Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Fandi Sido

Humaniora dan Fiksiana mestinya dua hal yang bergumul, bercinta dan kawin. | @FandiSido

Terjebak Kata “Seronok”

OPINI | 02 June 2012 | 23:27 Dibaca: 2272   Komentar: 27   3

13386363621103754161

Potongan gambar kata 'seronok' dalam beberapa media utama Tanah Air. Tanggal berita terlampir.

Kata ’seronok’ dalam sebulan terakhir sering dijumpai di banyak media tulis nasional. Baik di jajaran media-media arus utama, sampai blog keroyokan dan Kompasiana ini. Mencuat kembali saat kontroversi konser Lady Gaga sedang hangatnya diperbincangkan, kata ’seronok’ menggelitik saya untuk mencari arti yang sebenarnya di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Keheranan awal saya muncul ketika teman-teman dari Malaysia (atau bisa berbahasa Malaysia) menyinggung di salah satu blog yang kemudian dikicaukan beberapa orang di jejaring sosial. Dalam bahasa Melayu, seronok diartikan “sedap dipandang” atau “cantik”. Nah, bagaimana di dalam Bahasa Indonesia? Berikut arti kata ’seronok’ yang dimaktubkan dalam KBBI.

se·ro·nok a menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dsb): dl dunia keronggengan ini suara pesinden itu sama-sama — dan menarik hati;
me·nye·ro·nok·kan v menimbulkan rasa seronok;
ke·se·ro·nok·an n perihal (yg bersifat) seronok

Definisi di atas saya ambil-tempelkan langsung dari situs KBBI Daring, yang merupakan versi digital (walaupun lebih ringkas) dari KBBI asli yang berlaku. Simbol a menunjukkan kata tsb tergolong ajektiva atau  kata sifat. Bentuk lainnya yang bisa dikembangkan dari kata ini antara lain ‘menyeronokkan’ (verba) dan ‘keseronokan’ (nomina). Diluncurkan oleh Kemendiknas, pemaknaan untuk kata ’seronok’ juga hampir sama dengan Bahasa Melayu. Bahwa ternyata, ’seronok’ berarti sedap dipandang!

Nah. Apakah kalimat judul  berita (mis.) “Penampilan Seronok, Lady Gagal Konser” sesuai dengan konteks pemaknaan inti beritanya BENAR? … yang dalam beberapa waktu terakhir sejatinya melarang ybs konser atas alasan dandanan yang relatif kurang sedap dipandang? Bukankah keliru?

Untuk menjawab pertanyaan mengapa media kemudian terjebak dalam kata ini, ada dua kemungkinan yang bisa diangkat menjadi opini.

Pertama, media-media tidak sempat mengonfirmasi arti kata yang sebenarnya dari ’seronok’ sebelum memublikasikan berita. Akibatnya publik ikut-ikutan terjebak di dalam pemaknaan yang keliru bahwa seronok itu vulgar, seksi secara negatif, tidak sesuai etiket umum, dan/atau ekstentrik berlebihan.

Kekeliruan yang diamini oleh berita media dan diulang tiap hari membuat masyarakat percaya bahwa memang ’seronok’ adalah kata yang berkonotasi negatif, tanpa terpicu untuk menjadi kritis menemukan arti sebenarnya dari kata “seksi” ini.

Kedua, secara teknis kata ’seronok’ memang punya pola fonetik yang dekat dengan kata ’senonoh’. Kata ‘tidak senonoh’ kemudian bisa dijadikan pilihan tepat jika ingin menggambarkan kasus ketakutan atas penampilan Lady Gaga(l). “Masyarakat kita dikhawatirkan akan terpengaruh secara negatif oleh penampilan tidak senonoh Lady Gaga.” Kalimat ini, secara konteks dan pemaknaan benar. Bukannya seronok yang berarti sebaliknya.

Kata ’senonoh’ memiliki bentuk umum yang sering diawali oleh kata ‘tidak’ menjadi ‘tidak senonoh’. Di dalam KBBI, acuan artinya adalah

no·noh a, tidak — , kurang — tidak patut atau tidak sopan (tt perkataan, perbuatan, dsb); tidak menentu atau tidak manis dipandang (pakaian dsb): kelakuan yg tidak –; pakaian
tidak –;

yang memang dalam konteks konser dan penampilan fisik lebih tepat. Lalu, mengapa pakai ’seronok’?

Kekhawatiran utama nampaknya memang terjadi. Orang-orang yang mengerti Bahasa Indonesia sejatinya tahu, dan mungkin sudah sempat melayangkan surat protes kepada beberapa media arus utama yang salah menafsirkan kata seksi satu ini. Tapi apa boleh buat. Berita terlanjur tersebar begitu masif, dan bisa jadi ihwal arti kata seperti ini sejenak menjadi tidak esensial untuk ditindaklanjuti dalam perjalanan industri yang menarik begitu banyak perhatian masyarakat kita selama hampir satu bulan penuh.

Ke depannya, semoga media-media terdepan Tanah Air bisa lebih cerdas menggunakan diksi dalam pemberitaan, apatah lagi untuk berita yang tergolong ”hangat”  dan punya sisi kedekatan yang tinggi. Harapannya ya memang cuma satu: supaya media yang terlihat tangkas “menyuapkan” berita ke ruang publik bisa sekaligus terlihat cerdas, tanpa mengebiri atau menyelewengkan arti sebenarnya dari sebuah kata Bahasa Indonesia.

#bukakamus


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haru Jokowi-JK di Kapal Phinisi …

Yusran Darmawan | | 25 July 2014 | 10:00

Island Getaway ala Robinson Crusoe ke Nusa …

Ivani Christiani Is... | | 25 July 2014 | 14:32

US Dollar Bukan Sekedar Mata Uang …

Arif Rifano | | 25 July 2014 | 11:21

Yuk Bikin Cincau Sendiri! …

Ahmad Imam Satriya | | 25 July 2014 | 15:03

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 2 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 6 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 8 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: