Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Imi Suryaputera™

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit)

Bapak, Ibu, Tuan, Nyonya, Jelas Berbeda

OPINI | 22 August 2012 | 19:37 Dibaca: 2695   Komentar: 2   1

Setiap kali menerima undangan, baik undangan pernikahan, rapat, pertemuan, maupun acara lainnya, selalu ditulis; kepada yth, Bapak/Ibu/Sdr(i). Atau membaca pemberitaan di media, misalnya saja bunyinya begini; Presiden RI beserta Ibu Ani Yudhoyono menghadiri peringatan hari kemerdekaan RI.

Secara sepintas dari kalimat-kalimat tersebut tak ada yang salah, ataupun dipermasalahkan. Tapi menurut saya itu patut disalahkan dan dipermasalahkan bila bahasa Indonesia ingin menjadi naik dan benar.

Semestinya kalimat di undangan itu berbunyi; Kepada Yth, Tuan/Nyonya/Sdr(i), atau “Presiden RI beserta Nyonya Ani Yudhoyono menghadiri peringatan hari kemerdekaan RI.”
Karena pengertian antara “ibu” dengan “Nyonya” itu berbeda; “ibu” merupakan panggilan kepada seorang wanita yang telah atau pernah menikah dan melahirkan anak. Sedangkan “nyonya”, ini panggilan kepada seorang wanita yang telah atau pernah menikah dan memiliki suami namun belum tentu seorang ibu yang melahirkan anak.

Masalahnya tampak sepele, tapi jika dibiarkan terlalu lama seperti yang sudah terjadi selama ini, bahasa Indonesia tetap saja tak bisa diharapkan menjadi bahasa yang baik dan benar. Karena kesalahan-kesalahan kecil bukan diperbaiki malahan justru dijadikan semacam pembenaran.

Misalnya saja; Ibu Anto pergi menghadiri acara arisan. Kata “Ibu Anto” disini bisa saja dikonotasikan sebagai ibunya si Anto, atau seorang wanita yang melahirkan si Anto. Padahal maksudnya wanita itu istrinya si Anto. Nah, ini tentu berbeda dengan kata “Nyonya Anto”, yang pengertiannya sangat jelas kalau wanita tersebut merupakan istri dari si Anto.

Begitupun dengan misalnya saja; Kepada Yth, Bapak Mukhtar beserta Ibu. Kalimat ini mestinya berbunyi; Kepada Yth, Tuan Mukhtar beserta Nyonya. Bagaimana jika yang datang ke undangan itu bapaknya si Mukhtar beserta ibunya ?

Saya kira akan lebih baik dan sopan, serta tak menyalahi kaidah bahasa yang benar bila menggunakan sebutan Tuan, Nyonya, Nona, Bapak dan Ibu untuk kegunaannya yang tepat. Misalnya dengan menyebut; Tuan Presiden, Tuan Menteri Anu, Nyonya Presiden, Nyonya Menteri, Tuan Direktur, Nyonya Direktris (bila sudah atau pernah menikah), Nona Direktris (bila masih lajang).
Lihat saja penyebutan dalam bahasa Inggris; Mr President, Mr or Mrs Minister, dan lain sebagainya.

Sebutan atau panggilan Bapak pada kebanyakan pengertian orang Indonesia adalah identik dengan ayah, begitupun ibu; identik dengan mama atau mami dan emak.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 17 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 19 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 20 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 21 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: