Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Hasanuddin Ibrahim

Saya menyukai hal-hal yang bersifat filsafati, atau berkenaan dengan dinamika perkembangan pemikiran manusia dalam menemukan selengkapnya

Lailatul Qadar, Apa Itu?

REP | 30 July 2012 | 14:07 Dibaca: 2417   Komentar: 0   0

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AL-Qur’an) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar. (Q.S. al-Qadr [97]: 1-5.

Menurut Quraish Shihab (Tafsir Al-Qur’an Al-Kariim, 1997) Kata lailat dari segi bahasa berarti “hitam pekat”. Itu sebabnya malam dan rambut yang hitam, keduanya di namai lail. Malam di mulai dari terbenamnya Matahari sampai terbitnya fajar, bagitu ulama-ulama Ahlu-Sunnah mendefenisikannya. Sedangkan ulama Syiah menyatakan bahwa “malam” dimulai dari terbenamnya matahari serta hilangnya mega merah dari ufuk, sampai terbitnya fajar. Perbedaan defenisi ini membuat kalangan Syiah lebih cepat berbuka puasa beberapa menit dari kalangan Ahlu Sunnah.

Tidak ada informasi yang pasti mengenai “malam Al-Qard” apakah di turunkan pada awal, pertengahan atau di ahkir malam. Ketiaan informasi itu, membuat orang-orang yang berharap bisa menemukan malam penuh berkah itu melakukan kegiatan itikaf sepanjang malam. Biasanya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Tentu saja perbedaan memulai bulan Ramadhan akan membedakan pula malam-malam ganjil. Akibatnya Ganjil-atau genap, akhirnya tidak lagi di tentukan oleh bulan, tapi jumlah puasa yang sedang di laksanakan.

Dalam suatu hadits Aisyah ra. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘carilah dan temukanlah Lailatul Qadar pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan (H.R. Muslim).

Jika mengacu kepada hadits  ini, tidak perlu merisaukan itikaf itu malam ganjil atau genap. Hadits itu hanya di katakan pada sepuluh terakhir Ramadhan, tanpa menyebut kata ganjil atau genap.

Salah satu keutamaan malam lailatul qadar adalah karena pada malam itu Al-Qur’an diturunkan. Pada ayat (1) dari surah al-Qadr, dikatakan: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada malam Qadr”.  Kata anzala ditemukan dalam al-Qur’an sebanyak 63 kali dengan objek yang beragam, antara lain Kitab Suci Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Antara lain pada surah Ali-Imran di bawah ini.

“Dia telah menurunkan Taurat dan Injil sebelum ini sebagai petunjuk untuk umat manusia dan menurunkan juga Al-Furqan (Al-Qur’an). (Q.S. Ili-Imran [3] : 3-4.

Sementara nazala berulang sebanyak 12 kali. Ulama-ulama bahasa al_qur’an sebagaimana dikemukakan Qurasih Shihab menemukan perbedaan makna antara anzala al-furqan pada surah Ali-Imran di atas dengan nazzala al-furqan dalam surah al-Furqan ayat 1. Sebagian mereka—setelah menelusuri penggunaan Al-Qur’an terhadap kata anzala dan nazzala, serta melakukan analisis ketatabahasaan berpendapat bawha kata anzala pada umumnya digunakan untuk menunjuk turunnya sesuatu secara utuh (sekaligus), sedang kata nazzala digunakan untuk turunnya sesuatu sedikit demi sedikit atau berangsur-angsur. Nah atas dasar itu, dan atas dasr dua kata yang digunakan al-Qur’an untuk menjelaskan turunnya Kitab Suci Umat Islam ini, maka mereka berkesimpulan bahwa al-Qur’an pernah turun sekaligus dan itulah yang ditunjuk oleh ayat yang menggunakan kata anzalnahu dan pernah juga turun berangsur-angsur dan itulah yang ditunjuk oleh ayat yang menggunakan kata nazzala.

Diturunkan Al-Qur’an sekaligus kata mereka (para ulama itu) adalah dari allauh-almahfuzh ke langit dunia, sedangkan diturunkan secara berangsur-angsur, adalah dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw, yang dibawa oleh Malaikat Jibril selama dua puluh dua tahu, dua bulan dan dua puluh dua hari, atau katakanlah 23 tahun. Dengan demikian ada keterlibatan pihak lain dalam hal turunnya al-Qur’an itu yakni Malaikat Jibril. sebagaimana di jelaskan dalam Q.S. Surah sy-Syuara ayat 193 berikut ini:

“Al-Qur’an dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (malaikat Jibril) yang mencampakkannya ke dalam kalbumu.”

Apakah malam lailatul qadar itu berarti malam dimana Jibril turun membawa al-Qur’an dan mencampakkannya ke dalam kalbu siapa yang dikehendaki Allah baginya ? sehingga di katakan bahwa malam lailatu qadar itu lebih mulia daripada (beribadah) seribu bulan ?

Di atas telah disampaikan secara singkat pengertian anzala dan nazzala. Selanjutnya bagaimana pengertian al-Qadr. Kembali kami mengutip pendapat Bapak Quraish Shihab dari Tafsir Al-Qur’an Al-Karim seperti yang telah kami informasikan sebelumnya.

Paling tidak ada empat pendapat mengenai al-Qadr ini. Pertama, al-Qadr berarti al-hukm yakni “penetapan”. Sehingga malam Al-Qadr adalah malam penetapan Allah atas perjalanan hidup makhluk selama setahun; seperti misalnya, penetapa rezeki manusia, umurnya dan lain-lain. Begitu menurut tafsir al-Qurtuby, yang dikuatkan oleh pengikutnya dengan firman Allah dalam surah Ad-Dukhan ayat 3-4:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati, dan sesungguhnya Kamilah yang akan memberi peringatan. Pada malam itu, dijelaskan (ditetapkan) segala urusan dengan bijaksana”.

Kedua, al-Qadr berarti “pengaturan”. Yakni pada malam turunnya Al-Qur’an Allah SWT mengatur khiththah atau strategi bagi Nabi-Nya Muhammad saw, guna mengajak manusia kepada agama yang benar, demi menyelamatkan mereka. demikian menurut tafsir al-Qasimy.

Ketiga, al-Qadr berarti “kemuliaan”. Ini sesuai dengan ayat 1 dalam surah al-qadr, “sesungguhnya Allah telah menurunkan al-Qur’an pada malam yang mulia”. Malam tersebut mulia dan menjadi lebih mulia lagi dengan turunnya al-Qur’an. Ada juga yang memahami kemuliaan tersebut dalam kaitannya dengan ibadah, dalam arti bahwa ibadah pada malam tersebut mempunyai nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran tersendiri, berbeda dengan malam-malam yang lain. Dan pendapat yang keempat, mengatakan al-Qadr itu berarti “sempit”. merujuk kepada Surah Ath-Thalaq ayat 7 . “….dan barang siapa yang disempitkan rezekinya”. Pendapat seperti ini disampaikan Al-Khalil, seorang ulama dan pakar bahasa, mengatakan bahwa pada malam turunnya al-Qur’an malaikat begitu banyak yang turun ke bumi–sehingga, karena banyaknya maka bumi menjadi penuh sesak dan menjadi sempit. Jika pada malam itu bumi ini penuh sesak oleh malaikat untuk meng-aminkan permintaan doa manusia-manusia yang sedang melaksanakan ibadah kepada Allah, betapa meruginya kita yang tidak memanfaatkan kesempatan itu.

Itulah arti al-qadr menurut para ahli tafsir. Lailatul Qadar dengan demikian adalah malam yang istimewa, malam yang hebat, malam yang khakikatnya hanya mungkin di ungkap dengan izin dan bantuan Allah SWT.

Di katakan “malam Al-Qadr itu, lebih baik daripada seribu malam”.  Menurut Quraish Shihab kata seribu, tidak harus dipahami sebagai angka yang berada diatas 999 dan dibawah 1001. Tetapi kata 1000 itu artinya “lebih banyak”. Kata seribu juga ditemukan dalam pengertian “banyak” dalam Q.S. Surah al-Baqarah: [2] : 96 dibawah ini:

“Salah seorang diantara mereka sangat berkeinginan seandainya mereka diberi umur seribu tahun (maksdunya hidup dalam waktu yang sangat lama)”

Banyak hal menarik untuk direnungkan terkait dengan peristiwa maha penting dalam malam al-Qadr ini. Semoga pengertian singkat dan penjelasan singkat mengenai lailatul Qadar ini bisa memacu kita untuk lebih mendalami maknanya, mempelajari dan menyelami hikmah-nya dan semoga kerinduan kita untuk bertemu malam qadar ini di ijabah oleh Allah SWT.

Wassalam wr.wb.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bila Gagal Lulus UN …

Sayidah Rohmah | | 16 April 2014 | 10:34

Menebar Rimpang Jahe Menuai Rupiah Sebuah …

Singgih Swasono | | 16 April 2014 | 09:28

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 6 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 8 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 8 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: