Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Imi Suryaputera™

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit)

Bapak, Ibu, Tuan, Nyonya, Jelas Berbeda

OPINI | 22 August 2012 | 19:37 Dibaca: 3222   Komentar: 2   1

Setiap kali menerima undangan, baik undangan pernikahan, rapat, pertemuan, maupun acara lainnya, selalu ditulis; kepada yth, Bapak/Ibu/Sdr(i). Atau membaca pemberitaan di media, misalnya saja bunyinya begini; Presiden RI beserta Ibu Ani Yudhoyono menghadiri peringatan hari kemerdekaan RI.

Secara sepintas dari kalimat-kalimat tersebut tak ada yang salah, ataupun dipermasalahkan. Tapi menurut saya itu patut disalahkan dan dipermasalahkan bila bahasa Indonesia ingin menjadi naik dan benar.

Semestinya kalimat di undangan itu berbunyi; Kepada Yth, Tuan/Nyonya/Sdr(i), atau “Presiden RI beserta Nyonya Ani Yudhoyono menghadiri peringatan hari kemerdekaan RI.”
Karena pengertian antara “ibu” dengan “Nyonya” itu berbeda; “ibu” merupakan panggilan kepada seorang wanita yang telah atau pernah menikah dan melahirkan anak. Sedangkan “nyonya”, ini panggilan kepada seorang wanita yang telah atau pernah menikah dan memiliki suami namun belum tentu seorang ibu yang melahirkan anak.

Masalahnya tampak sepele, tapi jika dibiarkan terlalu lama seperti yang sudah terjadi selama ini, bahasa Indonesia tetap saja tak bisa diharapkan menjadi bahasa yang baik dan benar. Karena kesalahan-kesalahan kecil bukan diperbaiki malahan justru dijadikan semacam pembenaran.

Misalnya saja; Ibu Anto pergi menghadiri acara arisan. Kata “Ibu Anto” disini bisa saja dikonotasikan sebagai ibunya si Anto, atau seorang wanita yang melahirkan si Anto. Padahal maksudnya wanita itu istrinya si Anto. Nah, ini tentu berbeda dengan kata “Nyonya Anto”, yang pengertiannya sangat jelas kalau wanita tersebut merupakan istri dari si Anto.

Begitupun dengan misalnya saja; Kepada Yth, Bapak Mukhtar beserta Ibu. Kalimat ini mestinya berbunyi; Kepada Yth, Tuan Mukhtar beserta Nyonya. Bagaimana jika yang datang ke undangan itu bapaknya si Mukhtar beserta ibunya ?

Saya kira akan lebih baik dan sopan, serta tak menyalahi kaidah bahasa yang benar bila menggunakan sebutan Tuan, Nyonya, Nona, Bapak dan Ibu untuk kegunaannya yang tepat. Misalnya dengan menyebut; Tuan Presiden, Tuan Menteri Anu, Nyonya Presiden, Nyonya Menteri, Tuan Direktur, Nyonya Direktris (bila sudah atau pernah menikah), Nona Direktris (bila masih lajang).
Lihat saja penyebutan dalam bahasa Inggris; Mr President, Mr or Mrs Minister, dan lain sebagainya.

Sebutan atau panggilan Bapak pada kebanyakan pengertian orang Indonesia adalah identik dengan ayah, begitupun ibu; identik dengan mama atau mami dan emak.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Sakura Mekar Salah Musim di Cibodas …

Rumahkayu | | 26 April 2015 | 10:44

Kehangatan Kompasiana Nangkring Bareng …

Kang Didno | | 26 April 2015 | 00:58

Mari Lestarikan Air Bersama AQUA! …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 19:03

Tidak Ada Tukang Sapu Jalan di Australia …

Roselina Tjiptadina... | | 26 April 2015 | 06:25

Kenakalan Sosial Media dan Kita …

Alan Budiman | | 26 April 2015 | 11:08


TRENDING ARTICLES

Biar Miskin Tapi Terhormat …

Ifani | 15 jam lalu

Kenapa Harus Marah? …

Daniel H.t. | 19 jam lalu

Pembekuan PSSI Tidak Akan Ada Sanksi FIFA …

Wilfun Afnan | 20 jam lalu

Tren Musik Kita, Sekarang Dangdut jadi Raja …

Uzi Ne 45 | 21 jam lalu

Siti Juhro Meramal: Jokowi Tak Akan Lama …

Imam Kodri | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: