Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Saya, Bahasa, dan Mimpi

OPINI | 18 August 2012 | 06:37 Dibaca: 221   Komentar: 1   2

Penulis. Itu mimpi saya. Sudah terbilang cukup lama sejak terakhir kali saya membuat sebuah karangan bebas mengenai bahasa Indonesia. Meskipun terbilang lama tidak menulis, gairah untuk menulis dan membudayakan penggunaan bahasa Indonesia tidak pernah hilang meskipun banyak orang mengatakan tidak ada yang harus dibanggakan dari bahasa Indonesia dan alangkah lebih baik jika sekarang ini kita mampu menguasai bahasa lain, seperti misalnya Inggris, Mandarin, Perancis atau bahkan Jepang dan Jerman. Memang saya menyadari pentingnya kemampuan menguasai bahasa asing, tetapi itu bukan alasan untuk lantas melupakan bahasa asli kita dan merasa malu untuk menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari bukan?

Beberapa tahun belakangan, saya semakin jarang melihat anak-anak sekolah yang saya rasa memiliki kecintaan terhadap bahasa Indonesia sebesar saya ketika sekolah dulu. Sebagai contoh sepupu dan keponakan saya, mereka lebih memilih menonton film asing atau membaca buku asing dengan alasan untuk melatih kemampuan bahasa asing mereka. Memilih bersekolah di sekolah internasional, berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sebaya dan keluarga di rumah menggunakan bahasa Inggris. Hal ini membuat saya takjub bagaimana hal dapat dengan mudah dan cepat berubah. Ketika saya mencoba untuk menjawab pertanyaannya dalam bahasa Indonesia, yang dilakukannya adalah mengatakan sesuatu dalam bahasa Inggris dan menganggap saya tidak bisa menjawabnya dalam bahasa Inggris.

Hal-hal kecil seperti inilah yang mendorong saya untuk tetap mencintai bahasa Indonesia, karena bagaimanapun bahasa Indonesia akan selalu menjadi hasrat, kesukaan, kecintaan, dan gairah saya. Saya selalu berangan-angan kelak saya akan membuat sebuah perpustakaan kecil di sudut rumah dan menjadikannya tempat wajib dikunjungi setiap sore. Begitu cintanya saya pada bahasa Indonesia, bahkan hingga saat ini saya masih mengingat cerita tentang sebuah desa yang jalanannya berdebu ketika musim panas dan banjir ketika musim hujan dari buku bahasa Indonesia saya di kelas tiga sekolah dasar. Saya tidak akan pernah berhenti mencintai bahasa Indonesia, karena dari sinilah saya dapat menggali dan mengembangkan sesuatu yang sangat saya sukai, yang tidak lain adalah menulis, mengungkapkan ide dan aspirasi melalui tulisan. Kecintaan saya terhadap bahasa dan sastra Indonesia selalu ada dan tidak pernah memudar sedikit pun. Alasan terbesar saya untuk mencintai bahasa adalah karena saya menyadari saya tidak tumbuh di kota besar, di mana ada sanggar atau media penyalur bakat anak yang dapat mendorong seorang anak berani mencoba atau berani tampil di muka umum. Saya tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu, namun satu yang saya sadari adalah saya suka menulis, saya menyukai bahasa! Kemampuan inilah yang lantas dilihat guru kelas saya ketika duduk di sekolah dasar yang lantas mengikutsertakan saya dalam lomba cerdas cermat antarsekolah di kecamatan, dari situlah rasa percaya diri dan keberanian saya mulai muncul dan tahap demi tahap lomba saya lalui hingga tahap kabupaten. Hal ini merupakan suatu perubahan besar yang membentuk karakter saya hingga seperti sekarang.

Kecintaan akan bahasa tidak hanya berhenti di situ. Ketika duduk di sekolah menengah pertama, rasa kecintaan akan bahasa Indonesia semakin besar hingga saya merasa ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai tata bahasa, majas, macam-macam tulisan dalam bahasa Indonesia, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan bahasa Indonesia. Beruntung di sekolah saya mendapat seorang guru bahasa Indonesia yang membuat saya semakin menyukai bahasa Indonesia. Setiap kali ulangan bahasa Indonesia diberikan saya merasa sangat bersemangat untuk mengerjakannya. Selama duduk di sekolah menengah pertama inilah saya merasa kecintaan terhadap bahasa Indonesia semakin besar dan saya ingin terus membaca, menulis, mencari tahu lebih banyak lagi tentang bahasa Indonesia.

Selama duduk dibangku sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, dalam lingkungan sekolah dan pertemanan saya merasa seperti ada tuntutan untuk mampu menguasai bahasa asing dan saya sedikit merasa bahwa bahasa Indonesia sedikit kurang diperhatikan dan bahasa asing lebih ditekankan untuk dikuasai. Meskipun intensitas saya membaca dan menulis ketika duduk di sekolah menengah atas dan perguruan tinggi tidak sebanyak ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya mencoba mengatasinya dengan lebih banyak menuangkan pikiran dan perasaan lewat tulisan ketika ada waktu luang, dengan demikian saya merasa ada cara untuk mengatasi kerinduan saya.

Di masa kuliah, saya sangat senang ketika diberitahu akan ada pelajaran bahasa Indonesia di semester akhir dan tugas akhirnya adalah membuat karya tulis. Memang saya merasa karya tulis saya di masa kuliah tidak sebaik ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas mengingat banyaknya pelajaran lain yang juga harus saya kerjakan tugasnya, tetapi saya merasa sangat puas ketika nilai akhir bahasa Indonesia muncul. Kata-kata seorang teman lama membuat saya tersentak sekaligus bangga, mengingat di manapun kita tumbuh, dengan lingkungan seperti apapun, yang mungkin dirasa menuntut kita berubah atau sekedar menyesuaikan diri dengan bahasa asing, ketika kita dijejali dan disuguhi buku-buku, film-film, dan lagu-lagu asing, itu semua tidak akan dapat mengubah siapa diri kita, jati diri kita, kecintaan kita, hasrat dan gairah kita. Ketika suatu hal telah menjadi hasrat dan gairah kita, kapanpun, di manapun, bagaimanapun kondisi kita sekarang ini, meski mungkin sudah berada pada profesi yang sangat tidak berhubungan dengan bahasa, menulis, jurnalistik, atau apapun itu, kecintaan itu akan selalu ada.

Kecintaan saya akan bahasa inilah yang juga mendorong saya untuk menulis di sini. Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya di sinilah tulisan ini berakhir. Pengalaman pertama untuk menulis dan mengikuti lomba serius sebesar ini membuat saya semakin terpacu untuk dapat menulis lebih baik lagi di masa yang akan datang mengingat latar belakang profesi saya sekarang yang sama sekali tidak terkait dengan penulisan cerita, bahasa, dan jurnalistik. Kemampuan menghasilkan suatu tulisan, hal tersebut dapat membuat saya merasakan kebahagiaan yang tidak dapat disamakan dengan bahagia ketika mendapat gaji besar atas lembur tanpa henti atau bahagia ketika akhirnya mendapat satu hari libur dari lembur maraton di kantor karena mengejar target laporan. Bahagia ini berbeda, bahagia ini tidak terungkapkan dengan kata, bahagia ini mungkin hanya dapat dirasa oleh orang yang bersangkutan dan akhirnya rasa lega muncul karena telah berani mencoba, karena menurut saya tidak ada langkah yang salah dalam hidup jika sudah dicoba, langkah yang salah ada karena kita tidak mencobanya. Lebih baik gagal karena mencoba daripada tidak tahu hasilnya karena tidak pernah mencoba.

Bahasa membawa saya hingga ke sini, berani menulis dan mempublikasikan tulisan saya. Bagaimana dengan Anda?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 15 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 17 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 19 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 21 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: