Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Jonminofri Nazir

Menulis saja. Juga berfikir, bersepeda, dan senyum. Serta memotret.

Greeting Kita yang Menyeramkan: Semoga Selamat Sampai di Tujuan

REP | 05 September 2012 | 15:35 Dibaca: 3382   Komentar: 5   4

13468159882008457853

“Salam” atau greeting adalah hal yang menyenangkan. Baik bagi yang mengucapkan, maupun bagi yang mendengarkan. Memberi ‘salam’ kepada orang lain, juga memberikan kesan bahwa yang mengucapkan salam adalah orang yang ramah, sopan, menyenangkan, dan akrab.

Coba bayangkan ini ketika Anda berangkat ke luar kota dan mendengar salam begini dari teman Anda atau keluarga,”Semoga selamat sampai di tujuan.”

Kalau teman Anda berbahasa Inggris, mungkin dia akan mengucapkan,” Hava a nice trip.”

Di buku pelajaran bahasa Inggris, ungkapan “Semoga selamat sampai di tujuan” sering diterjemahkan menjadi,”Have a nice trip.”

Begitu juga sebaliknya.  Buku berbahasa Inggris yang memuat kata “Have a nice trip” sering diterjemahkan menjadi “Semoga selamat sampai di tujuan.”

Greeting memang begitu. Kadang-kadang kita mengabaikan artinya, yang penting tepat pengucapannya. Jika selamat pagi, kita sebut di pagi hari. Selamat malam disampaikan ketika matahari sudah terbenam. Selamat siang, ketika matahari terang benderang di atas kepala. Jika Anda mengucapkan salam itu tak sesuai dengan waktu, baru jadi masalah.

Sekarang mari kita  cermati arti  salam di Indonesia yang diucapkan ketika akan berangkat pergi: SEMOGA SELAMAT SAMPAI TUJUAN.

Betapa seramnya greeting yang mengandung doa tersebut.  Seram dalam arti, pilihan kita sampai di tujuan adalah ‘selamat’ atau ‘tak selamat’. Seramkan?

Bandingkan dengan salam dalam bahasa Inggris,’Have a nice trip’. Kita menerima doa, semoga perjalanan kita menyenangkan. Kalau doa dia tak terkabul, yang terjadi adalah perjalanan kita tak menyenangkan. Jadi, asumsinya, dalam bahasa inggris, soal keselamatan tak perlu dipersoalkan lagi. Sudah pasti selamat sampai di tujuan. Yang jadi soal adalah apakah perjalanan yang meskipun selamat itu akan menyenangkan atau tak menyenangkan bagi kita.

Sekali lagi, ini berbeda banget dengan salam dalam bahasa Indonesia: kita akan selamat atau tak selamat sampai di tujuan. Seram kan? Jadi, dalam perjalanan Indonesia, keselamatan aja belum pasti, apalagi perjalanan menyenangkan.

Nah, tapi saya kira, greeting kita “semoga selamat sampai di tujuan” masih relevan. Sebab, memang tak ada kepastian aapakah kita selamat sampai di tujuan atau tidak?

Coba perhatikan data kasar di bawah ini:

- Selama mudik kemarin, 900 nyawa melayang. Artinya hampir 1000 orang yang tak selamat sampai tujuan mudiknya. Jadi, doa ‘semoga selamat sampai di tujuan’ masih oke

- Perhatikan lalu lintas di Jakarta, bagaimana angkutan umum di jalan raya, berhenti mendadak, sepeda motor melawan arus. Ketika jalan, tiba-tiba rombongan pejabat datang dengan motor besar berbunyi ngaung-ngaung, kita disuruh minggir mendadak.. Semua ini membuat kita merasa tak selamat. Jadi, masih okelah, kalau sebelum berangkat kita disalami,”semoga selamat sampai di tujuan.”

- Belum lagi pelaku kejahatan di tengah jalan yang gak bisa diduga: perampok memecahkan kaca mobil dan mengambil computer dari dalam mobil, motor dipepet dan dirampas, jambret dan lain..

- Bagi wanita yang naik angkot ada ketakutan diperkosa jika jalan malam hari. Jadi, masih relevan diberi salam sebelum berangkat, “Semoga selamat sampai di tujuan.

Masih banyak data lain yang menunjukkan bahwa perjanalanan kita, jangankan ‘menyenangkan’, selamat aja belum tentu.

Jadi, karena kondisi sosial, keamanan, politik, lalu lintas, dan lain-lain, salam sebelum berankat “SEMOGA SELAMAT SAMPAI DI TUJUAN” masih relevan di Indonesia.

Salam ini belum bisa diganti dengan “Semoga perjalanan Anda menyenangkan.”

Mungkin 10 tahun lagi baru bisa bagitu, itu juga kalau kita tak salah memilih gubernur sebentar lagi, dan tak salah menaikkan presiden pada tahun 2014.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Usul Mengatasi Kemacetan dengan “Kiss …

Isk_harun | | 21 September 2014 | 17:45

Menuju Era Pembelajaran Digital, Ini Pesan …

Nisa | | 21 September 2014 | 22:44

RUU Pilkada, Polemik Duel Kepentingan (Seri …

Prima Sp Vardhana | | 21 September 2014 | 23:11

Cerita Unik 470 Kata, Seluruh Kata Diawali …

Saut Donatus | | 22 September 2014 | 07:54

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 4 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 5 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 8 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Saya yang Berjalan Cepat, Atau Mahasiswa …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Membaca Konsep Revolusi Mental Gagasan …

Ahmad Faisal | 7 jam lalu

Konstitusionalitas Pemilukada: Paradoks …

Armansyah Arman | 7 jam lalu

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | 7 jam lalu

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: