Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Icuk Prayogi

Pencinta kucing--pegiat linguistik deskriptif--pengajar bahasa Indonesia dan linguistik--kontributor akun @kenalLinguistik :)

Universalitas Bahasa (Tinjauan Singkat)

OPINI | 12 April 2012 | 21:25 Dibaca: 1233   Komentar: 9   1

Istilah “bahasa” didefinisikan sebagai wujud komunikasi antarmanusia untuk dapat saling mengerti satu sama lain, sebagaimana yang dilansir oleh Edward Sapir tahun 1921. Yang dimaksud dengan “bahasa” ini merupakan sesuatu yang human specific (khas manusia).  Hewan tidak punya “bahasa” karena mereka hanya berkomunikasi dengan sinyal, yakni sinyal tubuh, bau, suara, warna, dan sebagainya. Bila Anda beranggapan sinyal ini merupakan “bahasa”, maka “sinyal manusia” lebih kompleks dan dapat berubah-ubah, dapat dimaknai dengan arti baru, serta dapat dikombinasi bermacam-macam. Sementara itu, “sinyal di dunia fauna” pada umumnya tidak dikombinasi dan tidak pernah membentuk arti baru (sejak zaman dulu ya itu-itu saja, misalnya kucing tetaplah bersuara “meoooong!!!”, kalau “meong-meong” manja palingan lagi minta makan sm majikan, dan umumnya suka mengencingi pojokan rumah demi menunjukkan “wilayah kekuasaannya”.hehehe)

Menurut National Geographic, tahun 2005 silam umat manusia di dunia secara aktif menggunakan 6.912 bahasa. Di antara ribuan bahasa tersebut sesama manusia dapat belajar bahasa yang berbeda-beda, walaupun dengan aksara yang berupa-rupa, tapi tetaplah bisa dipelajari karena sama-sama “bahasa manusia”. Beo hanya bisa mengucapkan paling banter puluhan kata yg ditiru dari majikannya, tapi si beo juga gak paham artinya, itulah tanda si beo tidak pernah benar-benar bisa berbahasa (beo = tape recorder bisa miber [terbang] :p ).

Manusia, walaupun sampai jelek sekalipun gak bakal bisa berkomunikasi dengan lancar sama semut. Karena tiadanya sinyal hewani yang sama, antara beo dan kucing tidak pernah bisa berkomunikasi (atau bisa, tapi kita gak tau? ngayal!hehehe). Contoh: cobalah berkata-kata atau memerintahkan kucing/anjing untuk membelikan Anda bakso. Bukannya bakso yang dibelikan, tapi uang yang Anda berikan bisa-bisa dimakan.hihihihi

Agar lebih jelas, mari kita bedakan: bahasa adalah milik manusia, sedangkan sinyal terbatas menjadi milik hewan (meskipun manusia juga punya sinyal semacam ini).

Mana yang berperan membentuk bahasa lebih dulu: otak atau lingkungan?

Sistem komunikasi yang sama meskipun berupa banyak perbedaan—dalam hal ini bahasa—yang digunakan umat manusia ini kemudian yang mendasari peranan kodrati (innate) sebagai pembentukan bahasa oleh manusia. Hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari peranan otak yang menjadi pusat segala aktivitas manusia. Otak menjadi salah satu faktor tumbuhnya bahasa sekaligus memegang peranan vital dalam fungsi-fungsi kebahasaan. Gagasan ini dikemukakan oleh Lenneberg, Chomsky, serta McNeil. Dalam teori ini tugas lingkungan hanyalah memberi sentuhan sedikit sehingga nanti bahasa akan berkembang sendiri.

Berbeda dengan teori innate, di kubu lain dikatakan bahwa saat manusia dilahirkan, otak manusia bagaikan kertas yang putih bersih. Teori ini dinamakan teori tabularasa atau emperisme. Dikatakan dalam teori ini bahwa bahasa berkembang karena jasa lingkungan tempat tumbuhnya si anak menjadi orang dewasa. Bahasa yang dijumpai oleh anak dalam lingkungannnya itulah yang akhirnya berwujud dalam otak. Teori ini mengatakan bahwa bahasa tak akan berkembang tanpa jasa lingkungan.

Tentang mana yang lebih dulu, terserah Anda, tapi saya memilih yang pertama saja :D

Benarkah bahasa manusia benar-benar beda?

Kata orang kuno, bahasa yang berbeda-beda “memisahkan” manusia sehingga kerap menyebabkan timbulnya salah paham. Namun, apakah bahasa di dunia benar-benar berbeda? Sebenarnya tidak ada perbedaan fundamental antara bahasa Jerman, Mandarin, Arab, Jawa Kuno, Jepang, Sansekerta, atau Bahasa Indonesia sekali pun. Karena itu, bahasa apa pun, asalkan masih “bahasa manusia”, dapatlah dipelajari. Orang Indonesia bisa belajar bahasa Rusia, orang Zimbabwe bisa belajar bahasa Tagalog, dan orang Eskimo bisa diajari bahasa Hindi, tapi “bahasa” hewani tidak bisa dipelajari dan diajarkan.

Kebisaan antarmanusia dapat saling mempelajari semua bahasa di dunia membuat salah satu calon linguis besar dunia pada 1950-an, Noam Chomsky, membuat satu hipotesis bahwa basis semua bahasa di dunia adalah tata bahasa universal, yang ada dalam diri setiap orang. Hipotesis ini menjadi sangat heboh pada saat itu. Hal itu kemudian menyulut revolusi di riset otak manusia. Hipotesis itu berkembang pesar, dan kemudian menjadi semacam gerakan ahli bahasa (disebut “linguis”) untuk mencari kaidah-kaidah keuniversalan bahasa manusia (disebut “tatabahasa universal”).

Tatabahasa universal adalah kumpulan aturan, yang kemudian disimpulkan struktur setiap bahasa manusia bumi. Tata bahasa universal ini asli bawaan setiap manusia, tertancap erat di otak kita. Mereka membentuk matriks, kerangka semua bahasa manusia. Seandainya tidak ada tata bahasa universal ini, kemungkinan besar bahasa-bahasa di muka bumi ini akan sangat berlainan sehingga bagi manusia yang bahasanya tidak sama, tidak akan dapat saling berkomunikasi.

Seperti semua fenomena biologis, tata bahasa universal terbentuk melalui evolusi. Kemiripan juga ada pada beberapa jenis hewan. Itulah sebabnya ada jenis kera, misalnya simpanse, yang dapat diajari bahasa isyarat. Tetapi karena sebuah matriks tidak bisa dibagi rata pada dua tipe makhluk hidup ini (manusia dan kera) maka tidak ada pula komunikasi yang sempurna di antara keduanya. Jadi, hanya sedikit mirip, tidak berarti sama.

Persamaan bahasa-bahasa di dunia

Bahasa-bahasa di dunia memiliki beberapa persamaan, yakni

1) bahasa-bahasa di dunia mengunakan butir-butir linguistik yang jenisnya sama,

2) bahasa-bahasa di dunia memiliki jenis varian yang sama,

3) bahasa-bahasa di dunia sama-sama mengunakan aturan gramatikal yang mendasari struktur butir-butir tersebut,

4) bahasa tersebut menggunakan sistem perlambangan makna yang sama,

5) bahasa-bahasa di dunia bersifat kreatif,

6) pemerolehan bahasa melalui proses tahapan-tahapan yang sama, dan

7) dalam berkomunikasi orang cenderung menyesuaikan diri kepada mitra bicara dan norma komunikasi agar komunikasi berjalan lancar. Dari berbagai laporan penelitian sosiolinguistik dapat dicatat bahwa semua bahasa memiliki varian seperti idiolek, dialek, ragam, undak-usuk, dan register (Gumperz dan Hymes, 1972, Fishman, 1972, Halliday, 1979, Poedjosoedarmo, 1984).

Universalitas bahasa dan timbulnya varian bahasa (dialek)

Terdapat suatu gejala perubahan gramatika yang merupakan pertemuan antara kekuatan yang bersifat universal dengan bentuk-bentuk yang ada di luar jangkauan otak. Pertemuan ini mengakibatkan  perubahan gramatikal yang sifatnya berantai. Bentuk yang satu mempengaruhi bentuk yang lain, sebagai akibatnya terjadi serentetan perubahan-perubahan. Hal ini terjadi karena aturan gramatika harus menjamin kemampuan bahasa yang pada akhirnya selalu efisien.

Timbulnya dialek berarti timbulnya perubahan pada beberapa sistem suatu bahasa. Perubahan ini dapat terjadi pada sistem fonologi, morfologi, dan sistem sintaksis.  Apabila pola intonasi kalimat berubah, maka tekanan pada kata berubah, kemudian dibarengi dengan perubahan jenis urutan kata dan frasa atau bahkan urutan frasa dalam kalimat. Setelah itu, perubahan ini dapat bersifat drastis, misalnya berupa hilangnya beberapa afiks serta munculnya pemarkah-pemarkah baru. Perubahan berantai semacam ini menjadikan bahasa yang tadinya sama menjadi sangat berbeda.  Setelah puluhan ribu tahun maka bahasa yang tadinya berubah menjadi sangat berbeda sama sekali dengan bahasa induknya. Di Indonesia saja jumlah bahasa ada sekitar 600–800 dengan dua sistem tipologi yang berbeda (ingat istilah: anak ayam [Austronesia Barat] dan ayam anak [Polinesia]).  Sebagai contoh, dulu bahasa Tagalog berelasi dekat dengan Melayu Kuno. Kedua struktur bahasa ini pada awalnya VSO (dan yang masih tampak VSO adalah Dialek Melayu Brunei, misalnya dalam kalimat Mambeli ku baju kamija), dengan pola intonasi kalimat deklaratif 23-22, sekarang telah berubah menjadi SVO dengan pola intonasi 231 (aku membeli baju kemeja). Pada zaman dulu, kedua bahasa ini juga sama-sama bernaung di bawah rumpun keluarga Austronesia Barat, yang induknya adalah bahasa Austronesia (tentang bagaimana perubahan bahasa dalam bahasa Melayu, disinggung lain kali saja).

Sejumlah ahli mengatakan bahwa bahasa Austronesia ini pun dulunya berelasi dengan bahasa Indo-Eropa, Semitik (Arab, Hebrew, Ethiopik), Turkik (di Eropa Tenggara dan Asia Barat), Finno-Ugrik (Finn, Hungaria, Lapp), Bantu (Afsel), Algonquian (Amerika Utara), Dravidia (India Selatan), dan terutama Sino-Tibet (Asia).

Memang tak mudah merekonstruksi kemudian membuat teori pakem yang dapat diterapkan pada semua bahasa di dunia, namun tidak ada yang sanggup menyangkal bahwa bahasa-bahasa tersebut berasal dari satu induk bahasa yang sama, yakni bahasa manusia.

Sumber:

(1) terutama dari “kitab suci” kumpulan makalah Soepomo Poedjosoeparmo (2008)

(2) sebagian juga diambil dari tugas berjamaah kelompok Jamaah Contekiyah (hihihi)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 7 jam lalu

(Saatnya) Menghukum Media Penipu …

Wiwid Santoso | 7 jam lalu

Setelah Kalah, Terus Apa? …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Jokowi Raih Suara, Ahok Menang Pilpres …

Syukri Muhammad Syu... | 9 jam lalu

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: