membuat ia tercambuk untuk menulis lebih banyak karya lagi. Ketika meninggal dunia, peti jenazahnya diarak dalam suatu prosesi nasional yang agung dari Arch de Triomphe ke Pantheon.

Karya – karya Hugo merupakan banyak karya yang banyak memberi pengaruh kepada sastra dunia, menjadi bahan polemic dan sumber inspirasi. Ia merupakan salah seorang sastrawan agung dan kenamaan abad kesembilan belas dan secara khusus memberi landasan yang kuat dan kokoh dalam aliran romantic. Ia menulis dalam sejumlah genre sastra.

4. ALEXANDER DUMAS

Dilahirkan di Prancis, 24 Juli 1802 dan meninggal 5 Desember 1870. Corak romantic yang dianut Dumas membawanya menekuni novel – novel sejarah dan kisah – kisah cinta yang memikat hati hingga karyanya abadi dalam dunia sastra. Diantara karyanya yang monumental dan menjadi favorit saya adalah The Three Musketeers, The Count of Monte Cristo dan The Man in The Iron Mask. Karya – karya ini menjadikan Dumas dicintai oleh rakyat Prancis.

Ayahnya adalah seorang jendral yang jatuh bersamaan dengan jatuhnya Napoleon, meninggalkan kesultan keuangan hingga meninggalnya tahun 1870. Meskipun anak jendral, Dumas tidak mendapatkan pendidikan yang baik karena kesulitan keuangan keluarganya. Lantas untuk menghidupi keluarganya ia menjadi juru tulis pada tahun 1818 dan terakhir ia bekerja pada Duke Orleans yang beberapa tahun kemudian menjadi Raja Louis Philip. Dalam tahun 1820-an, dibawah pengaruh Shakspeare dan Sir Walter Scott, ia menulis sejumlah lakon romantic melodramatic dengan gaya dan model kisah – kisah sejarah yang melahirkan Henri III et Sa Cour (1829), Antony (1831) dan La Tour de Nesle (1832).

Roman yang luar biasa, The Three Musketeers (1844) mengangkat nama Dumas sebagai pengarang dunia. Roman ini mencakup kisah sejarah selama lebih kurang lima puluh tahun, bermain dalam abad ketujuh belas, merupakan satu rangkaian dengan Twenty Years After.

Novel dan lakon yang ditulis Dumas menunjukkan watak dasar seni romantic yang kuat dan meskipun ia hanya menulis cerita – cerita panjang, Dumas memberi Inspirasi akan bentuk cerita pendek, meskipun dalam rentang waktu yang panjang.

Fiksi sejarah di dalam sejarah sastra dunia ditandai oleh Scott, Balzak dan Dumas yang menggali kisah – kisah sejarah secara meyakinkan dan kemudian abad sesudahnya dilakukan oleh Henryk Sienkiewics (1846 – 1916) dari Polandia, Par Lagervist (1891 - !974) dari Swedia, Boris Pasternak (1890 – 1960) dari Uni Sovyet, dan lain – lain. Namun, Alexander Dumas menduduki tempat khusus dari para penulis fiksi sejarah karena ia mengambil sudut pandang yang khas Prancis dari satu setting waktu.

Akhir hidupnya, pengarang kenamaan ini tidaklah seharum karya-karyanya. Ia berpulang secara mengejutkan dan misterius di rumah putranya Alexander Dumas Jr. seorang pengarang yang mengikuti jejaknya. Hanya sayang, Ibu putranya ini tak pernah dinikahinya sampai akhir hayatnya.

5. CHARLES DICKENS

Lahir di Landport, Inggris. 7 Februari 1812, meninggal di Gadshill, Rochester, 9 Juni 1870. Nama lengkapnya Charles John Huffmen Dickens, merupakan salah seorang pujangga ternama Inggris. Orang tuanya yang miskin dan kehidupan masa kanak-kanaknya yang suram tidak mematahkan semangatnya yang ingin maju.

Karir sastranya dimulai dari Catham dan kemudian di London dengan membuat sketsa-sketsa yang ditanda-tanganinya sendiri menggunkanan nama samara Boz. Merasa memiliki kemampuan yang cukup, ia menulis Pickwik Papers (1836) yang diselesaikan tahun 1837. Tahun 1838 ia menulis Oliver Twist (salah satu favorit saya) dan kemudian diteruskan dengan Nicholas Nickleby. Sukses kedua buku ini membuat ia memeruskan dengan karya-karya barunya seprti The Old Curiosity Shop (1841), Barneby Rudge (1841), Martin Chuzzlevit (1844), Christmas Books (1843-1848), Dombey and Son (1847-1848), David Copperfield (1849 -1850), Black House (1852-1853) dan A Tale of Two Cities (1859).

Pada dasarnya Dickens seorang sastrawan humoris. Kelucuan tokoh-tokohnya yang seakan ssok yang hidup itu mencuatkan keinginan pembaca untuk mengikutin kisah-kisahny yang unik. Pada awal karir kepengarangannya, Dickens memperlihatkan pengaruh realism, tetapi karya-karyanya yang lahir dalam kematangannya memperlihatkan bahwa ia cenderung bergeser pada aliran determinisme. Tendensi social dan simpatinya pada manusia muncul secara kuat meskipun tema kemelaratan dan kemiskinan di dalam beberapa karyanya menjadikan fiksi-fiksinya sentimental dan melodramatic.

Dickens adalah orang yang biasa hidup di kota dan paling menyukai jalan-jalan di kota London. Seorang humoris besar yang mengamati pribadi orang. Keampuhannya adalah melukiskan watak orang kurang berpendidikan yang dilukiskannya dengan kekuatan yang mengagumkan. Banyak novelnya membuat orang memperhatikan kondisi social yang menyedihkan pada zamannya.

Dickens merupakan nama yang abadi dalam sejarah sastra Inggris dan sejarah sastra dunia, karena karya-karyanya telah menjadi milik semua bangsa.

6. LEO TOLSTOY (1828-1910)

Dilahirkan di Yasnaya Polyana, Provinsi Tula, 28 Agustus 1828, meninggal pada 7 November 1910. Tolstoy ditinggal ibunya saat baru berusia dua tahun dan ditinggal ayahnya saat berusia 8 tahun. Kesengsaraan hidup dan penderitaan sebagai anak yatim-piatu itu memberi bekas dan warna dalam pola pikirnya sebagai sastrawan besar dunia.

Pendidikan dasarnya diselesaikan dengan susah payah walaupun ia sempat menuntut ilmu bahasa dan ilmu hukum di Universitas Kazan. Beberapa waktu sempat hidup secara Bohemian hingga ia bertemu dengan kelompok aristocrat muda dan bergabung dengan mereka. Pengaruh pikiran Rousseau membawa dirinya ke dalam suasana nasionalisme

Hingga ia menggabungkan diri dengan resimen artileri di Kaukasia (1851), yaitu suatu daerah yang terletak di antara laut Hitam dan Laut Kaspia.

Pengalamannya selama Perang Krim dan mempertahankan Sebastopol melahirkan Kisah-kisah Sebastopol. Cerita awalnya ini diikuti oleh buku Masa Kanak-kanak (Childhood), Masa Remaja (Boyhood) dan Masa Muda (Youth) yang mendapat sambutan luas. Tiga karyanya ini terbit antara tahun 1852-1857. Tahun 1859 ia menggagas berdirinya sekolah kaum miskin di kampong halamannya dan oleh berbagai pengalamannya di luar negeri, ia terapkan di sekolah yang dipimpinnya.

Tahun 1862 ia menikah dengan Sofia Andreyevna Behrs, gadis bangsawan yang lebih muda enam belas tahun darinya. Perkawinan itu dikaruniai tiga belas orang anak, namun perkawinan itu akhirnya berantakan karena perhatian Tolstoy sendiri lebih tercurah kepada kaum miskin. Bahkan sikapnya yang terlalu membela kaum miskin tidak disukai pemerintah. Terutama setelah ia menerbitkan bukunya Pengakuan (1882) yang menandai perubahan visi dan gaya hidupnya. Ia menanggalkan gelar kebangsawanannya, berpakaian seperti orang miskin dan menerbitkan buku-buku tipis agar kaum miskin dapat membaca. Pada akhirnya ia dikucilkan oleh pemerintah sampai menghembuskan nafas terakhirnya.

Diantara karya sastranya yang melimpah yaitu, Perang dan Damai (War and Peace) (1869), Anna Karenina(ini buku favorit saya juga)(1877) adalah merupakan puncak karyanya. Disamping itu ada juga, Catatan Seorang Gila (1884), Lelaki Tua(1886), Kematian Illyich(1885), Sonata Kruetzer(1889), Tuan dan Hamba (!895) dan Ressurection (!899).

Leo Tolstoy memang sastrawan yang serba bisa. Bahkan ia disanjung sebagai penulis estetika yang brilian. Ia seorang Filsuf yang amat dihargai selain sebagai novelis yang sukar dicari tandingnya. Sebagai raksasa sastra Rusia klasik, nama Leo Tolstoy memang abadi, di mana ia menulis karya-karya yang mampu membangkitkan rasa kemanusiaan meskipun untuk mencapai ideal humanisme demikian, ia harus membayar dengan mahal. Ia pernah mengalami hambatan pelarangan penerbitan karyanya dan rintangan fisik dengan pembatasan ruang geraknya di tanah airnya sendiri. Namun dunia mengakui pengaruhnya yang sangat luas dan kuat terutama dalam genre fiksi roman dan cerita pendek.

7. OSCAR WILDE (1854 – 1900)

DIlahirkan di Dublin, Irlandia, 16 Oktober 1854 dan meninggal di Paris, 30 November 1900. Nama lengkapnya Oscar Fingal O’Flaherine Wills, merupakan penyair, penulis drama dan cerita pendek Inggris-Irlandia.

Oscar Wilde dikenal karena serangannya terhadap kepicikan dan gaya hidup puas diri kaum Victorian. Ia selalu tampil perfeksionis dan menjunjung daya seni yang tinggi. Pengarang yang membela nilai estetika dengan karya-karya yang estetik ini juga membela ‘seni untuk seni’. Ia banyak menulis puisi yang beraliran simbolik dan cerita-cerita pendek yang diangkat dari tokoh-tokoh golongan menengah.

Mendapat pendidikan di Universitas Oxford, Oscar Wilde melejit lewat karyanya The Happy Prince and Other Tales (1888) yang berisi dongeng-dongeng perumpamaan. Tahun 1891 menyusul terbitnya novel Picture of Dorian Gray yang menggambarkan masyarakat Inggris – Irlandia masa itu. Tahun 1893 terbit karyanya yang diangkat dari alkitab yaitu Salome. Kisah tragis Yohanes Pembaptis ini ditulis dalam bahasa Prancis. Selanjutnya ia menulis sejumlah komedi social yang jenaka seperti Lady Windermere’s Fan (1892), A Woman of No Importance (1893) dan An Ideal Husband (1895)

Namanya kian melambung saat terbit mahakaryanya The Importance of Being Earnest (1895). Tahun 1895 ini merupakan puncak kemasyurannya, tetapi bersamaan ddengan itu ia dituduh terlibat homoseksual sehingga sering mendekam dalam penjara selama dua tahun (1895-1897). Namun hikmah pengalaman ini melahirkan puisi indah dan dianggap terbaik dari seluruh sajak yang pernah ditulisnya yaitu Ballad of Reading Goal (1898) dan sebuah otobiografi yang memikat diberinya judul De Profundis (1905), lima tahun setelah meninggal dunia

Dalam cerita pendek Oscar Wilde dinobatkan sebagai tokoh karena upayanya melanjutkan bentuk dongeng yang dimulai dari Grim Bersaudara, tetapi ia lebih mengembangkan dongeng-dongeng itu dengan bentuk perumpamaan seperti halnya dongeng-dongeng Jean de La Fontain (1621-1692).

8. RABINDRANATH TAGORE

Dilahirkan di Calcutta, 7 Mei 1861, meninggal di Santi-Niketan, 7 Agustus 1941. Merupakan sastrawan Asia pertama peraih Hadiah Nobel Satra (1913). Tagore bukan hanya seorang penyair tapi merupakan suara pada zamannya. Dunia mengakuinya sebagai suara spiritualis India dam masyarakat India menyebutnya legendaris yang pernah hidup. Ia menulis beberapa genre sastra seperti cerita pendek, novel, drama dan puisi. Karya puncaknya adalah Gitanjali (Song Offerings) (1910) yang membuat ia meraih Hadiah Nobel Sastra. Disamping Gitanjali, Ia juga menulis sekitar 3000 puisi lainnya, sekitar 2000 nyanyian, delapan novel, empat puluh jilid esai dan beberapa kumpulan cerita pendek serta 50 judul lakon. Ia merupakan penulis yang subur dan mampu memelihara dunia kreatif dalam jangka panjang diselingi berbagai kegiatan dan kerja yang berbeda-beda.

Mula-mula ia mendapat pendidikan dirumah dan dilanjutkan dengan pendidikan formal dalam bidang hukum di Inggris (1878-1880). Namun pendidikan formal ini tidak diselesaikan dan setelah kembali ke India ia sangat tersentuh oleh kemiskinan dan rendahnya pendidikan. Tahun 1901 ia mendirikan lembaga pendidikan alternative Santiniketan, sebagai upaya meningkatkan sumber daya manusia. Tagore bukan hanya sastrawan ternama, ia juga seorang patriot, pejuang kemanusiaan, ahli sastra, komponis, ahli pendidikan, pelopor perubahan social dan pelukis. Lirik-lirik Tagore bercorak ketuhanan dan puisi-puisinya yang relijius universal itu mampu menyentuh hati dan perasaan kemanusiaan manusia di seluruh muka bumi. Sebuah puisinya “Janaganamana” diaransemen musiknya oleh H.Nuril dan menjadi lagu kebangsaan India.

Sejak tahun 1890 telah terbit karya-karya liriknya yang indah seperti Manasi(1890), Sonar Tari (1894), Gitimalya(1914), A Flight of Swans (1914) dan novel Gora (1910), berikut sejumlah kumpulan cerita pendek dan lakon seperti Sacrifice (1890), The King of The Dark Chamber (1910), Chitra (1892), Post Office (1912), Ghare Baire (1916), Yogayog (1929). Pada akhir hayatnya ia menulis drama tari berjudul Shyama (1939) yang menampilkan persoalan keagamaan.

Karya-karya Tagore memperlihatkan symbol alamnya yang murni dikombinasikan dengan suasana relijius. Cinta dan kemanusiaan bersatu dalam komposisi yang dinyatakan dengan indah. Meskipun ia juga terjun ke dunia politik dan social, puisi-puisinya mampu berdiri kukuh dalam bentuk yang utuh tanpa dicemari oleh protes yang melengking dan goncangan kehidupan yang bobrok. Ia amat tenang dan seperti arus yang mengalir dari bawah, tidak memperlihatkan riaknya di permukaan, tetapi semua karyanya menyayat dasar jiwa pembacanya, membawa renungan tentang kehidupan, renungan tentang masyarakat, bangsa dan Negara. Tagore bukan hanya berbicara tapi juga ia pelaku pejuang kemanusiaan.

9. RUDYARD JOSEPH KIPLING (1865-1936)

Lahir di Bombay, 3 Desember 1865, meninggal 18 Januari 1936 di London. Pandangan colonial Kipling sangat kuat terlukis dari sajaknya “Balada Timur dan Barat”. Sajak ini sangat masyur meskipun sebenarnya Kipling lebih menukik pada hal-hal yang transedental bukan pada kondisi fisik antara manusia barat dan timur. Tetapi sikap pemikiran colonial yang terjelma dalam sajak itu membuat Kipling dapat disebut juru bicara barat dalam mempertahankan kolonialisme.

Masa kanak-kanak Kipling sangat tertekan karena untuk mendapatkan pendidikan yang baik, orang tuanya mengirimkan Kipling dan saudara perempuannya ke Inggris. Ia tinggal dengan keluarga pensiunan angkatan laut yang sangat ketat dan menganggap membaca fiksi adalah dosa. Namun untung ia mendapat sebulan penuh dalam setahun untuk liburan di rumah bibinya, Nyonya Burne Jones. Di rumah bibinya ia bisa mengembangkan bakat menulisnya lewat bacaan dan menggambar. Pengalaman masa kanak-kanak diluiskannya dalam Baa, Baa Black Sheep. Tahun 1878 ia masuk United Srvice College Divonshire, dimana ia banyak mendapat dorogan dari kepala sekolahnya dalam hal bersastra. Sejumlah puisi dari masa kanak-kanaknya diterbitkan ayahnya dan sejumlah cerita dari masa remajanya diterbitkan dalam Stalkey and Co.

Tahun 1882 ia kembali ke India. Lama ia bermukinm di Lahore, kemudian di Allahabad memegang mingguan Civil and Military Gazzete. Pengalaman peliputannya dihimpun dalam Departemental Ditties (1886), Soldiers Three (1888) dan Palin Tales from the Hill (1888). Tulisan-tulisan ini pernah dipublikasi secara fragmentasi. Tahun 1889 ia kembali ke Inggris dan sudah dikenal sebagai sastrawan. Tahun 1891 terbit The Light that Failed dan tahun 1892 terbit Barrack Room Ballad dan tahun itu juga ia menikah dengan gadis Amerika bernama Caroline Starr Bolestier dan tinggal di Vermont, tempat ia menulis The Jungle Book (salah satu favorit saya yang lain) (18940 dan Captain Courageous (1897).

Karena berselisih paham dengan iparnya, Kipling kembali dari Amerika ke Inggris. Tahun 1901 terbit novelnya Kim, tahun 1902 terbit The Just So Stories dan tahun 1904 terbit Puck of Pook’s Hill. Sebelumnya tahun 1897 ia menerbitkan Recessional suatu peringatan akan perkembangan imprealisme. Pengalaman hidup di tiga benua, Asia, Eropa dan Amerika ditulisnya dalam From Sea to Sea. Tentang dirinya sendiri ditulisnya otobiografi yang hampir selesai saat ia meninggal dan diberi judul Something of Myself.

10. MAXIM GORKY (1868-1936)

Lahir di Nizymij Nowgorod, Rusia, 28 Maret 1868 dengan nama sebenarnya Aleksey Maximovich Peskhov dan meninggal secara misterius di Gorky, 18 Juni 1936. Meskipun lahir dari golongan miskin, Gorky memperkaya wawasannya secara otodidak sehingga ia menjadi pengarang terkenal. Namanya mulai mencuat ketika terbit dua kumpulan cerpennya pada tahun 1898 dan satu lakonnya, Suaka Malam, yang terbit tahun 1902. Akan tetapi, Karya utamanya The Mother (ibu) yang terbit tahun 1906 benar-benar melambungkan namanya sebagai pengarang terkemuka dalam sastra Rusia. Pada 1906 itu juga ia menulis City of the Yellow Devil, yang menjadi polemic di Amerika Serikat.

Sejak 1906 hingga 1913 ia tinggal di Pulau Capri. Menurut catatan beberapa sumber, ia pernah diasingkan karena menentang Tsar dalam revolusi 1917. Saat di Pulau Capri ia menulis beberapa karya yang cukup berharga seperti The Small Town Okurov (1909), The Life of Kozhemyakin (1910) serta novel semi otobiografi bagian pertama My Childhood (1913), yang diikuti dengan In the World (1915) dan My Universities (1923). Dalam rangkaian karya-karya ini ia menulis beberpa karya sastra diantaranya Foma Gordeyev (1899), Enemies(1906), V.I. Lenin (1924), The Artamonov Affair (1925), Egor Bulychov and Others (1932). Tahun 1905 terbit bukunya mengenai sejumlah pengarang Rusia terkemuka Reminiscenes of Tolstoy, Chekov and Andreyev, berikut bebrapa jilid novelnya tentang Rusia dalam beberpa decade yang diberinya judul The Life of Klim Sangin.

Sebagaimana banyak pengarang dunia, Gorky juga sering bepergian ke luar negeri dan hal itu membawa pengaruh pada pandangannya terhadap masyarakat dan penilaiannya terhadap pemerintah. Sebagai pengarang yang dikahirkan dari kelas paling bawah, Gorky sangat memahami kondisi dan perasaan orang-orang lemah, papa dan menderita sehingga Gorky sering disebut sebagai Bapak Pengarang Proletar yang dalam bahasa kerennya Bapak Realisme Sosialis, karena karyanya dapat diterima di kalangan penguasa sebab dianggap mewakili persepsi dan politik pemerintah.

Meskipun ia tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi, peranannya di dalam pemikiran sastra sangat dihargai. Disamping Pushkin dan Chekov, Gorky merupakan ciri khas sehingga mereka disebut pelopor.

11. JACK LONDON ( 1876 – 1916)

Nama lengkapnya John Griffith London, dilahirkan di San Fransisco, Amerika Serikat, 12 Januari 1876, meninggal 22 November 1916. Karya – karya Jack London ditandai dengan tokoh-tokoh manusia dan hewan yang digarapnya dengan cara yang indah dan meyakinkan.

Jack London menulis alam buas dengan segala aspeknya yang menarik yaitu, The Son of the Wolf (1900), The God of His Father (1901), Children of the Frost (1902), The Crusie of the Dazzler (1902), The Call of the Wild (1903), Tales of the Fish Patrol (1905), The Sea Wolf (1904), The People of the Abyss (1903), White Fang( novel favorit saya) (1906), The Road (1907), Love of Life (1907), The Iron Heel (1908), Martin Eden (1909), Smoke Bellew (1912).

Kekuatan utama Jack London ada pada keahliannya melukiskan alam bebas yang liar menjadi sangat hidup dan memikat. Di dalam alam buas itu dilukiskan bagaimana binatang saling menyerang dan mempertahankan diri dan manusia mengatasi alam dan binatang buas yang setiap saat mengancam.

12. FRANS KAFKA ( 1883 – 1924)

Frans Kafka dilahirkan di Praha ibukota Cekoslovakia, 3 Juli 1883, wafat di Wina ibukota Austria, 3 Juni 1924. Kafka merupakan penulis terkemuka di abad kedua puluh. Berdarah Ceko-Yahudi, memperlihatkan suatu corak unik dalam sastra dunia.

Pengungkapan sastra Frans Kafka adalah pembeberan sebuah dunia. Bentuk ini baru dalam sastra dunia. Kafka membawa sebuah dunia baru tanpa penafsiran tapi menyajikannya sebagai kenyataan.

Masa muda Kafka ditandai dengan sifat pemalu dan pemurung. Hidupnya selalu dicekam ketakutan dan kesepian. Tak banyak karyanya yang diterbitkan selagi dia hidup. Umumnya banyak karyanya yang diterbitkan setelah dia meninggal berkat upaya kawannya yang bernama Max Brodi (1884 – 1968). Puisi, cerpen, drama, bahkan beberapa cerita panjang ditemui setelah dia meninggal. Akan tetapi semua karya Kafka menunjukkan menunjukkan suatu kekuatan diam yang muncul sebagai arus lahar yang begitu kuat. Penyajian pertentangan watak-wataknya mencirikan pertentangan pribadinya dengan orang tuanya, juga pengungkapan terhadap lingkungan hidup masyarakat Yahudi di Praha.

Di dalam karya Kafka muncul absurditas yang mencirikan aliran absurdisme. Tragedi demi tragedy nasib manusia dilukiskan dengan tenang dan dingin, sementara dilain sisi, Kafka juga mencirikan aliran ekspresionime yang berusaha mencari dan menemukan kekebasan mutlak sebagai arti dari kehadiran dan kemerdekaan.

13. ERNEST HEMINGWAY (1899-1961)

Ernest Hemingway dilahirkan di Oak Park, Illinois, Amerika Serikat, 21 Juli 1899, meninggal di Idaho, 2 Juli 1961, dengan cara menembakkan senapan berburunya ke kepalanya sendiri. Ia merupakan pengarang besar dunia asal Amerika Serikat dan pernah dijuluki sebagai “ rasul generasi yang hilang”.

Nama lengkapnya Ernest Miller Hemingway, memulaikarirnya dibidang Jurnalistik di surat kabar Kansas City Star setelah ia lulus SMA, 1917. Salah satu laporannya yang sangat menarik dan kemudian mengangkat dirinya sebagai pengarang adalah laporan mengenai kebakaran. Ia kemudian ikut mobilisasi militer dalam perang dunia I, meskipun hanya sebagai sopir ambulan.

Ia kembali menekuni bidang jurnalistik di Toronto Star Weekly (1919)dan menikah tahun 1921. Ia kemudian dikirim ke Eropa untuk meliput berbagai kegiatan di benua ini. Kemudian ia mengembara ke berbagai Negara di Afrika sampai menetap di Kuba hingga akhir hayatnya.

Pada mulanya Ernest adalah penulis cerpen. Ia menerbitkan kumpulan cerpen seperti, In Our Time (1925), Men Without Women (1927), dan Winner Takes Nothing (1933). Namanya mulai menanjak sejak novel perdananya The Sun Also Rises (1926) yang kemudian diikuti oleh novel-novel selanjutnya seperti A Farewel to Arms (1929), Death in the Afternoon (1932), For Whom the Bell Tolls (1940), dan puncak karyanya The Old Man and The Sea (1952). Ia memiliki tiga putra dan memenangkan hadiah Nobel Sastra tahun 1954.

Banyak kritikus sastra dunia menilai bahwa karya-karya Hemingway melahirkan pesimisme. Sebab fiksi-fiksi Hemingway sesuai dengan keadaan zaman yang tanpa harapan. Ia adalah saksi dari rasa sakit, penderitaan, kelaparan, putus asa, kematian dan kehancuran. Novelnya The Old Man and The Sea jelas menunjukkan bahwa kekuatan manusia itu sia-sia. Alam semesta pun tak mampu melawan kekuatan yang menciptakannya. Semua berujung pada kehampaan dan kesia-siaan. Sebagaimana perjuangan seorang nelayan tua yang memaksa seekor ikan besar takluk ditangannya sementara lelaki tua itupun harus takluk pula pada kemauan alam hingga daging ikan tersebut tak sampai kedarat, habis digerogoti oleh hewan pemangsanya. Yang dibawa nelayan tua itu hanya tulang-tulang sebagai symbol Fatalisme, Pesimisme dan Sinisme.

14. JOHN ERNST STEINBECK (1902-1968)

John Ernst Steinbeck dilahirkan di lembah Salinas, California, Amerika Serikat, 27 Februari 1902, meninggal 20 Desember 1968 di New York City. Ayahnya seorang keturunan Jerman yang bekerja sebagai bendaharawan dan ibunya keturunan Irlandia. Ia pernah belajar dalam bidang Biologi laut di Universitas Stanford (California) antara tahun 1902-1926, tetapi tidak lulus. Pernah bekerja sebagai buruh dan beberapa macam pekerjaan sembari terus berlatih menulis. Pekerjaannya sebagai tukang batu, tukang kayu, sopir, pelukis dan wartawan mewarnai novel-novel yang dihasilkannya. Tahun 1929 lahir novel pertamanya Cup of the Gold yang diikuti oleh cerpen The Pasteur of Heaven (1932) dan novel kedua To the God Unknown (1933). Menyusul novelnya yang memikat hati tentang suatu kehidupan di suatu dataran tanjung berjudul Tortilla Flat terbit tahun 1935. Tahun 1936 muncul novelnya In Dobiuos Battle dan Of Mice and Man (1937), The Grapes of Wrath (1939), Novel ini menghasilkan hadiah Pulitzer tahun 1940. Tahun 1942 terbit novel propaganda , Moon is Down.

Karya-karya yang lain, Cannery Row (1945), The Wayward Bus (1947), The Pearl (1948), The Red Pony (1949), Burning Bright (1950), The Log of The Sea of Cortez (1951), East of Eden (1952), Sweet Thursday (1954), The Short Reign of Pipin IV: A Fabrication (1957), Once There Was a War (1958), The Winter of Our Discontent (1961), Travels with Churley in search of Amerika (1962), dan America and Americans (1966).

Karyanya yang diterbitkan setelah ia meninggal dunia adalah The Act of King Arthur and His Noble Knights (1976), dan Working Days: The Journal of the Grapes of the Wrath (1989). Steinbeck juga menulis scenario film dan dua cerita yang ditulisnya untu

Film berjudul Forgotten Village (1941) dan Viva Zapata! (1952).

15. JEAN –PAUL SARTRE

Jean Paul Sartre dilahirkan di Paris, Prancis, 21 Juni 1905, meninggal di Paris, 15 April 1980, merupakan pemenang hadiah Nobel Sastra, 1964.

Pada dasarnya Jean Paul Sartre merupakan tokoh filsafat eksistensialisme, suatu aliran filsafat yang subur di Eropa setelah Perang Dunia II. Dalam karya-karyanya yang berupa novel, drama, esai, dan cerita pendek, ia menjelaskan teorinya bahwa hidup ini tidak mempunyai arti diluar yang diinginkannya sendiri.

Latar belakang filsafat eksistensialisme ini ada hubungannya dengan latar belakang Sartre sendiri. Ayahnya seorang perwira Angkatan Laut Prancis yang tewas di Indocina. Ibunya menikah lagi saat ia baru berusia 11 tahun. Fisiknya sangat lemah, karena itu ia sangat sensitive. Disekolah, ia jadi bahan cemoohan oleh anak-anak yang lebih kuat tapi di sayang guru-gurunya karena cerdas. Namun ia merupakan anak yang suka menyendiri dan berkhayal. Tahun 1926 ia menempuh ujian Sarjana Muda dan ujian untuk menjadi Dewan Pengajar tahun 1928 gagal. Ujian untuk menjadi anggota dewan Pengajar itu baru dapat dilewatinya setelah tahun 1929 setelah melewati ujian ulangan. Setelah melewati wajib militer sebagai juru rawat, ia menjadi Guru Besar di Lyceum Le Havre. Tugas ini dijalankan sejak 1931 hingga 1933, karena ia melanjutkan studi di Husseri, Berlin. Tahun 1934-1936 ia kembali mengajar di Lyceum Le Havre dan tahun 1937-1939 ia mengajar di Lycee Pasteur di Paris. Pernah tertawan dalam Perang Dunia II (21 Juni 1940) tetapi kemudian dibebaskan. Tahun 1942-1944 ia mengajar Lycee Pasteur dan Lycee Condorcet.

Sejak kanak-kanak Sartre memang penuh imajinasi. Pada usia 8 tahun ia menerbitkan L’Ange du Murbide yang disusul dengan L’Imagination (1936) dan La Transcendence de L’Ego. Tahun 1934 terbit juga L’Etre et le Neant yang menasbihkan dirinya sebagai filsuf dengan cara berpikir yang khas.

Karya-karyanya yang meninjukkan pemikiran Eksistensialisme adalah: La Nause, Les Main Sales, Les Sequestres d’Altona, Huis Clos, Les Mots, Les Mouches, Morts sans Sepulture, Le Diable et le Bon Dieu, Les Chermins de la Liberte

16. ALBERT CAMUS (1913-1960)

Albert Camus dilahirkan di Mondovi, Aljazair, 7 November 1913, meninggal dalam kecelakaan mobil di dekat Petit-Villeblevin, 4 Januari 1960.

Keiskinan dan penderitaan di tempat kelahirannya dan kematian ayahnya dalam Perang Dunia I di Marne memberi dampak serius dalam karya sastranya. Setelah menyelesaikan SMA (1930), tahun 1933 ia menikah, tapi hanya bertahan setahun. Akibat terkena TBC ia tidak dapat melanjutkan pendidikan akademik dan penyakit itu selalu merongrong jiwanya. Itu sebabnya ia meninggalkan Partai Komunis tahun 1950. Tahun 1937 ia memasuki dunia kewartawanan. Tahun 1938 ia meninggalkan Aljazair dan menuju Paris.

Buku-bukunya menunjukkan aliran sastra yang dianutnya yaitu absurditas, yang dimulainya dengan esai filsafatnya yaitu Le Mythe de Sisyphe (1942) dan disusul dengan tiga serangkai novelnya, L’Etranger (1942), La Peste (1947), dan La Chute (1956).

Tags: sastra tokoh

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 11 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 13 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 7 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 7 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Indonesia Tangguh (Puisi untuk Presiden …

Partoba Pangaribuan | 8 jam lalu

UU Pilkada Batal Demi Hukum? …

Ipan Roy Sitepu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: