Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Rembes = Reimburse

OPINI | 17 March 2012 | 06:08 Dibaca: 7579   Komentar: 40   4

1331964250796825167

Rembes alias Reimburse (ilust suntechmed.web4.hubspot.com)

Seorang pasien yang selesai berobat gigi pada saya, minta dibuatkan kuitansi. Katanya kuitansi ini akan dipakai untuk ’rembes’ pada asuransi kesehatan. Hampir saja saya tergelak di hadapan pasien yang dengan lugunya mengucapkan kata ’rembes’ ini. Kata yang secara asosiatif selama ini mengacu kepada keadaan cairan yang menyusup pada suatu lapisan, ternyata berasal dari kata Inggris ’reimburse’. Reimburse bermakna ’mengganti uang yang sudah dikeluarkan seseorang untuk sesuatu pembayaran dan juga untuk uang yang hilang’ yang lazimnya dilakukan oleh instansi penjamin sesuai dengan perjanjian. Saya belum bisa memastikan apakah pelafalan ’rembes’ ini hanya diucapkan orang di Palembang saja ataukah sudah berlaku ’nasional’.

Pengalaman lucu mendengar istilah Inggris yang dilafalkan dengan lidah kita juga saya temukan waktu mendengar penjelasan penyelia bank soal tabungan yang tidak ada kegiatan transaksi selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Istilah dalam bahasa Inggrisnya adalah ’dormant’ yang secara harfiah bermakna ’tidur berkepanjangan’, misalnya pada gunung berapi yang tidak aktif, pada tanaman yang masih hidup tapi tidak bertumbuh, pada bibit penyakit dalam stadium pasif. Rasa geli saya timbul karena kata ini dilafalkan dengan ’dormen’, di mana ’men’ diucapkan seperti pada kata ’permen’. Jadi dengan cara pelafalan seperti ini asosiasi saya tergiring pada kata ’doorman’ yang tak lain adalah penjaga pintu. Pelafalan yang benar adalah ’dormen’ dimana ’men’ diucapkan seperti pada kata ’menteri’. Sedikit sulit memang untuk dijelaskan dalam tulisan dan lebih enak kalau dicontohkan langsung secara lisan (verbal).

Anda semua pasti sudah sangat akrab dengan kata berikut ini yaitu ’mall’. Bagaimana cara pelafalan dan cara penulisan yang baku dan benar? Sebagian orang melafalkannya dengan ’mol’ dan sebagian lainnya dengan ’mal’. Mana yang benar? Cukup sulit untuk menjawabnya, terlebih-lebih Pusat Bahasa pernah memberi fatwa bahwa pengejaan kata yang berasal dari bahasa asing tak boleh didasarkan atas cara pelafalannya. Aturan yang kaku ini justru membuat masyarakat membangkang dengan membuat pelafalan (dan juga pengejaan) yang dirasa paling enak di lidah. Misalnya kata yang satu ini: tubeless yang maknanya ’tanpa tube (ban dalam)’. Lidah kita lebih nyaman melafalkannya dengan ’tubles’ yang kebetulan sama dengan kata bahasa Jawa yang artinya ’mencoblos’. Dan kebetulan pula pada waktu menambal ban tubeless yang bocor, tukang ban akan mencoblosnya dengan sumbat berperekat.

Pelafalan yang mungkin sengaja dipelesetkan namun sekarang cukup ’populer’ dalam wacana lisan adalah ’parno’. Istilah ini berasal dari kata Inggris ’paranoid’ yang bermakna ’sifat suka curiga berlebihan’. Memang saya akui lebih mudah mengingat kata ’parno’ daripada kata ’paranoid’ yang ribet, meskipun ada rasa kasihan juga pada mereka yang kebetulan menyandang nama Suparno. Kata ’sales’ juga termasuk yang paling sering dibelokkan pelafalannya. Kata ini cukup sering kita baca pada iklan di koran atau pada banner raksasa di pasar swalayan yang maknanya ’penjualan dengan harga dibanting’. Atau juga pada istilah pramu-jual yang disebut dengan ’salesman’. Namun nampaknya makin banyak saja orang yang melafalkannya ’sales’, serupa melafalkan kata ’males’.

Dan bagaimana pula dengan sementara orang yang melafalkan ’timer’ (seharusnya ’taimer’) dengan ’timer’ bersenada seperti ’timun’? Atau istilah ’account’ (yang seharusnya dilafal dengan ’ekaun’) dengan ’akun’? It’s no big deal (tak jadi soal), kata saya, selama khalayak penggunanya merasa nyaman mengucapkannya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 10 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 11 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Program ‘Haji Plus Plus’: Bisa …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Sampai Kapan Hukum Indonesia Mengecewakan …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

ISIS di Indonesia …

Irham Rajasa | 8 jam lalu

Sampai Kapan Polwan Dilarang Berjilbab? …

Salsabilla Hasna Mu... | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: