Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Muhamad Alfin Eka Rohadi

membaca dan menulis adalah salah satu dari hobi saya. saya suka sastra. tetapi dibalik itu selengkapnya

Bahasa Indonesia, Bahasa Kita

OPINI | 18 August 2012 | 05:21 Dibaca: 62   Komentar: 0   0

Salam ceria, semuanya.
Pada hari jum’at kemarin, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2012. Kita telah merayakan momen berharga bangsa Indonesia yakni perayaan hari kemerdekaan Indonesia ke 67, tentunya semua masih ingat momen itu kan? di momen tersebut kita pasti mengingat kembali perjuangan para pahlawan pada masa lampau yang bertumpahkan darah dan penuh dengan semangat untuk menciptakan Indonesia merdeka. Meskipun kita tidak ada pada masa itu, tetapi setidaknya kita bisa menghayati perjuangan mereka. dan tentunya itu bukanlah perkara yang mudah. Puji syukur akhirnya kita panjatkan karena perjuangan tersebut tidak sia-sia sehingga tercapainya kemerdekaan Indonesia ini. mari kita serukan “Merdeka!”

Hasil dari kemerdekaan Indonesia masih kita rasakan hingga detik ini terutama Indonesia bersatu. Kita pasti ingat apa itu bhineka tunggal ika. Ya,bhineka tunggal ika dapat diartikan berbeda-beda tetapi tetap satu jua. ambil saja bahasa sebagai contohnya. Berbagai bahasa yang terdapat di Indonesia seperti bahasa jawa, sunda, dan masih banyak lagi. kita tidak mungkin bercakap-cakap dengan variasi bahasa tersebut. misalkan, kita orang jawa timur pergi ke jawa barat, apakah kita akan berbicara bahasa jawa kepada orang tersebut, dimana orang tersebut adalah orang berbahasa sunda. Atau kita yang harus bisa berbahasa sunda? atau dia yang harus bisa berbahasa jawa? padahal,ini hanya untuk kasus komunikasi jawa-sunda. bagaimana dengan bahasa lainya? apa kita harus mempelajari semuanya agar bisa bercakap-cakap dengan baik ke rakyat Indonesia dimana bahasanya yang bervariasi dan lalu menjadi orang multilinugal Indonesia? tidak mungkin kan? haha….. ini memang permasalahan yang ribet tetapi sangat penting dan perlu diselesaikan, karena bahasa merupakan suatu alat komunikasi dan komunikasi itu merupakan hal yang tidak mungkin terbatas (misalnya saja orang jawa hanya berkomunikasi dengan orang jawa saja).itu hal yang sangat mustahil. ya atau tidak?

Puji syukur akhirnya kita harus ucapkan karena dengan adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa resmi di Indonesia. dengan begini, akhirnya selesai permasalahan itu. tetapi permasalahan mengenai bahasa Indonesia tidak hanya itu saja. Masih banyak masalah sekitar kita yang mengenai bahasa Indonesia. Apakah gerangan?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan sekitar bahasa Indonesia. Untuk itu saya ingin mengulas beberapa tentang bahasa kita, bahasa Indonesia. Serta permasalahan-permasalahan sekitar bahasa Indonesia yang ada.

Bahasa Indonesia dapat dikatakan sebagai varian dari bahasa melayu. Dasar bahasa indonesia sebenarnya adalah bahasa Melayu Riau pada abad ke 19 dan kemudian mengalami perkembangan dan perkembangan terus menerus sejak bahasa tersebut dipakai sebagai bahsa kerja dan proses pembakuan diawal abad ke 20. sehingga hingga saat ini bahasa indonesia selalu menghasilkan suatu kata-kata baru baik merupakan hasil penciptaan ataupun penyerapan dari bahasa asing.
sebagai contoh, kita pasti kenal apa itu kata “gratis”, ya atau tidak? tidak mungkin kita tidak kenal kata itu karena dimana-mana kita pasti senang jika mendapatakan”gratis” itu Ya atau tidak?haha… Tetapi tahu tidak? saya pernah bicara dengan orang belanda dan ternyata “gratis” itu adalah salah satu dari bahasa Belanda. Percaya atau tidak ? tetapi itulah faktanya.
Dan kata “hobi” dimana kata hobi tidak asing di telinga kita dan kata itu juga merupakan salah satu dari bahasa asing yaitu bahasa Inggris dari kata “Hobby” dan kita pasti tahu itu. Ya atau tidak? Padahal, bahasa Indonesianya adalah “kegemaran”.itulah yang dimaksud dengan bahasa indonesia mendapati kata-kata baru dari penyerapan bahasa asing.
Untuk itu kita sudah seharusnya bangga dengan bahasa Indonesia karena dengan bahasa Indonesia kita bisa juga belajar bahasa Asing,Ini menunjukan bahwa bahasa Indonesia itu unik dan kaya. Tetapi permasalahan yang ada banyak orang yang dapat dikatakan “lebay” seolah mereka adalah orang bule. Kalau orang bule jadi dirinya sendiri (misalkan saja,menggunakan bahasanya sendiri), kenapa kita tidak apabila memang kita memang ingin seperti mereka atau termotivasi oleh mereka? dan bukan berarti kita bergaya persis seperti mereka. setuju?

Selain itu, kelebihan bahasa Indonesia yang lainya adalah apa yang tertulis itulah yang dibaca. Sehingga kita mendapatkan kemudahan dalam belajar, membaca, serta mengeja bahasa Indonesia. Dan lagi, sedikit belajar bahasa asing saja ya, jika bahasa inggris terdapat apa itu “tenses” atau lebih dikenal perubahan arti kata berdasarkan waktu maka bahasa Indonesia tidak ada apa itu yang namanya “tenses”.Dan lagi, bahasa Indonesia tidak ada perubahan kata antara subjek dan objek dan kepemilikan. Jika dibandingkan dengan bahasa inggris jika subjek “saya” atau “I” maka objek “me” dan kepemilikan “mine”. Karena fonologi dan tata bahasa Indonesia yang begitu relatif mudah, Sehingga dasar-dasar komunikasi bahsa Indonesia dapat dipelajari dalam beberapa minggu. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa bahasa Indonesia memberi kita kemudahan yang sangat mudah untuk penggunaanya dan pembelajaranya. Jadi, kita sudah seharusnya senang dengan bahasa Indonesia karena kita begitu diberi kemudahan. Bahasa kita memang bahasa yang mudah. Dan menurut kabar, bahasa Indonesia dipelajari di lebih dari 45 negara di dunia. Sungguh menakjubkan. Mereka saja mau mempelajari bahasa kita bahkan bisa jadi menyukai bahasa kita karena minatnya yang besar untuk mempelajari bahasa kita. Jadi pertanyaanya adalah apakah kita sebagai pemilik bahasa kalah dengan minat mereka?

Meskipun bahasa Indonesia relatif mudah tetapi juga masih ada warga Indonesia yang belum bisa berbahasa Indonesia. Percaya atau tidak? tetapi itulah faktanya. Kenapakah gerangan? berdasarkan data dan informasi yang saya temukan, jumlah mereka tidak sedikit.
Beberapa diantaranya adalah orang manula. Dan orang-orang tersebut tumbuh di kalangan warga dimana bahasa sehari-harinya bukan bahasa Indonesia. Misalkan saja bahasa Jawa. Mereka tumbuh di masyarakat yang keseharianya berbahasa Jawa. Tetapi kenapa masih ada masyarakat yang tumbuh di masyarakat yang tidak berbahasa Indonesia tetapi bisa berbahsa Indonesia? jawaban yang paling tepat untuk hal itu adalah suatu pengaruh dan adaptasi. Mereka hanya teradaptasi dengan bahasa daerah sekitar dan masih belum teradaptasi atau termasuki bahasa Indonesia (seperti belajar,dan lain-lain). Pengaruh dapat datang dari berbagai hal. Seperti televisi, keluarga atau kerabat, sekolah, dan lain-lain. Berarti dapat disimpulkan bahwa orang tersebut yang belum bisa berbahasa Indonesia kurang mendapatkan pengaruh atau penyesuaian atau mungkin pembelajaran. Tetapi syukur kita ucapkan bahwa keadaan tersebut telah diminimalisir. Karena sering ditemukan bahasa Indonesia dimana-mana (seperti di spanduk,baliho,iklan-iklan,dan lainya) dan semakin murahnya teknologi sehingga teknologi bukan hal yang asing lagi. Untuk antisipasi kejadian ini, sudah seharusnya kita melestarikan bahasa Indonesia, kita pasti tidak mau. Jika ini terjadi, itu berarti semakin melupasnya bahasa Indonesia ditambah lagi dengan apa itu orang “lebay” dan jika ini dibiarkan dapat mengakibatkan pengklaiman bahasa atau mungkin bahasa Indonesia tidak ada lagi. Dan kita tidak mau itu terjadi.

Sekarang yang menjadi pertanyaan terbesar mengenai bahasa Indonesia adalah “Kenapa harus bahasa Indonesia”?
sesuai dengan ungkapan Muh. Yamin pada pidatonya di Kongres II di Jakarta yang menyatakan seperti berikut
Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan.” yang kemudian bahasa Indonesia ini akhirnya megalami perkembangan dan perkembangan seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Sekian dulu ya. Pesan saya hanya beberapa. Bahasa Indonesia merupakan bahasa kita bersama, mari kita lestarikan bahasa kita dan menjadi bangsa Indonesia yang sejati.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Peringatan! Jadi Guru Les Jangan …

Thuluw Muhlis Romdl... | 7 jam lalu

Esensi Talkshow, English Corner, Dari …

Rahmat J | 8 jam lalu

Blusukan Jokowi di Bengkulu: Presiden …

Taufan Libero | 8 jam lalu

Terima Kasihku Untuk Team Admin Kompasiana …

Fey Down | 8 jam lalu

Jurassic World dan Minions: Film Paling …

Nasrul Wathoni | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: