Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Merah Maroon

hanya ada satu orang sepertiku :)

Guru Kreatif Solusi dalam Pembelajaran Fisika

OPINI | 22 June 2012 | 02:21 Dibaca: 1154   Komentar: 0   0

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Usia remaja adalah saat di mana anak mengalami masa pubertas. Usia remaja saat di mana memasuki usia sekolah pada tingkat Sekolah Menengah/sederajat dan awal perguruan tinggi dengan rata-rata sekitar 16-20 tahun. Dari beberapa hasil kajian menunjukkan usia remaja memiliki ciri-ciri di antaranya: 1) Kondisi kejiwaan anak-anak remaja cenderung masuk pada kategori bergejolak, bermasalah dan bermasalah berat; 2) Kenakalan yang mereka lakukan mengarah pada perbuiatan sadis dan tindakan kriminal; 3) Penyebab kenakalan mereka adalah karena perilaku orangtua, perceraian, teman dekat, penyalah gunaan teknologi, dan pornografi. Sementara strategi penanggulangannya dengan penanaman akhlak dalam keluarga, meningkatkan kualitas kesalehan, dan memperluas wawasan mereka. Dalam dunia pendidikan kita sering mendengar tentang masalah kenakalan. Khususnya dalam kelas, kata kenakalan memang cenderung berkaitan dengan kekerasan, tetapi dalam hal ini bukan hanya kenakalan yang melibatkan kekerasan saja. Dalam pembelajaran fisika khusunya, tidak jarang siswa yang mengeluh mengenai materi pelajaran ini, akibatnya siswa kurang antusias dalam menerima pelajaran ini apalagi jika gurunya kurang komunikatif, kurang menarik, dll, akibatnya banyak siswa yang tidak mendengarkan dan melakukan hal-hal diluar pelajaran. Pada makalah ini akan dibahas mengenai kenakalan dalam kelas, faktor penyebabnya, dampaknya, dan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut. 1.2 DASAR TEORI Sebelum tahun 1970-an dapat dikatakan bahwa istilah kenakalan remaja belum dikenal atau belum populer. Secara resmi istilah kenakalan digunakan dalam Inpres 6/1971 yang disusul dengan pembentukan Badan Koordinasi Pelaksanaan Instruksi Presiden No. 6 Tahun 1971 yang didalamnya terdapat bidang Penanggulangan Remaja. Munculnya istilah kenakalan anak-anak remaja usia sekolah dapat diketahui diantaranya melalui berbagai macam tindakan dan tingkah laku yang mereka lakukan, antara lain menunjukkan sikap kasar dalam bertindak , bersikap suka menentang apabila diarahkan, bersikap membantah apabila diperintah, minum-minuman keras, merokok, nongkrong dijalan, coret-coretan di tembok, cenderung berbuat sesuatu yang hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan merubah suasana sekehendak hatinya. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang ada. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Definisi kenakalan remaja menurut para ahli : ~ Kartono,ilmuan sosiologi Kenakalan remaja atau dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis pada remaja di sebabkan oleh satu bentuk pengabaian social. ~ Santrock Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat di terima secara social hingga terjadi tindakan criminal. ~ Simanjuntak kenakalan adalah perbuatan anak-anak yang melanggar norma-norma baik sosial, norma agama, norma kelompok, mengganggu ketentraman masyarakat sehingga yang berwajib mengambil suatu tindakan pengasingan. ~ Tim proyek ”JuvenileDeliquency” fakultas hukum Universitas Padjajaran merumuskan bahwa kenakalan anak adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh seorang anak yang dianggap bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku disuatu Negara dan yang oleh masyarakat itu sendiri dirasakan serta ditafsirkan sebagai perbuatan yang tercela. Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh kelompok study jiwa anak dan remaja di Jakarta tahun 1988. Kelompok tersebut membagi bentuk-bentuk kenakalan anak-anak remaja usia sekolah berdasarkan katagori perilakunya dalam menghadapi perubahan hidup di lingkungan sekitarnya pada 4 (empat) katagori, yaitu : 1. Anak-anak remaja usia sekolah tanpa masalah, yaitu yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara baik, dan tanpa kesulitan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan prestasi akadamik sesuai dengan kemampuannya; perilakunya dapat diterima lingkungannya; dan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan sosialnya. 2. Anak-anak remaja usia sekolah yang bergejolak, yaitu terus menerus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Selama masa penyesuaian diri ini akan nampak kemudahan dan kesulitan. Perilaku anak ini disebut dengan sifat “angin anginan”. Terkadang sikap dan sifat mereka mudah dimengerti dan terkendali, dan terkadang malah sebaliknya. Prestasi akademik dan kemampuan bersosialisasi cenderung berubah-ubah. Pada hal yang disukai, mereka akan tampak tekun dan asyik, akan tetapi pada hal yang tidak disukai, maka akan timbul kebencian yang berlebihan. 3. Anak-anak remaja usia sekolah yang bermasalah. Pada tipe ini seorang anak sulit untuk menyesuaikan diri, kecuali pada kalangan terbatas atau hanya pada kelompoknya saja. Perilaku sosial dan akademiknya tergolong gagal. Prestasi di sekolah sangat mengecewakan; di dalam keluarga selalu membuat masalah; dalam lingkungan sosial selalu membuat onar; perilaku menyimpangnya dilakukan terang-terangan; dan tidak merasa berdosa apabila melakukan kesalahan. 4. Anak-anak remaja usia sekolah dengan masalah berat. Pada tipe ini kegagalan total sudah terjadi. Ia masuk ke dalam lingkaran “syetan”, mundur kena maju pun kena. Perilakunya sudah tergolong kriminal; banyak berurusan dengan polisi; dianggap sampah masyarakat; tanpa prestasi akademik; terbiasa dengan minuman keras; narkoba dan seks bebas. 1.3 PERUMUSAN MASALAH 1. Jenis kenakalan apa saja yang sering dilakukan siswa di dalam kelas saat pelajaran fisika ? 2. Faktor apa saja yang menyebabkan kenakalan tersebut ? 3. Bagaimana dampak kenakalan tersebut terhadap siswa yang lain ? 4. Tindakan apa saja yang perlu dilakukan guru untuk mengatasi masalah tersebut ? 5. Solusi apa yang bisa dilakukan guru agar siswa antusias dalam mengikuti pelajaran fisika ? BAB II ISI Pada dasarnya dalam proses belajar mengajar itu terdapat tiga komponen, yaitu pengajar (guru, dosen, instruktur dan tutor), siswa (yang belajar) dan bahan ajar yang diberikan oleh pengajar. Peran pengajar sangat penting karena berfungsi sebagai komunikator, begitu pula peran siswa sebagai komunikan. Bahan ajar yang diberikan oleh pengajar, merupakan pesan yang harus dipelajari oleh siswa dan seterusnya diadopsi sebagai bekal siswa setelah menyelesaikan studinya. Dengan demikian, makin banyak siswa tersebut melakukan adopsi dari bahan ajar yang diberikan oleh pengajar, maka makin banyak bekal yang ia pelajari selama ia berada di sekolah. (Soekartawi:1995) Bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka pelaksanaan proses belajar mengajar ini menjadi lebih kompleks, karena ketiga komponen (pengajar, siswa, bahan ajar) masih dipengaruhi oleh variabel yang lain. Begitu pula dengan masalah yang dihadapi oleh siswa. Tidak semua siswa dapat menangkap isi bahan ajar dengan cepat, tidak semuanya rajin, tidak semuanya dapat melakukan penyesuaian terhadap lingkungan mereka belajar. Dengan demikian, maka peran tiga komponen antara pengajar, siswa dan isi bahan ajar menjadi berkembang sedemikian rupa mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi tersebut. Kenakalan remaja di dalam kelas saat pelajaran berlangsung, khusunya dalam pelajaran fisika bukan merupakan hal yang baru lagi, hal tersebut merupakan hal yang wajar apalagi jika guru yang mengajar kurang komunikatif, kurang kreatif, membosankan dan lain lain yang membuat siswa/siswinya jenuh ataupun kurang antusias. Adapun jenis-jenis kenakalan yang sering terjadi saat pelajaran adalah : 1. Tidur di kelas 2. Makan permen 3. Mengobrol sendiri 4. Memainkan handphone 5. Membaca komik 6. Membuat kegaduhan 7. Menggambar 8. Belajar pelajar lain 9. Dan masih banyak lagi Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kenakalan siswa di kelas, yaitu faktor intern dan ekstern. a) Faktor Intern Setiap anak pasti memiliki sifat yang sejatinya sudah ada di dalam dirinya sendiri, seperti cerewet, pemalu, suka bertanya, banyak bertingkah, dll b) Faktor Ekstern Faktor ekstern yang mempengaruhi kenakalan remaja diantaranya : - Keluarga Kenakalan siswa dikelas juga dapat disebabkan karena pengaruh lingkungan keluarga, mungkin ada masalah di rumah, dll - Pengajar (Guru), adapun faktor-faktor yang dipengaruhi oleh guru adalah Kurang kreatif, membosankan, tidak mempunyai wibawa, galak, tidak komunikatif - Teman dekat Teman dekat juga sangat berpengaruh, karena ketika teman kita melakukan kenakalan maka secara tidak langsung kita mendapatkan contoh dari teman kita - Lingkungan di sekolah Kenakalan yang dilakukan siswa tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga bisa merugikan orang lain (teman lainnya dan guru). Misalnya, ketika pelajaran fisika berlangsung ada seorang anak yang mengobrol tetapi gurunya tidak menegur hal ini akan menyebabkan siswa yang lain pun juga ikut mengobrol, dan pada akhirnya suasana kelas menjadi tidak kondusif. Contoh lainnya, ketika ada seorang anak yang membuat gurunya marah dan membuat gurunya menghentikan pelajarannya, maka siswa/siswi lain akan terugikan tidak mendapatkan pelajaran. Jadi, apa yang dilakukan seorang siswa dikelas itu sangat berpengaruh terhadap siswa yang lainnya. Hukuman dan imbalan laksana pisau bermata dua. Jika kita bisa menggunakannya dengan benar, ia akan meringankan pekerjaan kita. Sebaliknya, jika kita tidak berhati-hati menggunakannya maka ia bisa mengiris tangan kita. Anak yang melakukan pelanggaran sewajarnya mendapat hukuman. Namu, ada kalanya hukuman yang diberikan tidak menghasilkan efek seperti yang diinginkan. Alih-alih berubah menjadi lebih baik, sebagian anak malah semakin nakal dan menjadi-jadi setelah dihukum. Tetapi juga jangan dibiarkan, jika ia dibiarkan maka ia akan melakukan santai ketika melakukan kesalahan. Ini jelas akan berdampak negatif, baik bagi dirinya sendiri ataupun lingkungan di sekitarnya. Ketika memberikan hukuman kepada siswa hendaknya dihindari hukuman yang terlalu keras atau berat. Hukuman yang terlalu keras atau berat. Hukuman yang terlalu keras dapat menyebabkan luka batinmaupun lahir. Jangan anggap ini hal yang remeh. Dampak negatif dari hukuman yang terlalu keras bisa berakibat fatal. Meskipun begitu, bukan berarti hukuman yang diberikan boleh terlalu lunak dan ringan. Hukuman yang seperti ini hanya dianggap main-main oleh siswa dan tidak akan membawa dampak apa-apa. Jika guru tidak tepat dalam memberikan hukuman, hal-hal yang tidak diinginkan sangat mungkin terjadi. Bukannya membuat siswa menjadi jera dan tidak melakukan pelanggaran lagi, hukuman justru menjadikan siswa semakin berani melakukan pelanggaran lagi, hukuman justru menjadikan siswa semakin berani melakukan pelanggaran. Bukannya mendorong siswa untuk mengubah perilaku jelek menjadi baik, hukuman malah menciptakan masalah-masalah, terutama bagi siswa yang dikenai hukuman. Inilah yang harus diperhatikan benar-benar oleh para guru. Ternyata, persoalan hukuman bukanlah sekadar menentukan jenis hukuman. Akan tetapi, ada hal lain yang lebih penting yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah hukuman, yaitu mengkomunikasikannya kepada siswa. Jika guru mampu mengkomunikasikan hukuman ini dengan benar, hukuman itu kemungkinan besar akan berdampak baik. (Abdullah Munir:2010) Ketika seorang siswa melakukan kenakalan di dalam kelas, tindakan yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah menegurnya. Jika sebuah teguran tetap membuat anak mengulangi kenakalan tersebut maka seorang guru juga perlu memberikan hukuman (hukuman non fisik). Hukuman yang bisa dilakukan seperti menyuruh siswa yang bersangkutan untuk mengerjakan soal di depan kelas, atau juga bisa menyuruh untuk mebacakan materi yang sedang diterangkan, bila perlu menyuruhnya untuk menerangkan di depan kelas. Bukan hal yang asing lagi mengenai kenakalan siswa di dalam kelas saat pelajarn fisika, dalam hal ini tidak 100% sepenuhnya kesalahan ada ditangan siswa atau guru. Ada beberapa cara mengajar agar lebih menarik dan meningkatkan antusias siswa, yaitu : 1. Mengajar dengan efisien Dalam mengajar tidak harus satu jam pelajaran diisi penuh dengan materi, lebih baik menerangkan poin-poinnya saja agar memunculkan banyak pertanyaan sehingga siswa dilibatkan dalam penguasaan materi dan yang terpenting adalah guru menguasai materi yang diberikan. 2. Menggunakan media pembelajaran yang menarik Dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik akan meningkatkan antusias siswa untuk mengikuti pelajaran, juga bisa memudahkan siswa menyerap materi. Misalkan dengan video-video yang berhubungan dengan materi, bisa juga dengan power point dengan design yang aneh sehingga menarik perhatian siswa. 3. Variasi dalam pemberian materi Terkadang pasti ada rasa kejenuhan saat mengikuti pelajaran, apalagi pelajaran fisika yang sudah di cap “sulit,ngeri,horor” oleh beberapa siswa. Cara mengatasinya bisa dengan cara siswa yang sudah paham, menerangkan didepan teman-temannya karena terkadang ada juga siswa yang lebih paham ketika dijelaskan temannya 4. Penyampaian materi secara kreatif Dalam menyampaikan materi tidak harus full membaca buku (text book) hal ini akan semakin membuat siswa bosan, ketika menyampaikan materi yang banyak teorinya mungkin bisa dengan mebaca kan materinya secara bergilir. 5. Membangun ketegasan, menjaga kedekatan Bersikap tegas tidak otomatis membuat jarak guru dengan siswa menjadi jauh. Sementara kedekatan belum tentu meruntuhkan wibawa seorang guru dimata siswa-siswanya. Dalam kondisi tertentu, seorang guru dituntut bisa bersikap tegas sekaligus dekat dengan siswa-siswanya. Cara terbaik agar guru disegani adalah dengan membuat siswa merasa santai dan senang bila didekatnya. Namun, kedekatan yang dibangun bukanlah kedekatan yang kebablasan, tetapi kedekatan yang terbingkai rasa hormat para siswa kepada gurunya. 6. Kewibawaan karismatik Walaupun seorang guru sudah dekat dengan siswa tetapi jangan sampai kita kehilangan wibawa dan karisma. Karena guru yang wibawa dan karismatik akan menghadirkan pengalaman yang unik bagi para siswa sehingga hatinya merasa tertawan. 7. Diselingi dengan humor Agar suasana tidak terasa membosankan saat mengikuti pelajaran, di samping dimaksudkan agar topik bahan ajar yang diberikan dapat diterima dengan baik. Dengan humor mungkin dapat menciptakan suasana “hangat” atau akrab dan mampu mendorong untuk melakukan motivasi agar siswa senang dan dapat menyerap materi dengan baik.. Hamachek dalm bukunya Characteristics of Good Teachers and Implications for Taecher Educators (1969), memberikan karakter profil seorang pengajar yang baik, yaitu : • Dalam memberikan bahan ajar, ia harus dapat fleksibel, tidak kaku pada bahan ajar yang ia berikan. • Dapat menerima pendapat atau usul siswa yang belajar, apakah itu pendapat yang benar atau yang salah. • Mampu menunjukan pribadi yang baik (tidak acak-acakan) • Mengupdate isi bahan ajar • Menguasai bahan ajar yang diberikan • Meluangkan waktu untuk membantu siswa yang belajar • Mempunyai sifat yang menarik dan ramah • Menggunakan tanya jawab BAB III PENUTUP Ketika seorang siswa melakukan kenakalan di dalam kelas, sebenarnya itu adalah wujud dari kurangnya minat terhadap materi yang diajarkan. Memberikan hukuman ketika siswa melakukan kenakalan bukan solusi yang tepat jika tidak dibarengi dengan intropeksi guru seperti apa cara mereka mengajar. Ketika memberikan hukuman kepada siswa seharusnya tidak sekedar memberikan hukuman tanpa sebuah esensi. Jangan biarkan seorang siswa menjudge seorang guru galak, karena galak tidak selalu terlihat wibawa. Jadikan siswa sebagai sahabat guru agar komunikasi lebih terjalin erat, tetapi juga harus tetap menjaga kewibawaan dengan cara membangun kedekatan tapi juga ketegasan. Guru yang kreatif bisa dijadikan alternatif untuk meningkatkan antusias siswa dalam menerima pelajaran khususnya dalam pembelajaran fisika. Dengan menggunakan metode-metode yang unik dalam penyampaian materi akan lebih memudahkan para siswa menyerap materi yang diberikan DAFTAR PUSTAKA Fananie, Zainuddin. 2011. Pedoman Pendidikan Modern. Surakarta: Tonta Medina Given, Barbara K. 2007. Brain Based Teaching. Bandung: Kaifa Mohammad Uzer Usman. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Munir, Abdullah. 2010. Super Teacher. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani Rooijakkers. 1991. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Gramedia Soekartawi. 1995. Meningkatkan Efektivitas Mengajar. Jakarta: Pustaka Jaya Sudarsono. 1991. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosydakarya Yudho, Purwoko. 2002. Memecahkan Masalah Remaja. Jakarta: Nuansa Cendekia Tema: Upaya mengatasi kenakalan remaja dalam pelajaran fisika dengan pembinaan karakter “GURU KREATIF SOLUSI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA” Disusun oleh : Uly Azmi Masna Pendidikan FISIKA (A) UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 10 jam lalu

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 11 jam lalu

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 14 jam lalu

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemeran Film Dokumenter Act of Killing Haram …

Handy Fernandy | 8 jam lalu

Asyiknya Wisata di TRMS Serulingmas …

Banyumas Maya | 10 jam lalu

Ajang Kompasianival Melengkapi Pertemanan …

Thamrin Dahlan | 10 jam lalu

Generasi Sandwich …

Sitti Fathimah Herd... | 10 jam lalu

Eh, Susi Nongol Lagi! …

Mbah Mupeang | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: