Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Dyah Narang-huth

nama pendekku layaknya gado-gado dengan bumbu saus asing. Lahir dan besar di Jakarta. Selepas kuliah selengkapnya

Panas dan Dingin: Hati-hati Menerjemahkannya ke Bahasa Asing

OPINI | 27 August 2012 | 19:32 Dibaca: 492   Komentar: 0   0

Setiap kali mulai mengajar, sebagai pemanasan aku punya kebiasaan memberikan kosa kata dari kata-kata simpel yang biasanya sudah dikenal, lalu diteruskan dengan penggunaaan  imbuhan yang bisa digunakan dan perluasan kata tersebut. Minggu lalu, saat cuaca di Hamburg selalu hujan dan angin, mereka berkenalan dengan kata “hujan” dengan segala pernak-perniknya hingga kata “ojek payung” yang membuat muridku memuji kelihaian orang Indonesia dalam hal berbisnis.  Beberapa minggu lalu, saat hari cerah,  di kelas lanjutan kursus bahasa Indonesia  kumulai pelajaran dengan kosa kata “panas” dan lawan katanya “dingin”… pemanasan yang harusnya hanya berlangsung sitar 5-10 menit pertama berlangsung seru sekali, karena murid-muridku yang  sudah cukup handal, justru jadi salah mengartikan karena ada perbedaan budaya dalam pengertian kata panas dan dingin…

Misalkan kata “hati panas” … diartikan oleh orang Jerman dengan hati yang penuh dengan cinta. Panas diartikan sebagai sebuah energi positif, sebagai kehangatan … jadi tidak terpikir bahwa kata “panas” di dalam bahasa Indonesia berarti negatif bisa mengacu pada rasa marah dalam kata “memanas-manaskan”, “berdarah panas” atau juga mengarah pada hal-hal erotik… seperti kata “film panas”, “bintang film panas” dan masih banyak lagi. Sebaliknya kata “dingin” yang seringkali berkonotasi negatif dalam bahasa Jerman, justru diartikan positif oleh orang Indonesia misalnya “tangan dingin”, “kepala dingin”, “hati dingin” …

Terlihat sekali betapa cuaca di sebuah negeri sangat berpengaruh pada pemakaian kata. Setelah pelajaran usai, murid-muridku tertawa tergelak-gelak, karena mereka teringat bahwa pasti mereka pernah melakukan kesalahan dalam pemakaian kata tersebut, terutama  dalam hal  mengira “kata-kata panas” berarti kata-kata yang penuh kehangatan cinta” …

Nah, kulihat ada  yang mulai  garuk-garuk kepala … Anda pernah juga melakukan kesalahan penerjemahan kata-kata ini?  Jangan panas dingin setelah membaca catatanku ini.  Salam hangat kukirim dari Hamburg di utara negeri Jerman yang hari ini cerahnya seperti Indonesia :-)

DNH

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bijaksana di saat Langka BBM …

Nanang Diyanto | | 28 August 2014 | 02:05

Balikpapan Menggeser Jogja, Benarkah Jogja …

Ratih Purnamasari | | 28 August 2014 | 07:18

Dari Pertemuan 4 Mata, SBY Menularkan Sikap …

Thamrin Dahlan | | 28 August 2014 | 07:58

Kayu Manis Bisa Buat Obat Parkinson? …

Lidia Putri | | 28 August 2014 | 01:03

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 3 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 4 jam lalu

Mahalnya Biaya Rapat Lembaga Negara! …

Yaslis Ilyas | 4 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 7 jam lalu

Jangan Hanya Jokowi Saja yang Diawasi, …

Rullysyah | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: