Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Philip Ayus

menjaga kewarasan lewat tulisan | twitter: @tweetspiring.

Aktifitas atau Aktivitas?

OPINI | 27 February 2012 | 22:55 Dibaca: 3789   Komentar: 10   3

Entah apa penyebabnya, saya melihat cukup banyak kesalahan eja yang tidak perlu ditampilkan di ruang publik. Mungkin karena kita memasuki era “anti-klimaks” orde represi khas Soeharto, sehingga kita enggan untuk menyesuaikan diri dengan standar yang sudah ada, sehingga setiap orang tidak merasa perlu untuk mengecek kamus untuk melihat apakah kata-kata yang mereka publikasikan itu sudah tepat.

Bagi sebagian orang, mengecek kamus itu mungkin rasanya seperti terkungkung dalam penjara ejaan. Selama maksud yang ingin disampaikan dapat tercapai, mengecek kamus adalah kegiatan yang membuang waktu saja. Itu sebabnya, kita mendapati berbagai iklan rumah yang mencantumkan besar-besar kata-kata seperti, “DIKONTRAKAN”, “DI KONTRAKAN”, atau “DISEWA”.

Gejala abai berbahasa ini tak hanya muncul di jalanan, namun juga bertaburan di berbagai media massa resmi. Dalam hal kritik terhadap berbagai kesalahan eja yang ada di media massa, mas Herman Hasyim bisa dikatakan sebagai salah satu penggiat yang bisa kita perhitungkan, meski untuk masalah frasa “rahasia umum” yang dibahasnya dalam salah satu tulisannya, beliau kurang tepat memahaminya.

Nah, seiring dengan perubahan tampilan Kompasiana ini, ada satu hal yang cukup mengganjal di hati, yakni mengenai istilah “Aktifitas” pada dashboard, yang mungkin diterjemahkan dari kata berbahasa Inggris “Activities” yang terdapat pada dashboard lama. Mengapa mengganjal? Tentu saja, karena kata “aktifitas” itu tak terdapat di dalam perbendaharaan kata kita.

Salah satu “hukum” penyerapan bahasa asing, memang adalah mengubah “ve” menjadi “f”, seperti pada kata “aktif”, “permisif”, atau “positif”. Akan tetapi, jika kata yang diserap masih ada tambahan “-ity” atau “-ism”, maka huruf “v” tetap dipertahankan, sehingga “activity” akan berubah menjadi “aktivitas” dan “positivism” berubah menjadi “positivisme”.

Sebagaimana jamak diketahui, Kompasiana adalah situs yang menginduk pada Kompas yang merupakan salah satu media yang menjadi panutan dalam tata bahasa. Kegelisahan pun mau tak mau hadir ketika mendapati bahwa pengelola situs ini ternyata kurang memperhatikan kaidah bahasa Indonesia. Sama gelisahnya seperti mendapati ungkapan “kebohongan publik” terus dipertahankan hingga kini, dengan maksud yang sama sekali berbeda dari makna intrinsiknya.

Ya, mungkin saja ada faktor ketergesa-gesaan di dalamnya, mengingat tampilan baru ini memang kesannya dibuat terburu-buru untuk mengejar tenggat waktu yang agaknya sudah lewat. Semoga pengelola Kompasiana bisa bersikap bijak dalam menerima setiap masukan dari anggotanya, yang tentu saja bermanfaat demi kemajuan Kompasiana ini di masa mendatang. Salam Kompasiana!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 8 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 8 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 12 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: