Editing, Bahasa, dan Soal Selera

OPINI | 14 February 2012 | 17:25
576 12 2

Senjata jurnalis, penulis, dan editor itu ada di bahasa. Sebab, dengan bahasa inilah mereka berkarya. Bahasa, dengan kekayaan kosakata di dalamnya, menjadi alat penting dalam berbahasa tulis. Ada banyak diksi dalam khazanah bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah satu panduan untuk kita menulis. Ada banyak diksi di dalamnya. Jutaaan lema yang bisa kita pakai saat menulis.

Namun, ada kalanya beberapa kosakata resmi dalam kamus tidak akrab dalam percakapan lisan sehari-hari. Hal itu menyebabkan publik kurang bisa menerima. Media cetak sebagai alat edukasi acap kukuh menggunakan bahasa yang baku untuk pembacanya. Meski ada beberapa yang tak lazim, media tetap menggunakannya.

Sebagai contoh penggunaan “ustaz”, “penggawa”, dan “jemawa”. Dalam percakapan sehari-hari secara lisan, kita barangkali lebih akrab dengan “ustadz”, “punggawa”, dan “jumawa”.
Diksi “ustaz” memang tepat karena untuk menunjukkan dai yang perempuan kita menggunakan “ustazah” bukan “ustadzah”.

Ya, bahasa memang soal citarasa. Selain pilihan diksi yang berbeda, soal kelaziman juga diperhatikan. Di kamus, hewan trenggiling itu bentuk bakunya “tenggiling”. Namun, itu sama sekali tak lazim. Semua manusia barangkali akrab dengan trenggiling ketimbang tenggiling. Dalam konteks ini, lebij bijak kalau trenggiling yang dipakai. Soal herbal juga demikian, padahal yang baku di dalam kamus ialah herba. Lantaran tak lazim dan metode pengobatan “kembali ke alam” ini selalu tren, media juga mengakomodasinya dengan “herbal”, bukan “herba”.

Dalam ranah media massa, otoritas memang ada di media itu. Pembaca tinggal menikmati bacaan dengan ragam kosakata di dalamnya. Kadang pembaca menemukan diksi yang barangkali tak akrab. Akan tetapi, media tetap menggunakan. Ini mesti dipahami sebagai usaha melestarikan banyak diksi yang belum digali.

Untuk menunjukkan seseorang yang minum kopi, dalam menulis, sebagaimana dilakukan media, kita bisa membuat kalimat “Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Raja Swedia Carl XVI Gustaf menyesap kopi di Istana Bogor pagi ini. Diksi “menyesap” bisa dipakai buat menunjukkan mengonsumsi kopi. Konon, minum kopi ini tak sekadar minum “glek” seperti minum air tawar. Karena punya citarasa khusus, minum kopi mesti dinikmati benar. Menyesap begitu. Nah, saat aroma kopi keluar dan hidung kita menghirupnya, ada kosakata yang bagus: menguar. Contoh kalimat: Saat kami tinggalkan, aroma tetumbuhan herbal menguar dari rumah itu.

Dalam ranah buku, pilihan diksi bergantung pada penulis dan editor. Keduanya mesti bersinergi agar setiap kalimat yang ditatahkan bisa bagus.

Saya punya pengalaman. Tahun 2009, seorang teman berniat menulis buku. Ia menemui saya dan meminta mengedit bukunya. Saya oke. Saya senang karena ada teman mau menulis buku. Honornya harga teman saja. Satu juta perak lebih dua ratus lima puluh ribu. Judul bukunya cukup menghentak, mengagetkan, dan bakal sedikit kontroversial: Allah pun Taubat. Yang pasti, isi buku bukan menggugat Tuhan, malah menambah ketakwaan.

Dari sisi judul saja, kami berdebat. Diksi “taubat” yang baku dalam perbendaharaan kosakata ialah “tobat” yang maknanya permohonan ampun kepada Allah. Dari sinilah diskusi menemui benang merah. Teman itu, Muhammad Farid namanya, sengaja mempertahankan diksi “taubat” karena ia kepingin mengembalikan arti asli lema itu. “Taubat” dalam definisi Alquran yang diketengahkan Farid bukan permohonan ampun, tetapi “kembali”. Ia menyitir satu ayat yang menjelaskan kalau hamba itu beriman, ia dekat dengan Allah. Kalau ia melakukan kemaksiatan, ia menjauhi Allah. Dan saat ia sadar dan mau iman, ia kembali (taubat). Nah, saat seorang hamba taubat dalam arti kembali, Allah pun taubat (kembali) ke hamba. Saat kita jauh, Allah juga jauh. Saat kita dekat, Allah pun dekat. Saya menggut-manggut dan sepakat diksi “taubat” dipertahankan.

Untungnya, dalam beberapa diksi lain Farid mau berkompromi dengan aturan EYD dan kosakata baku. Maka, pilihannya waktu itu Alquran ketimbang Al Qur’an, ustaz dibanding ustadz, sedekah dari sodaqoh, dan infak bukan infaq.
*
Bahasa memang ada bakuannya dalam ranah penulisan. Akan tetapi, yang namanya selera itu bergantung pada citarasa. Mana enak, mana suka. Itu yang dipakai. Kelaziman menjadi faktor penting juga dalam memilih diksi. Ada yang baku, tetapi lantaran tidak umum, tidak dipakai. Yang digunakan malah yang jamak digunakan masyarakat. Kalau pilihannya kemudian menggunakan jumawa ketimbang jemawa, punggawa bukan penggawa, dan sumringah bukan semringah, silakan saja. Soal “silakan” ini sudah baku ya, bukan “silahkan”.

Akan tetapi, untuk kata denotatif tentu tak bisa diubah. Kalau ingin menunjukkan sesuatu yang diam saja, pakai “bergeming”. Jangan tambah dengan kosakata “tidak” sehingga menjadi “tidak bergeming”. Geming itu ya diam saja. Tidak bergerak, ke kiri atau ke kanan. Kita acap salah dengan menulis atau melafalkan “tidak bergeming” untuk sesuatu yang diam, padahal itu keliru.

Demikian juga dengan lema “acuh”. Acuh ini konotasinya positif. Maknanya peduli. Kalau “acuh tak acuh” maksudnya seperti iya tapi tidak, kayak mau kayak enggak. Tidak jelas begitu. Tapi soal “acuh”, maknanya peduli. Seorang kekasih yang protes sama calon suaminya di saat Hari Valentine tidak mengucapkan kalimat sayang, jangan bilang “Kok kamu acuh banget sih sama aku, sampai di Valentine aja enggak ngucapin apa-apa.”
Ini kan maknanya jelek. Mestinya ia bilang dengan kekasihnya itu: Kamu bener-bener enggak acuh sama aku, Valentine aja enggak ngucapin apa-apa.”

Ada banyak diksi yang bisa digunakan penulis dan editor agar khazanah kosakatanya kaya. Ada juga banyak sinonim buat kata yang sejenis atau mirip. Dan kita juga punya pepatah dan peribahasa sebagai pengaya kalimat.

Ada diksi “banal” untuk menunjukkan situasi yang rusak. Ada “semenjana” untuk menunjukkan kelas atau mutu yang sedang-sedang saja. Ada “menaja” sebagai alternatif untuk “mengadakan”, “menyelenggarakan”, “mensponsori”, dan sejenisnya.

Di kamus juga ada “lindu” untuk mengganti kata gempa bumi. Juga ada lema “kudapan” sebagai padanan snack dalam bahasa Inggris. Yang jarang dipakai ialah “taklimat” untuk memadankan briefing.

Ya, bahasa memang soal selera. Semangatnya tentu menggunakan bahasa Indonesia secara baik, khususnya dalam tulisan. Dan artikel yang setiap hari kita unggah di blog, seperti Kompasiana ini misalnya, bisa menjadi ajang belajar. Soal selera itu benar. Mana suka itu dipakai. Yang pasti tidak keluar dari jalur berbahasa yang sudah dirumuskan pakar bahasa kita. Hitung-hitung menghargai kerja mereka demi menertibkan bahasa Indonesia. Bahasa memang soal citarasa, pilihannya sangat pribadi. Akan tetapi, ranahnya tetap dalam langgam yang benar dan tertib.

Tags: Array

Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Menyiasati Kejenuhan Menulis

Memasuki tahun ke 4 di Kompasiana pernah dalam satu tahun ...

Menulis, Bukan Untuk Menutupi Status Pengangguran

Menulis itu hak siapa saja. Bahkan burung-burungpun menulis ketika ia ...

Kompasianer, Mari Belajar Menulis dari Bu Anni  

Ada seorang penulis di Kompasiana belakangan ini yang fenomenal. Namanya ...