Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Imi Suryaputera™

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit)

Bapak, Ibu, Tuan, Nyonya, Jelas Berbeda

OPINI | 22 August 2012 | 19:37 Dibaca: 2293   Komentar: 2   1

Setiap kali menerima undangan, baik undangan pernikahan, rapat, pertemuan, maupun acara lainnya, selalu ditulis; kepada yth, Bapak/Ibu/Sdr(i). Atau membaca pemberitaan di media, misalnya saja bunyinya begini; Presiden RI beserta Ibu Ani Yudhoyono menghadiri peringatan hari kemerdekaan RI.

Secara sepintas dari kalimat-kalimat tersebut tak ada yang salah, ataupun dipermasalahkan. Tapi menurut saya itu patut disalahkan dan dipermasalahkan bila bahasa Indonesia ingin menjadi naik dan benar.

Semestinya kalimat di undangan itu berbunyi; Kepada Yth, Tuan/Nyonya/Sdr(i), atau “Presiden RI beserta Nyonya Ani Yudhoyono menghadiri peringatan hari kemerdekaan RI.”
Karena pengertian antara “ibu” dengan “Nyonya” itu berbeda; “ibu” merupakan panggilan kepada seorang wanita yang telah atau pernah menikah dan melahirkan anak. Sedangkan “nyonya”, ini panggilan kepada seorang wanita yang telah atau pernah menikah dan memiliki suami namun belum tentu seorang ibu yang melahirkan anak.

Masalahnya tampak sepele, tapi jika dibiarkan terlalu lama seperti yang sudah terjadi selama ini, bahasa Indonesia tetap saja tak bisa diharapkan menjadi bahasa yang baik dan benar. Karena kesalahan-kesalahan kecil bukan diperbaiki malahan justru dijadikan semacam pembenaran.

Misalnya saja; Ibu Anto pergi menghadiri acara arisan. Kata “Ibu Anto” disini bisa saja dikonotasikan sebagai ibunya si Anto, atau seorang wanita yang melahirkan si Anto. Padahal maksudnya wanita itu istrinya si Anto. Nah, ini tentu berbeda dengan kata “Nyonya Anto”, yang pengertiannya sangat jelas kalau wanita tersebut merupakan istri dari si Anto.

Begitupun dengan misalnya saja; Kepada Yth, Bapak Mukhtar beserta Ibu. Kalimat ini mestinya berbunyi; Kepada Yth, Tuan Mukhtar beserta Nyonya. Bagaimana jika yang datang ke undangan itu bapaknya si Mukhtar beserta ibunya ?

Saya kira akan lebih baik dan sopan, serta tak menyalahi kaidah bahasa yang benar bila menggunakan sebutan Tuan, Nyonya, Nona, Bapak dan Ibu untuk kegunaannya yang tepat. Misalnya dengan menyebut; Tuan Presiden, Tuan Menteri Anu, Nyonya Presiden, Nyonya Menteri, Tuan Direktur, Nyonya Direktris (bila sudah atau pernah menikah), Nona Direktris (bila masih lajang).
Lihat saja penyebutan dalam bahasa Inggris; Mr President, Mr or Mrs Minister, dan lain sebagainya.

Sebutan atau panggilan Bapak pada kebanyakan pengertian orang Indonesia adalah identik dengan ayah, begitupun ibu; identik dengan mama atau mami dan emak.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 6 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 9 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 10 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 10 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

56 Tahun Michael Jackson, Antara …

Dody Kasman | 7 jam lalu

Puisi itu Berjudul “Proklamasi” …

Zulfaisal Putera | 8 jam lalu

Kala Kau Menghujat Kotaku …

Gordi | 8 jam lalu

Basuki Tjahaja Purnama …

Mila Vanila | 10 jam lalu

Sama-sama Pribumi, Kenapa …

Kwee Minglie | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: