Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Siti Nur Hasanah

Guru & Manajer Pendidikan Inklusif di SMPN 5 Surabaya, Menjadi Istri dan Ibu yang terbaik buat selengkapnya

Masa Depan Bangsa dan Bahasa Indonesia yang Kuimpikan

OPINI | 13 August 2012 | 14:47 Dibaca: 744   Komentar: 0   1

Menyimak, menyaksikan dan mengamati berita di televisi, juga membaca berita di surat kabar tentang situasi dan kondisi bangsaku sangat memprihatinkan. Sudah musibah dan bencana terjadi di mana-mana, ditambah lagi perilaku para penguasa dan para figur publik yang tidak empati dan jauh dari simpati.

Hatiku menjerit, merintih, bahkan kadang merontah. Mengapa semua ini masih saja terjadi? Padahal di mana-mana telah bermunculan orang-orang pintar, ulama’, dai-dai muda, bahkan dai-dai kecil. Pengajian-pengajian juga digelar dimana-mana. Tapi mengapa tak sedikit pun dapat menyentuh hati para sang penguasa dan para figur publik? Apakah kedudukan, jabatan dan harta telah memperdaya mereka? Apakah hidayah Allah Swt. tak sepercik pun turun kepada mereka? Mengapa keteladanan Umar bin Khottob saat menjadi khalifah tidak dicontoh barang sedikit pun? Mngapa? Masih segudang pertanyaan yang terus mengalir dalam benakku.

Melihat situasi dan kondisi bangsaku yang sepertinya semakin terpuruk, hatiku menjadi ciut untuk menatap ke masa depan bangsa ini. Bagaimana tidak ? Tupai saja melompat tidak akan jatuh untuk kedua kalinya. Tapi bangsa kita melakukan kesalahan yang sama untuk ke sekian kalinya dan hal itu tidak membuat bangsa kita menjadi kapok serta belajar dari kesalahan yang telah dilakukan. Atau memang Allah Swt. sengaja menunjukkan kapada kita bahwa betapa besarnya keagungan dan kekuasaan-Nya. Sehingga kita dapat menyadari bahwa betapa kecilnya kita, betapa tidak berdayanya kita menghadapi ujian dari Allah Swt. yang belum ada apa-apanya dibanding saat-saat menjelang hari kiamat yang akan datang.

Sejak kecil aku memimpikan masa depan bangsaku yang subur dan makmur ini dapat memberiku harapan yang besar dan mewujudkan semua cita-citaku. Para pemimpinnya benar-benar orang yang arif dan bijaksana, yang dapat dijadikan contoh dan teladan bagi putra-putri bangsa, selalu memihak dan memikirkan nasib rakyatnya, serta dapat menjaga dan melestarikan kekayaan bangsa yang dapat diwariskan kepada anak cucu kita kelak. Tapi apa kenyataannya ? Demi tujuan meraup keuntungan

sebanyak-banyaknya bagi sebagian orang, bencana melanda di mana-mana dan merugikan banyak orang.

Namun demikian, hal itu tidak membuatku putus asa dalam menatap masa depan bangsaku. Paling tidak aku masih bisa berbuat sesuatu untuk masa depan bansaku. Walaupun itu hanya bisa aku berikan kepada sebagian kecil dari anak didikku. Siapa tahu kelak di antara mereka ada yang akan menggantikan menjadi salah satu pemimpin bangsa ini.

Aku selalu berupaya menanamkan perangai / watak yang baik, perilaku yang benar dan santun, bagaimana cara menghargai dan menghormati orang lain dalam berbicara dan mencoba meluruskan setiap tindakan dan perbuatan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan norma. Paling tidak mereka harus tahu dan mengerti bagaimana yang seharusnya mereka perbuat.

Dalam berdiskusi di kelas, aku tanamkan bagaimana cara berbicara yang baik dan benar, bagaimana cara memberikan bantuan pemikiran kepada orang lain, bagaimana cara menyampaikan pendapat yang tak sepaham dengan orang lain agar tidak terjadi kesalahpahaman yang akan menjurus ke hal-hal yang negatif ( seperti : pertengkaran, percekcokan, perseteruan dan balas dendam ).

Semua itu dengan tujuan agar kelak saat terjun di masyarakat, lebih-lebih jika menjadi tokoh masyarakat atau pemimpin bangsa, mereka akan ingat bagaimana seharusnya bertindak, berbicara dan berperilaku. Karena setiap hal yang kutanamkan dan kuberikan, aku jelaskan tujuan dan manfaatnya bagi mereka kelak. Juga aku tunjukkan perilaku-perilaku yang tidak baik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat dan para pemimpin bangsa saat berlangsungnya sidang-sidang kenegaraan. Aku benar-benar menaruh harapan yang besar kepada para anak didikku.

Apalagi kalau menyaksikan perkembangan sosial yang tengah merebak di masyarakat begitu sangat memprihatinkan. Kemajuan teknologi yang semakin canggih, banyak menimbulkan dampak bagi para generasi muda. Baik itu dampak positif maupun dampak negatif.

Dampak positif yang telah kita rasakan akibat kemajuan teknologi banyak sekali. Mulai dari terciptanya robot-robot serba guna, laptop, internet yang dapat mengakses

informasi dari seluruh penjuru dunia. Sampai penggunaan telepon genggam ( ponsel ) yang dapat membantu dan mamudahkan kita berkomunikasi di mana saja, kapan saja dengan cepat dan mengakses segala informasi yang kita butuhkan, tanpa harus ke warnet.

Namun tidak kalah dahsyatnya dampak negatif yang telah ditebarkan ke mana-mana. Kecanggihan telepon gengam juga banyak merusak moral generasi muda maupun generasi tua. Gambar-gambar porno, bahasa-bahasa SMS yang tak senonoh bermunculan dan menyebar ke banyak ponsel. Yang sangat memprihatinkan lagi, akibat bahasa SMS yang merebak di masyarakat dan di kalangan kawula muda, tanpa kita sadari akan merusak penggunaan Bahasa Indinesia yang sesuai dengan EYD ( Ejaan Yang Disempurnakan ). Karena volume penggunaan bahasa SMS lebih banyak dan lebih sering daripada penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Untuk itu, tugas guru mata pelajaran Bahasa Indonesia memang harus ekstra teliti dan telaten dalam membimbing dan membina peserta didik terutama dalam penggunaan ragam bahasa tulis. Karena hal itu juga akan berpengaruh kepada penggunaan ragam bahasa lisannya. Baik itu saat berdiskusi di kelas, berkomunikasi dengan guru, orang tua atau orang yang lebih tua. Jika mereka tidak diarahkan dengan benar, maka akan tumbuh menjadi anak yang tidak bisa membedakan antara berkomunikasi dengan teman sebaya, orang yang lebih tua, orang tua bahkan dengan para gurunya. Baik itu dalam situasi / forum resmi maupun tidak resmi.

Sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, kita harus benar-benar mampu mengarahkan anak didik kita agar menjadi generasi muda yang terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta penggunaan santun berbahasa. Karena kalau tidak, mereka akan cenderung mengikuti pemakaian bahasa gaul dan bahasa sinetron yang lebih banyak dan lebih sering dikonsumsi oleh mereka daripada pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sementara bahasa yang digunakan dalam sinetron banyak yang ngawur ( salah kaprah ). Tidak sesuai dengan EYD dan porsinya lebih banyak menggunakan bahasa gaul dan bahasa asing. Seharusnya para penulis skenario dan para sutradara juga mempelajari dan mendalami penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak hanya mempelajari dan mendalami bahasa Inggris atau bahasa asing saja. Karena tayangan sinetron yang lebih banyak porsinya dalam mempengaruhi perkembangan pribadi dan perilaku anak bangsa, di samping hal-hal yang lain.

Belum lagi pengaruh penggunaan bahasa Indonesia warga asing yang tinggal di Indonesia. Hal ini juga sangat berpengaruh bagi masyarakat Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari. Mereka lebih cenderung ikut-ikutan menggunakan bahasa Indonesia yang salah daripada yang benar. Karena bahasa Indonesia yang salah dapat didengar di mana-mana dan kapan saja. Sedangkan bahasa Indonesia yang baik dan benar hanya dapat diperoleh di bangku sekolah dan saat mata pelajaran bahasa Indonesia saja.

Maka tak aneh lagi jika pada saat berlangsungnya ujian akhir sekolah, para siswa justru banyak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal bahasa Indonesia daripada soal-soal matematika maupun soal-soal bahasa Inggris. Karena para peserta didik dan para orang tua lebih mementingkan / mengutamakan mata pelajaran matematika, IPA dan bahasa Inggris serta meremehkan mata pelajaran bahasa Indonesia. Padahal keempat mata pelajaran UN untuk jenjang SMP itu sama-sama pentingnya.

Oleh sebab itu, dalam hal ini yang harus ekstra telaten memang guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Dengan harapan, jika semua lapisan masyarakat dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar serta santun, maka akan berpengaruh pula dalam hal-hal yang lain. Terutama dalam berperilaku. Karena tidak mungkin orang yang tutur bahasanya santun, berperilaku yang tidak baik dan menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Apalagi kalau didukung oleh semua guru mata pelajaran yang lain, tokoh masyarakat, para penulis, dan lain sebagainya. Niscaya, perkembangan bahasa Indonesia di negeri sendiri akan semakin baik. Syukur kalau bisa berkembang menjadi bahasa Internasional. Karena hal itu tidak mungkin terwujud, tanpa partisipasi semua lapisan masyarakat dan semua warga negara Indonesia.

Dengan demikian, apa yang menjadi impian masa depan bangsa dan bahasa Indonesia akan dapat terwujud. Alangkah bahagianya hati ini jika suatu saat nanti apa yang kuimpikan tentang bangsa dan bahasa Indonesia ini akan menjadi kenyataan. Semoga !!!

——————oo0oo—————–

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: