
Bukan penulis, hanya seorang pembaca yang ikut-ikutan menulis di kompasiana sambil minum teh manis. Blogger di www.ivankavalera.com, freshgress.blogspot.com dan beberapa blog lainnya yang lebih sering terbengkalai. Di antara lalu lintas ide dan peristiwa kadang lebih memilih bersetubuh dengan sunyi dan menikmati musik Blues di bawah hujan.
Dibaca: 103
Komentar: 0
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
Di manakah para penyair bermukim? Di lembah manakah prosais mengembara? Kompasiana, tentu adalah salah satu tempat mereka berkumpul sesekali. Tempat mereka bertukar tangkap dengan lepas.
Salah satu kecenderungan baru sejak sepuluh tahun terakhir di jagad sastra tanah air adalah prosa yang puitik dan puisi yang naratif. Penulis-penulis mutakhir Indonesia seperti Puthut EA, Nukila Amal, Nova Riyanti Yusuf, Radhar Panca Dahana, dan Ayu Utami mungkin telah menemukan cara tutur puitik yang dimaksud. Misalnya dalam kumpulan cerpen Sarapan Pagi Penuh Dusta karya Puthut EA. Dalam antologi ini dapat dilihat kepiawaian Puthut dalam menyampaikan isi cerita dengan pilihan kata-kata puitik yang walaupun rumit, namun tetap memukau. Seperti yang terlihat dalam kutipan berikut:
Aku memasuki rumah ini seperti memasuki diriku sendiri, seperti memasuki ingatanku sendiri. Sebagaimana aku pernah berdsusta dan berkhianat pada diriku sendiri, berdusta pada ingatanku sendiri, aku juga pernah berdusta dan berkhianat pada rumah ini (Rumah, hal. 39).
Sementara Puthut, Nukila Amal dalam novelnya Cala Ibi, pun berhasil menyeret emosi pembaca untuk terus mengikuti jalan cerita dengan pilihan kata-kata berirama serupa puisi. Mengutip Budi Darma, dalam novelnya ini Nukila berjuang keras, agar bahasa (yang didedahkan) benar-benar puitik (kata penutup dalam Cerpen Pilihan Kompas 2005).
Lalu puitika yang bertutur ala Nova Riyanti Yusuf yang berusaha memikat pembaca dengan memasukkan kata-kata puitik dalam ceritanya, seperti yang terlihat dalam penggalan berikut:
Kucari-cari dia
Semakin tak sabar
Kupanggil dia
Tidak ada jawaban
(Imipramine)
Walaupun kata-kata yang dipilih adalah sesuatu yang umum, namun disanalah letak kepuitisannya. Kesederhanaan yang dipilih Nova cukup memikat dan juga dalam jika ditinjau dari segi makna.
Selain Afrizal Malna, penyair yang termasuk dalam barisan ini antara lain, Wendoko, Oka Rusmini dan sederetan nama lainnya. Dalam karya-karyanya, mereka tampak memasukkan beberapa ciri narasi yang dimaksud, misalnya dengan memakai kata-kata biasa serta percakapan seperti prosa. Dengan bentuk puisi yang demikian tidak serta merta menjadikan puisi mereka menjadi puisi polos namun tetap dalam dan tajam. Para penulis yang disebutkan terakhir bahkan telah menemukan semacam bentuk-bentuk baru instalasi kata.