Artikel

Bahasa

Identitas Sastra Indonesia


OPINI | 23 February 2012 | 01:19 Dibaca: 263   Komentar: 0   1 dari 1 Kompasianer menilai menarik

IDENTITAS SASTRA INDONESIA

: Di antara persimpangan budaya barat dan timur

Titik Tolak Pemahaman Sastra di Timur dan Barat

Melacak identitas sastra Indonesia tidak bisa lepas dari sejarah yang telah terjadi di Indonesia, baik itu sejarah nasional ataupun sejarah sastra itu sendiri. Kata “sastra” berasal dari akar kata sas (Sansekerta), yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan instruksi. Akhiran tra berarti alat atau sarana. Jadi, secara leksikal sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Sebagai contoh, dalam khazanah Hindia, sastra sebagai makna buku petunjuk dapat dijumpai pada istilah silpasastra (buku petunjuk arsitektur untuk candi), kamasutra (buku petunjuk percintaan). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah sastra sering dikombinasikan dengan awalan su sehingga menjadi susastra, yang dimaknai sebagai hasil ciptaan yang baik dan indah.

Kata tersebut lantas diapakai, dilestarikan, dan dikembangkan mulai dari jaman kerajaan-kerajaan kuna di Nusantara sampai sekarang. Menilik dari pengertian dan fungsi dari “sastra” itu sendiri, dapat dianalisis bahwa tidak semua orang bisa ber”sastra”. Orang yang ber”sastra” haruslah orang yang telah ahli dalam segala bidang kehidupan, sehingga ia bisa mengajarkan kehidupan kepada orang lain.

Dalam pemahaman tersebut, muatan isi dari “sastra” menjadi hal yang menonjol, mengingat isi dari “sastra” itulah yang bertanggung jawab dalam mengajarkan dan memberi petunjuk tentang kehidupan. Bentuk dari “sastra” menjadi hal yang sekunder, karena hanya berfungsi sebagai sarana untuk penyampaian isi dari “sastra” itu sendiri. Sehingga tidak masalah apakah penyampaian “isi” dari sastra tersebut disampaikan secara tertulis, lisan, atau bahkan dengan media gambar, atau wayang. Kecenderungan untuk menggali tentang “isi” itulah yang memunculkan benang merah dengan filsafat, sehingga memunculkan opini bahwa sastra adalah salah satu bentuk dari filsafat.

Sedangkan di belahan dunia yang lain (dunia barat), “sastra” dengan segala pengertiannya dimaknai berbeda. Dunia barat menggunakan istilah literature untuk menyebut dan memaknai perihal yang di Timur disebut “sastra”. Sastra dalam istilah-istilah Barat, yang mengacu dari bahasa Latin, disebut sebagai litteratura, yang artinya segala sesuatu yang tertulis. Tentu saja litteratura mengalami perkembangan pemahaman, sehingga bisa memiliki porsi yang sejajar dengan pengertian “sastra”. Namun kebalikan dari “sastra” yang berkembang di Timur, kesenian di Barat menitikberatkan ke segi “bentuk” dari pada “isi”. Pemahaman tentang sastra di dunia barat adalah tertulis, sehingga dunia barat tidak mengenal istilah sastra lisan.

Perkembangan Selanjutnya

Akar Sastra Indonesia beranjak dari hakikat sastra Timur, yaitu tentang kecenderungan “isi” dalam penyampaian petunjuk tentang kehidupan. Dalam penggalian tentang “isi”, sastra yang berkembang di Indonesia bersinggungan dengan pola hidup masyarakat Indonesia yang religius. Sehingga muncul opini yang menyebutkan bahwa mantra adalah suatu karya sastra. Ketika agama mulai diperkenalkan di Indonesia, maka muatan sastra yang berkembang menjadi lebih kental dengan nuansa keagamaan. Dalam kasus ini, banyak kitab-kitab, prasasti-prasasti yang juga mengandung unsur sastra. Kecenderungan ini berlangsung cukup lama, sampai kelima agama besar menyebar di Indonesia.

Di ranah barat, literature berkembang seiring dengan berkembanganya permahaman manusia barat tentang rasionalitas. Hal ini mencapai puncaknya ketika zaman renaissance dan aufklarung (pencerahan). Zaman itu ditandai dengan maraknya penemuan-penemuan besar yang memesona dan memudahkan kehidupan manusia. Hal meninggalkan pengaruh dalam pola pikir, pandangan, dan pendirian orang, menjadi lebih berusaha untuk menguraikan kenyataan yang ada sampai pada unsur-unsur terkecil. Karena hasrat untuk menguraikan sesuatu sampai pada unsur-unsur terkecil itulah, maka di barat muncul teroti-teori baru yang mencoba untuk menguraikan literature. Sehingga literature dijadikan semacam objek yang tidak ada bedanya dengan sebuah mesin yang harus diteliti dan diuraikan.

Dalam kondisi sosial masyarakat yang seperti demikian, kesusastraan menjadi alat yang mencerminkan kehidupan seperti adanya tanpa ada usaha untuk mengubah kesadaran. Kesusastraan mencerminkan sikap dan pandangan masyarakat yang rasionalistis, individulaistis, yang berimbas kesusastraan tidak menawarkan suatu alternatif.

Persinggungan sastra Indonesia dengan Literature Barat

Tidak bisa dipungkiri, singgungan antara sastra timur dengan literature dari barat mempunyai dampak yang besar terhadap Sastra Indonesia. Munculnya masyarakat modern, dengan segala pemikirannya, menggiring perhatian orang Indonesia untuk lebih menoleh kepada dunia dengan menyelidikinya dengan berbagai teori. Pun dengan dunia sastra. Unsur-unsur intelektualisme, rasionalisme, individualisme, dan penekanan pada fenomena menjadi hal yang utama dalam mencipta dan memahami karya sastra.

Nilai-nilai sastra timur menjadi kabur. Sastra tidak lagi menjadi suatu ajaran yang mengarahkan dan memberi petunjuk tetang kehidupan, tetapi menjadi bentuk pengejawantahan dunia dari sudut pandang pengarang. Yang ditampilkan adalah segi-segi jasmaniah dan material dari kondisi kehidupan dunia. Pergeseran nilai pun terjadi di situ. Dampak dari pergeseran nilai ini adalah pemanfaatan sastra untuk kepentingan tertentu.

Dalam iklim seperti itilah sastra Indonesia modern berkembang. Secara resmi, sastra Indonesia muncul seiring dengan berdirinya negara republik Indonesia, meskipun penamaan Indonesia sendiri sudah ada jauh sebelum tahun 1945, tahun saat Indonesia merdeka. Tetapi kemunculan sastra Indonesia tidak bisa diukur dengan hanya melihat tahun berdirinya negara republik Indonesia. Kemunculan sastra Indonesia dilacak berdasarkan bahasa yang dipakai dalam sastra Indonesia itu sendiri. Pada mulanya, masyarakat Indonesia menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari. Pun dalam bersastra, masyarakat Indonesia menggunakan bahasa Melayu. Penamaan bahasa Indonesia secara resmi terjadi tahun 1928, ketika terjadi sumpah pemuda.

Sastra Indonesia di Masa Sekarang

Rasionalitas sebagai dasar pemikiran orang modern, mulai mendapat tentangan yang cukup berarti. Khususnya di abad ke-20, rasionalisme telah ditentang oleh antirasionalisme, humanisme dengan antihumanisme, individualisme dengan kolektivitas. Adanya pemikiran yang berlawanan dengan pemikiran modern ini menyebabkan polemik yang berkepanjangan. Pemikiran-pemikiran anti modern inilah yang menjuadi cikal-bakal era postmodern. Suatu era di mana akal dan rasio tidak menjadi patokan berfikir.

Ranah sastra menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari “revolusi anti modern” tersebut. Pemikiran baru ini berpeluang untuk membawa sastra kembali ke timur, sebagai pedoman dalam kehidupan, tanpa terpatok untuk mengungkapkan apa itu sastra berserta teori-teori yang mengikutinya. Namun tampaknya gerakan untuk membawa sastra kembali ke timur cukup sulit, mengingat teori-teori dan pemikiran yang mendalam tentang bentuk dari sastra telah mendominasi pelaku sastra di Timur.

Dari berbagai fenomena tersebut di atas, dilihat dari sosio-budaya, tedapat dua jalur perkembangan sastra. Jalur pertama berorientasi kepada barat yang dipelori oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, dan Surat Kepercayaan Gelanggang. Menurut jalur ini, kesusuastraan Indonesia muncul ketika memperlihatkan ciri estetik yang berbeda sama sekali dengan ciri estetik karya sebelumnya dan menolak konvensi yang sudah ada sebelumnya. Jalur ini mendapat pengkukuhan ketika muncul kritikus sastra yang membahas hal tersebut, seperti A. Teeuew dan H.B. Jassin.

Jalur kedua adalah jalur sastra yang lahir berdasarkan konsensus nilai budaya yang mengandung sisi lokalitas yang kuat. Percampuran etnis dan religi (agama) mendominasi dari segi isi. Bisa dikatakan jalur kedua ini masih mengangkat hakikat sastra sebagai media pembelajaran kehidupan dan pedoman hidup. Perkembangan jalur kedua ini menjadi semakin pesat ketika generasi yang mendapat pengaruh modern dari barat tergantikan oleh era anti-modern.

Dinamika kedua jalur tersebut menggiring sastra Indonesia kepada pemahaman sastra secara global. Hal ini menandakan bahwa sastra Indonesia mampu bergerak dinamis dengan menyesuaikan iklim sosial budaya secara lokal maupun global. Dampak lain, yang mungkin bisa dikatakan negatif, adalah pudarnya hakikat sastra Indonesia itu sendiri. Mengingat identitas sastra Indonesia menjadi kabur, bahkan pengertian sastra secara umum.

Sastra Indonesia adalah …

Kekaburan definisi sastra seakan sudah menjadi kodrat sasta itu sendiri, melihat dinamika yang mengiringinya. Baik dinamika sejarah, polemik, dan lain-lain. Berkembanganya pemahaman tentang apa yang disebut sebagai karya sastra turut menambah kekaburan definisi sastra. Pemahaman lama mengatakan bahwa karya sastra terdiri dari tigal jenis, yaitu, puisi, prosa, dan drama, telah tergempur dengan dimasukkannya biografi, esai, dan komik ke dalam ranah sastra.

Lantas dengan pemahaman seperti apa, supaya kita bisa menjawab dengan tepat ketika muncul pertanyaan, apa itu sastra Indonesia? Sebelum menjawab pertanyaan ini, hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu dinamika sastra yang terjadi di Indonesia, sehingga kita akan mempunyai jawaban yang khas Indonesia, karena setiap daerah / negara memiliki dinamika dan pemahaman sastra yang berbeda-beda. Meskipun kita akan mengungkapkannya dengan bahasa yang berlainan. Seperti kata Edward Sapir yang mentok mencari definisi sastra, “we shall have to take literature for granted.” (kita harus menerima kesusastraan seperti apa adanya).

Sumber Penulisan

Sastra dan Budaya (Subagyo Sastrowardoyo)

Mitos dan Komunikasi (Umar Junus)

Sastra-Indonesia.com

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: