Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Hilda Wahyuni

Student of Agronomy and Horticulture I Bogor Agricultural University (Institut Pertanian Bogor I Angkatan 46 selengkapnya

Serial Cinta Anis Matta : Perang dan Cinta

OPINI | 15 June 2012 | 20:00 Dibaca: 318   Komentar: 0   0

Jhon Lennon adalah sebuah trauma. Lahir di tengah puing perang dunia pertama, kedua dan perang Vietnam. Legenda pop tahun 60an itu tiba-tiba menemukan bumi ini seperti sepenggal neraka. maka lahirlah Flower Generation dengan semangat anti perang dan fenomena hypies. Bahkan ketika nama Tuhan disebut dalam perang, Bob Dylan justru mengatakan: “If God in our side, He’ll stop the next war”.

Sejarah perang modern adalah mimpi buruk terpanjang umat manusia. Api, debu, darah dan air mata. Terlalu mengerikan. Perang modern jadi tragedi kemanusiaan karena ia lahir dari dendam, keserakahan, megalomania dan kesunyian. Imperialisme Eropa ke timur adalah riwayat dendam dan keserakahan. Perang dunia pertama dan kedua adalah kisah keserakahan dan megalomania. Napoleon, Hitler dan Mussolini adalah legenda megalomania dan kesunyian: perang adalah cara mereka menyebar kemeranaan mereka. Sebab itu perang modern adalah brutalisme, sadisme, kanibalisme: saat-saat panjang tanpa kasih dari orang-orang yang menemukan kepuasan pada tetes-tetes darah dan airmata.

Tapi perang tidak hanya punya satu wajah. Perang punya wajah lain yang lebih agung, etis dan manusiawi. Perang adalah takdir manusia. Suka atau tidak suka, perang itu niscaya terjadi. Bedanya hanya pada dua hal: siapa musuhmu; dan dengan cara apa kamu melawannya. Siapa musuhmu menentukan atas nama apa kamu berperang. Caramu melawan menggambarkan watak perang yang kamu lakoni. Di dalam batinmu yang terdalam sebenarnya kamu tahu atas nama siapa kamu berperang: kebenaran atau kebathilan. Angkara murka yang lahir dari kebathilan niscaya melahirkan dendam, keserakahan, megalomania, sadisme, brutalisme dan kanibalisme. Habis itu kesunyian yang panjang; dan darah yang terus mengalir tanpa kasih.

Maka begitu Hitler menyadari kekalahnnya, ia bunuh diri. Darahnya dan darah korban-korbannya sama saja: Merah! Tapi Khalid justru menangis karena mati di atas kasur, bukan di medan laga. Tapi mengapa revolusi Chili jadi nyanyian Pablo Nerudo? Mengapa Khalid bin Walid mengatakan: “Berjaga pada sebuah malam yang dingin di tengah peperangan, lebih aku sukai daripada berada di sisi seorang gadis di malam pengantin”? Mengapa Abu Bakar mengatakan “Carilah kematian agar kamu menemukan kehidupan”?

Jika kamu berperang di bawah bendera kebenaran, cinta mengendalikan motif dan caramu berperang. Tetap akan ada kekerasan dan darah. Tapi cinta membuatnya menjadi agung, etis dan lebih manusiawi. Perang -atau revolusi- adalah drama kemanusiaan. Di sana kita menyabung nyawa, karena ada yang kita cintai di sini; Tuhan, kehidupan, tanah air, bangsa, keluarga, diri sendiri. Perang bukanlah kebencian. Maka mereka yang tidak terlibat dalam perang tidak boleh dijadikan korban; anak-anak, orang tua, hewan, tumbuhan dan lingkungan hidup. Jika kebutuhan biologismu tersumbat karena perang, kamu bisa jadi sadis. Atau bahkan kanibalis. Maka prajurit perang -dalam Islam- harus kembali ke keluarganya setiap empat bulan; agar jihad lebih dekat kepada cinta, tidak berubah jadi benci.

perang semacam ini menciptakan kehidupan dari kematian. Hanya perang semacam ini yang dapat menghentikan perang dengan perang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 4 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 6 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 11 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: