Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Clarasia Kiky Anggraeni

Seorang guru muda yang miskin pengalaman. Senang membaca dan sedang belajar menulis. Mengajar Bahasa Indonesia selengkapnya

Guru Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing: Sangat Dicari Tapi Sepi Peminat

REP | 17 August 2012 | 04:53 Dibaca: 1439   Komentar: 6   4

Fakta pertama yang membuat saya tercengang :

Ada seorang wanita asing yang dari ciri-ciri fisiknya sudah terlihat sebagai orang berdarah Kaukasian, mendekati saya. Dia menatap saya dan seperti hendak berkata-kata. Lantas saya menyapanya dengan Bahasa Inggris. Ternyata dia malah menyambut saya dengan jabat tangan ala Indonesia sekali, yang dengan sengaja mengakhirinya sambil menyentuhkan tangan kanan ke dada. Kemudian dia berbicara dalam Bahasa Indonesia dengan fasih, luwes, dan sopan. Ternyata dia adalah guru Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Australia. Mata saya terbelalak.

Fakta kedua yang tak kalah membuat saya tercengang :

“Why is it hard to find native Indonesian teachers in Australia? Most of Bahasa Indonesia teachers there are not Indonesian. Long time ago I lived in Indonesia only for a year then it became their reason to ask me teaching Bahasa Indonesia. No, my bahasa is not that good,” sambil tertawa – Megumi (bukan nama sebenarnya), seorang guru berkebangsaan Jepang.

Itulah dua hal yang membuat saya kaget luar biasa. Pada awal bulan April 2012 ini saya menghadiri sebuah pelatihan guru-guru bahasa untuk penutur asing yang mengajar di sekolah-sekolah pelaku kurikulum International Baccalaureate. Karena acara yang diadakan di Singapore ini berskala cukup besar, yaitu se-Asia Pasifik, maka tak heran jika saya mendapat kesempatan untuk mengantongi banyak cerita seputar pendidikan dan pengajaran bahasa asing dari mereka. Mereka adalah penutur asli yang mengajar bahasa mereka sendiri sebagai bahasa asing untuk murid-murid.

Yang membuat saya shock adalah pertemuan dan pembicaraan saya dengan guru berkebangsaan Jepang  dan Australia itu. Bagaimana mungkin susah sekali mencari guru Bahasa Indonesia yang merupakan penutur asli dari Indonesia? Padahal di Australia sana, Bahasa Indonesia menempati posisi bahasa asing tiga teratas yang banyak diminati oleh siswa. Otomatis, lapangan pekerjaan sebagai guru Bahasa Indonesia di sana cukup luas dan menjanjikan.

Mungkin alasannya adalah karena kurang informasi mengenai kesempatan mengajar di sana. Ah, tapi kan ada internet? Atau mungkin karena lulusan-lulusan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia kita dulunya hanya terpaksa kuliah dan lebih suka terjun ke bidang lain. Ah, masa tidak ada sedikitpun yang berubah pikiran dan kemudian menjadi jatuh cinta untuk mengajarkan Bahasa Indonesia ke orang lain?

Belajar dari Negeri China

Terlepas dari alasan apapun yang membuat tidak banyak penutur asli Bahasa Indonesia mengajar di negeri tetangga tersebut, saya hanya ingin agar kita bisa belajar dari negeri panda, China. Pemerintah China sengaja memberikan banyak beasiswa kepada generasi mudanya untuk berkembang bagi diri dan negaranya. Selama mendapatkan beasiswa dari pemerintah, mereka diwajibkan untuk menjadi penutur asli yang mengajarkan Bahasa Mandarin ke orang-orang asing.

Pelajaran yang dapat saya petik dari negeri China di atas adalah hal keseriusan negara dan masyarakat dalam melestarikan budaya bangsa. Bahasa sebagai bagian dari budaya mendapatkan tempat yang sangat penting bagi China. Hal inilah yang mendorong mereka untuk memiliki keseriusan, tercermin melalui tindakan nyata mereka dalam mengajarkan Bahasa Mandarin pada orang asing. Hasilnya sudah sangat terlihat, bukan? Bahasa Mandarin diminati oleh banyak orang di dunia. Selain karena motivasi bisnis, bahasa ini dipilih karena menarik untuk dipelajari dan dikaji. Sukses!

Di momen perayaan hari kemerdekaan Indonesia dan persiapan peringatan bulan bahasa ini, mari kita merenung bersama. Sudahkah kita serius dalam melestarikan bahasa sebagai bagian dari budaya bangsa? Ketika negara dan masyarakat bekerja sama dengan serius dan sepenuh hati maka tidak akan ada usaha yang sia-sia.

Yang bangga berbangsa dan berbahasa Indonesia,

CKPA

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 7 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 7 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 9 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: