Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Bahasa Indonesia:Kecintaan & Kebanggaan

REP | 06 September 2012 | 22:18 Dibaca: 268   Komentar: 0   0

“Sok pakai baso Indonesia lo bagai! Pakai baso Minang se lah (Sok menggunakan bahasa Indonesia segala, pakai bahasa Minang saja lah!)” begitu ledekan teman-teman sebaya jika diantara kami anak-anak kampung ada yang iseng menyelipkan beberapa patah kata atau kalimat dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan bahasa Indonesia dilingkungan pergaulanku saat masih bocah dianggap hanya milik orang yang berasal dari kalangan berada dan terpelajar. Bahkan bahasa Indonesia dianggap sebagai sebuah identitas yang membedakan antara anak orang kaya dan terpelajar dengan anak kampung kalangan biasa. Jika ada seseorang yang menggunakan bahasa Indonesia, itu akan dianggap sebagai usaha meninggikan derajat di antara teman-teman.

Bertahun-tahun setelah aku meninggalkan SD, SMP dan SMA, bahasa Indonesia tetap masih diangggap memiliki derajat tinggi yang biasanya digunakan oleh kalangan terbatas. Ada dua jenis bahasa percakapan atau bahasa tutur yang digunakan, yaitu bahasa Indonesia formal dan bahasa Indonesia non formal. Kedua jenis bahasa Indonesia yang dituturkan ini memiliki tempat, waktu dan penuturnya sendiri.

Pemakaian bahasa Indonesia yang mengacu pada Ejaan Yang Disempurnakan ( EYD) sudah diajarkan sejak Sekolah Dasar, namun prakteknnya dalam percakapan sehari-hari hanya digunakan dalam lingkungan formal seperti saat berbicara pada guru dalam lingkungan akademis, saat rapat atau seminar dan pada kegiatan-kegiatan serius lainnya. Jenis yang kedua adalah bahasa Indonesia non formal dengan dialek Jakarta. Inilah bahasa yang lebih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari di kalangan anak muda. Bahasa Indonesia non formal dialek Jakarta ini memberikan sebuah pencitraan yang metropolis bagi penuturnya. Dan kalangan muda di daerah beranggapan bahwa bahasa Indonesia metropolis ini lebih dinamis, ekspresif dan atraktif karena bisa diikuti oleh mimik atau bahasa tubuh lainnya sehingga lebih persuasif dan cocok digunakan dalam bahasa pergaulan.

Coba bandingkan dua kalimat dibawah ini:

· Di manakah kamu membeli tas itu? Terlihat bagus sekali.

· Di mana sih, kamu beli tas itu? Keliatannya bagus banget.

Kita pasti bisa membayangkan bagaimana ekspresi dan gaya orang yang menyampaikan kedua kalimat di atas. Pada kalimat pertama, imajinasi kita melihat seseorang yang formal, kaku dan berjarak dengan lawan bicaranya. Perhatian yang diberikan kepada si empunya tas mengedepankan etika berbasa-basi. Sedangkan pada kalimat kedua, pertanyaan si penanya lebih akrab, apa adanya dan tidak berusaha menjaga jarak dengan lawan bicara.

Coba anda perhatikan contoh kalimat pengantar dari seorang penyiar radio di daerahku yang mengadaptasi gaya bicara anak muda Jakarta berikut ini:

Halo kawula muda yang lagi pantengin 106.85 Efem! Gue bakal ngajak elo buat nikmatin lagu-lagu keren dan asyik punya milik Van Halen dalam ajang Rock In Action selama 2 x 30 menit ke depan! Gue terima request lo-lo di nomer xxxxxx buat yang pengen nyalamin sohib, pacar atau siapa aja yang spesial , so konsenin terus 106.85 Ef Em !

Pengantar dari seorang penyiar radio lain yang mengacu pada bahasa Indonesia yang baik ala penyiar RRI di daerahku:

Selamat siang saudara, dimana saja anda berada saat ini. Jam sudah menunjukan pukul 12 Wib. Saatnya bagi anda untuk beristirahat sejenak dari aktivitas yang menyita banyak energi. Kami akan menghadirkan lagu-lagu nostalgia yang akan menemani waktu istirahat siang anda. Selamat menikmati dan semoga anda terhibur.

Pada contoh pertama, segmentasi pendengarnya adalah anak muda. Bahasa yang dituturkan oleh penyiarnya memberi kesan akrab, tanpa basa-basi dan apa adanya. Dan tentu saja bahasa Indonesia yang digunakan jauh dari standar EYD. Sementara pada contoh kedua, segmentasi pendengar yang dituju adalah kalangan dewasa. Dari pemilihan kata dan redaksional kalimatnya terkesan santun berbasa-basi. Kedua gaya bertutur di atas memiliki waktu, tempat dan komunitas masing-masing. Tidak akan tertukar satu dengan yang lainnya. Bahkan jika ada kelompok usia dewasa dan mapan masih menggunakan gaya bertutur anak muda, tentu mereka akan dianggap aneh dan tidak pantas. Norma sosial pasti akan mencelanya. Begitu juga sebaliknya, jika ada anak muda bertutur laksana orang dewasa mapan, tentu dia akan dicemooh sebagai anak muda jadul, sok tua, kuper, cupu dan julukan lainnya.

Saya juga melihat kecenderungan orang-orang masa kini lebih memilih mengajarkan anak-anak mereka berbahasa Inggris sejak dini. Memang menyenangkan mendengar bocah-bocah mungil itu sudah fasih ber-cas-cis-cus. Dan tentu juga sangat membanggakan jika kelak mereka tidak gagap bergaul dengan masyarakat internasional. Namun kebanggaan itu tidak akan bermakna jika sejak dini kita tidak mengajarkan anak-anak kita mencintai dan bangga sebagai bangsa Indonesia. Baru sekarang saya menyadari betapa mengagumkannya sikap pak Harto. Di negara manapun beliau berpidato selalu menggunakan bahasa Indonesia. Dulu, saya beranggapan mantan presiden dari orde baru itu tidak bisa berbahasa Inggris.

Kecintaan saya berbahasa Indonesia sama besarnya dengan kecintaan saya berbahasa daerah (Minang). Saya menggunakan bahasa Minang di mana saja saya berada dalam komunitas sesama orang Minang, rasanya kurang afdhol jika tidak berbahasa Minang dengan sesama orang Minang karena itu merupakan identitas kami sebagai orang Minang di antara suku-suku lain di nusantara. Saya pikir, begitu juga dengan suku-suku lainnya. Ketika dua orang Batak saling bertemu mereka menggunakan bahasa Batak. Ketika beberapa orang Jawa saling bertemu, mereka menggunakan bahasa Jawa. Dan begitu orang-orang dari berbagai suku lain saling bertemu, maka bahasa Indonesia menjadi pilihan utama.

Saya menggunakan bahasa Indonesia di antara gempuran bahasa asing yang mulai mendominasi pergaulan saya sehari-hari, termasuk pekerjaan saya di dunia radio yang juga terimbas bahasa Inggris yang entah bagaimana dianggap keren dan mewakili kaum menengah atas yang menjadi segmentasi radio di mana saya bekerja. Rasanya sebuah judul acara tidak terkesan hebat jika tidak mengunakan bahasa Inggris. Sekarang setelah tidak bekerja di radio lagi, saya suka geli mendengar ada penyiar menyebutkan posisi radionya sebagai The best radio In town, more than just music atau acara kirim-kirim salam pilihan pendengar dengan judul You want it you get it , request time dan lain-lainnya. Belum lagi gaya bicara penyiarnya yang selalu menyelipkan bahasa Inggris di setiap kesempatan seperti contoh berikut ini:

Hai boy & girls, nggak terasa gue udah nemenin kamu-kamu selama lebih 2 jam dalam ajang Indonesia Hitlist. 20 singel Indonesia paling Hit dalam sepekan terakhir. Don’t go Anywhere, after this kamu bakal ditemenin sobat saya Natasha dalam ajang Your Diary. So keep listening to One O Six point Eighty five Efem … and Check this one out ..! Bye Now…Misi Ah..

Gaya berbahasa yang acak-adul itu berkembang subur. Apakah itu sebuah kesalahan? Siapa yang berhak mengatakan itu sebuah kesalahan bertutur dan berbahasa? Apakah pakar bahasa? Saya sarankan tidak usah diambil serius. Itu cuma sebuah trend mode yang hilang-timbul dalam masanya masing-masing. Tidak bertahan lama. Lalu kenapa banyak pihak yang khawatir jika bahasa Indonesia yang telah kita pelajari sejak Sekolah Dasar dulu akan dirusak oleh beragamnya cara bertutur dan pemilihan kosa kata yang berkembang di masyarakat? Saya pikir, kita tidak perlu khawatir berlebihan atau malah mencemoohkan bahasa dan gaya bertutur aneh bin ajaib milik sekolompok orang-orang yang mengklaim diri mereka anak gaul atau anak alay atau bahkan kelompok orang-orang menengah atas yang sudah mengajarkan anak-anak mereka berbahasa Inggris sejak dini? Keberadaan bahasa dan gaya bertutur yang mereka gunakan justru menjadi penyeimbang bagi bahasa Indonesia yang bagi sebagian orang dianggap kaku, kurang ekspresif dan ketinggalan zaman. Bahasa Indonesia tidak perlu harus imun terhadap virus yang berwujud bahasa gaul, bahasa prokem, bahasa plesetan atau bahasa asing sekalipun selama masyarakat Indonesia memiliki kebanggaan yang solid sebagai bangsa Indonesia. Selama bangsa Indonesia memiliki harga diri dan martabat, selama itu pula bahasa persatuan dan kesatuan kita akan tetap hidup. Karena menurut saya, kebanggaan menjadi bangsa Indonesia akan melahirkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Jadi bukan bahasanya yang harus diproteksi terhadap serangan virus bahasa, tapi kebanggaan sebagai orang Indonesia lah yang harus terus dipupuk dari generasi ke generasi. Jika kecintaan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia tertanam di hati setiap orang, maka selalu ada cara terbaik dan menarik untuk mempelajari bahasa Indonesia dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari Di sinilah dibutuhkan kreativitas anak bangsa untuk terus berbahasa Indonesia tanpa harus merasa kurang keren, tidak gaul atau jadul.

***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 4 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 5 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 7 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Ada Esensi Pembelajaran Hidup dalam Lagu …

Yunety Tarigan | 8 jam lalu

Aplikasi Info KRL Anti-ketinggalan Kereta …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Review “The Giver” : Kegagalan …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi AFTA …

Ira Cahya | 8 jam lalu

Brisbane akan jadi “Ibu Kota …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: