Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Mukti Anggoro

kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, mencoba menyalurkan hobi untuk membaca dan menulis tentang yang ada selengkapnya

Sejarah Bahasa Indonesia, Sebagai Bahasa Persatuan.

OPINI | 15 August 2012 | 03:59 Dibaca: 4177   Komentar: 0   0

Latar Belakang Sejarah

28 Oktober 1928, pada kongres pemuda I tercetus suatu rumusan yang berbunyi sebagai berikut:

I. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah jang satu, tanah Indonesia.

II. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

III. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Rumusan itu dibuat oleh Moh. Yamin dan dibacakan oleh Soegondo dihadapan ratusan pemuda yang berkumpul di jalan kramat jaya no 6 jakarta pusat saat ini yang menjadi cikal bakal lahirnya republik indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengakhiri masa penjajahan yang dialami bangsa indonesia dan menjadi tonggak awal hari kemerdekaan 17 agustus 1945.

Dari rumusan sumpah pemuda poin III, “….menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” dapat disimpulkan bahwa bahasa indonesia telah diresmikan dan diakui secara luas oleh masyarakat jauh sebelum kemerdekaan indonesia di proklamirkan oleh Bung Karno Dan Bung Hatta. Baru kemudian, pada tanggal 18 agustus 1945 bahasa indonesia diresmikan penggunaannya sebagai bahasa nasional yang tercancum dalam UUD 1945 pasal 36.

Bahasa indonesia sendiri lahir dari varian bahasa melayu salah satu rumpun bahasa Austronesia. Bahasa melayu saat itu merupakan bahasa yang digunakan hampir oleh seluruh masyarakat indonesia (masa sebelum kemerdekaan). Seperti kutipan pidato Moh. Yamin pada saat kongres pemuda “…Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan”.

Penggunaan dan Ejaan Bahasa Indonesia

Penggunaan bahasa indonesia sendiri telah digunakan sebelum masa kemerdekaan dan dideklarasikan sebagai bahasa persatuan pada saat kongres pemuda yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Pada masa awal penggunaannya berbeda dengan bahasa indonesia yang kita kenal saat ini, seperti pengejaan dan dalam pengucapan kata.

Ada beberapa tahapan perubahan penulisan dan ejaan bahasa indonesia:

a. Ejaan Van Ophuijsen

Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:

1. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.

2. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.

3. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.

4. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.

b. Ejaan Republik

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:

1. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.

2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.

3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.

4. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

c. Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.

d. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia.

Selain itu, dalam Bahasa Indonesia juga terdapat banyak kata serapan yang berasal dari berbagai bahasa seperti bahasa belanda, inggris, arab, sanskerta-jawa kuno, tionghoa, portugis, jawa, sunda dsb. Karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa terbuka yang menyerap kata dari bahasa lainnya.

Itulah sedikit tentang sejarah bahasa indonesia, bahasa yang kita gunakan saat ini. Bahasa yang menjadi pemersatu bangsa yang lambat laun penggunaanya mulai dikemal luas oleh masyarakat dunia, seperti vietnam yang menjadikan bahasa indonesia sebagai bahasa kedua mereka serta masih banyak lagi negara yang mempelajari bahasa indonesia karena latar belakang sejarah indonesia tentunya. Semoga suatu saat nanti bahasa indonesia menjadi bahasa internasional yang digunakan oleh seluruh penduduk dunia.

dari berbagai sumber.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 14 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 16 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: