Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Logat dan Bahasa Gaul Anak Medan

HL | 05 January 2012 | 13:43 Dibaca: 9563   Komentar: 61   6

13257703741312613149

Ilustrasi - fitzygirl1992.wordpress.com

Pada dasarnya bahasa yang dipergunakan di daerah Medan dan sekitarnya adalah bahasa Indonesia. Namun dikarenakan budaya yang beragam, bahasanya pun turut beragam termasuk logat berbicara. Beberapa ada yang berbicara dengan logat batak (batak di sinipun beragam), logat melayu dialek ‘o’, logat nias , logat Minangkabau dan lain sebagainya.

Mungkin sebagian orang ada yang belum tahu bagaimana logat dan bahasa orang-orang di daerah  Medan dan sekitar. Apakah anda pernah menonton sebuah film yang berjudul “Nagabonar Jadi 2″. Kira-kira logat dan bahasa yang ditampilkan Tora Sudiro sudah cukup mewakili. Namun setelah saya browsing ternyata banyak yang menyebutkan bahwa logat yang dipakai Tora Sudiro bukan logat batak tetapi logat melayu pesisir dengan bahasa Medan pasaran alias bahasa gaul.

Pengertian bahasa Indonesia orang Medan tentunya sangat berbeda dengan daerah-daerah lainnya, terutama daerah-daerah yang lebih Indonesia. Sebagai contohnya kata  “pasar”. Bagi orang awam yang tidak tahu menahu bahasa Medan pasti akan menyebutkan bahwa pengertian pasar adalah tempat orang berjual-beli. Tetapi bagi orang Medan pengertian pasar adalah jalan raya.  Begitu juga “kali”. Orang pasti berfikir kali adalah sungai. Tetapi “kali” dalam bahasa Medan adalah plesetan dari kata “sekali”. Bahasa boleh sama tetapi pengertiannya sangat berbeda.

Di dalam pergaulan saya sehari-hari orang-orangnya menggunakan bahasa Indonesia diselingi bahasa Batak yang dijadikan gaul dan menggunakan logat batak yang agak alto. Tetapi dikarenakan suku yang beragam, sebagian menggunakan logat yang berragam pula.

Seperti masyarakat ibukota yang memiliki bahasa gaul, begitu pula masyarakat Medan dan sekitarnya pun menggunakan bahasa gaul, bahasa yang digunakan dalam pergaulan. Walau pada dasarnya fenomena bahasa gaul di negeri ini sudah mencederai keberadaan bahasa Indonesia.

Namun biarpun begitu, saya ingin sedikit berbagi tentang bahasa gaul yang ada di daerah kami. Bahasa ini membuat tutur kata orang daerah Sumatera Utara menjadi kelihatan lebih unik lagi.

Tehaha/THH: Sebuah singkatan dari “Tah hapa-hapa” atau maksudnya Entah apa-apa atau maksudnya lagi “Ada-ada aja”

Accem: Bagaimana. Menanyakan kabar kepada seseorang.

Perli: Merayu, menggoda.

Pauk: Bodoh, dongok. Semacam sebuah makian.

Tekongan: Tikungan. Jalan yang berbelok.

Sor: Suka kali. Tertarik kepada sesuatu. “Sor kali aku bah sama tu cewek!”

Senget: Gila, kurang waras dan lain-lain.

Raun-raun: Jalan-jalan, keliling-keliling kota.

Paret: Parit, comberan, got.

RBT: Ojek atau RBT singkatan dari Rakyat Banting Tulang (Huehehehe)

Mentel: Genit.

Mengkek: Manja. Orang yang bertele-tele.

Minyak lampu: Minyak tanah.

Masih banyak lagi bahasa gaul yang ada di Medan dan sekitarnya yang sangat membuat Medan berbeda dengan daerah lainnya. Inilah letak keunikan dan keberagamannya. Bahasa-bahasa gaul Medan mungkin bisa kalian lihat di halaman ini atau banyak lagi laman yang menyediakan informasi mengenai daftar bahasa gaul ala Medan .

Kesimpulannya, bahasa gaul bukan hanya digunakan bagi mereka-mereka yang ingin dikatakan keren saja. Buktinya logat dan aksen yang terlalu ke-suku-an pun tak menutup kemungkinan untuk  memiliki bahasa gaul. Tak bisa dipungkiri ini akibat dari moderenisasi. Inilah produk Indonesia. Inilah produk Globalisasi.

Tulisan ini ku dedikasikan untuk anak rantau yang rindu kampung halamannya *lebay
Senang bisa berbagi… :)

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 11 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: