Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Rakyat Biasa

Sekedar menulis. Dan selalu berharap yang terbaik bagi bangsa ini

Toleransi vs Tenggang Rasa

OPINI | 21 March 2012 | 13:43 Dibaca: 7055   Komentar: 8   3

Pada umumnya orang mengatakan bahwa toleransi, tenggang rasa, dan tepa salira mempunyai arti yang sama, demikian juga yang tercantum di kamus-kamus bahasa Indonesia. Akan tetapi untuk keperluan penulisan artikel ini, ketiganya saya beri arti yang sedikit berbeda, sehingga kurang lebih menjadi seperti berikut:

- Toleransi adalah cara kita menjaga perasaan kita terhadap perbuatan orang lain.

- Tenggang rasa adalah cara kita menjaga perasaan orang lain terhadap perbuatan kita.

- Tepa salira adalah toleransi + tenggang rasa

Contoh:

- Orang yang toleransinya tinggi biasanya adalah orang yang pemaaf.

- Orang yang tenggang rasanya tinggi biasanya selalu berhati-hati dalam tindakannya.

13322902151621576443

Terlalu toleran disebut permisif, tidak punya toleransi disebut fanatik. Sedangkan terlalu tenggang rasa disebut paranoid, dan tidak punya tenggang rasa disebut cuek atau ignorance.

13322903021093452343

Selanjutnya egois adalah bila tenggang rasa lebih kecil dari toleransi (Egois ≈ Tenggang rasa < Toleransi), maka didapatkan kombinasi sebagai berikut:

1332290362888606479

Dari gambar di atas terlihat bahwa bidang yang baik adalah segi empat di tengah, dimana seseorang mempunyai kadar toleransi dan tenggang rasa dalam batas-batas normal. Garis batas normal adalah yang berlaku di masyarakat terkait (kumpulan individu, bukan per individu). Dan segitiga yang sebelah atas adalah lebih baik baik karena termasuk dalam normal tanpa egois, dimana tenggang rasa seseorang lebih besar dari toleransinya. Orang seperti ini biasanya tidak menimbulkan masalah dengan lingkungan sekitarnya.

Sedangkan segitiga normal sebelah bawah adalah normal egois. Orang atau kelompok yang berada di bidang ini cenderung melakukan tindakan-tindakan yang kurang bertenggang rasa dengan lingkungan sekitarnya. Dan karena masih berada dalam batas normal, biasanya mereka bersikeras membenarkan perbuatannya dengan dalih hak asasi manusia, atau bahwa yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan hukum. Sayangnya, yang seperti ini semakin banyak saat ini, seiring dengan maraknya perilaku cuek di masyarakat. Contoh: berpakaian yang tidak pantas di lingkungan yang agamis, atau mendirikan rumah ibadah di tengah lingkungan agama lain.

Para provokator biasanya mempraktekkan ilmu aksi-reaksinya di ujung batas area normal egois ini. Mereka melakukan aksi provokasi dengan perhitungan bahwa pasti akan timbul reaksi dari pihak yang terprovokasi, dimana reaksi tersebut akan berada di luar area normal. Dengan demikian pihak yang bereaksi inilah yang nanti akan dipersalahkan. Maka jelas tindakan para provokator ini adalah termasuk tindakan kriminal, biarpun masih berada di area normal.

Dan yang harus diwaspadai adalah yang berada di ujung bidang kiri bawah, karena kemungkinan besar disinilah berada bibit-bibit terorisme.

web counter

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 7 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 10 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: