Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Sarabunis

Suka membaca dan berbagi ilmu

Mengikuti “Perjalanan Kubur” Sutardji

REP | 23 December 2011 | 11:19 Dibaca: 436   Komentar: 0   0

13245922991830266317

Ada banyak hal yang membekas di hati dan pikiran dari Lomba Baca Puisi se-Jabar beberapa waktu lalu. Ada resonansi yang terus mendengung dari perhelatan budaya yang di selenggarakan oleh Sanggar Sastra Tasik (SST) tersebut. Sebuah pertemuan budaya, silaturahmi yang jembar dan egaliter, persaingan ketat antar para deklamator, obrolan-obrolan santai, berbagai diskusi dari hal intuitif hingga hal yang rumit, berbagai perkenalan, dari bertukar nomor ponsel, hingga diam-diam memuja gadis berinisial el, saat el naksir lelaki berinisial ul. Tapi lomba tetaplah lomba, persaingan pada akhirnya tetap bermuara pada kemenangan dan kekalahan.

Dan puisi tetaplah sebuah puisi. Ada lapisan interpretasi yang harus diselami dan diseriusi. Menurut catatan panitia dari 15 puisi yang disediakan dalam antologi lomba, lebih dari 70 persen pada babak final, finalis memilih sajak Perjalanan Kubur, karya Sutardji Calzoum Bachri. Ini tak mengherankan, selain puisi yang ditulis 1977 tersebut sangat populer dan sering dibacakan dalam berbagai lomba, juga secara teks puisi ini memiliki diksi-diksi yang penuh magis, pola kalimat yang dinamis, dan repetisi yang suspensif. Begitu enak dibaca secara ekspresif.

Tentu saja puisi yang enak dibaca seyogianya enak didengar. Tapi ketika sebuah puisi dibacakan dengan teknik yang baik, namun penafsiran atas sajak tersebut jauh panggang dari api, bisa jadi adalah sebuah penyesatan. Atau justru hanya menjadi sebuah dagelan jaka sembung bawa golok.

Puisi selalu saja multi interpretasi. Di dalamnya selalu terdapat berbagai lapisan tafsir yang akan terkuak dan memperkaya puisi itu sendiri. Penyair mungkin saja dianggap sudah mati ketika puisi telah memasuki ruang publik. Tapi ketika puisi tidak mampu ditangkap oleh pembaca dengan berbagai pendekatan tafsir yang dimilikinya, justru pembacalah yang mati, atau paling tidak mati suri. Jika teori-teori mandul dalam menafsirkan puisi, saat itulah penyair harus memberikan kunci untuk memasuki pintu-pintu puisinya. Karena sejatinya puisi tidak dibentuk dari teori-teori, tapi justru teori-teori terbentuk dari puisi.

Memasuki puisi Sutardji Calzoum Bachri, kita akan dibawa pada imaji yang sakral dan magis. Perjalanan Kubur, mungkin adalah judul yang sangat mistis. Tapi untuk menafsiri judul saja banyak yang terjebak pada teknik normatif, bahwa kata-kata adalah alat untuk menyampaikan pengertian. Dan akan muncul berbagai imaji yang normatif pula: kuburan, usungan keranda, kematian, tanah merah, karangan bunga, tangisan kesedihan, dan sebagainya.

Tapi Sutardji tetaplah Sutardji. Ada wawasan estetis dari puisi-puisinya yang hanya bisa dicerna melalui pintu-pintu kredo puisinya. Pintu keterpahaman yang mula-mula ia didedahkan di majalah Horison No. 12, Desember 1974.

Dalam kredo puisi Sutardji, kata-kata bukanlah alat untuk menyampaikan pengertian. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Perjalanan Kubur bukan sekedar rangkaian kata perjalanan dan kata kubur yang dijadikan alat untuk menyampaikan pengertian normatif: “kematian”. Perjalanan Kubur adalah pengertian itu sendiri. sebuah pengertian tentang kehidupan yang panjang, sebuah proses keseharian kita selama hayat dikandung badan.

Sebagai sebuah pengertian, Perjalanan Kubur adalah sebuah perjalanan yang dimulai dari kelahiran segala sesuatu yang bernyawa. Sebuah proses kehidupan dengan siklus yang dilupakan orang-orang, bahwa setiap detik kehidupan adalah perjalanan menuju kubur. Bayi-bayi lahir dengan tangisan sebagai perjalanan pertamanya. Sejak itulah ia mulai masuk antrian menuju kubur. Dalam setiap detiknya sel-sel tubuh daging manusia perlahan-lahan menemui kematian. Dan yang tersisa harus melewati detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun demi tahun untuk terus berjalan melalui berbagai siklus kehidupan menuju kematian.

Dan siklus kehidupan itu bahkan didedahkan dengan apik pada bait terakhir puisi Perjalanan Kubur.

Sutardji Calzoum Bachri

Perjalanan Kubur

luka ngucap dalam badan
kau telah membawaku ke atas bukit ke atas karang ke atas gunung
ke bintang-bintang/ lalat-lalat menggali perigi dalam dagingku
untuk kuburmu alina

untuk kuburmu alina
aku menggali-gali dalam diri
raja dalam darah mengaliri sungai-sungai mengibarkan bendera hitam
menyeka matari membujuk bulan
teguk tangismu alina

sungai pergi ke laut membawa kubur-kubur
laut pergi ke awan membawa kubur-kubur
awan pergi ke hujan membawa kubur-kubur
hujan pergi ke akar ke pohon ke bunga-bunga
membawa kuburmu alina

Pada bait-bait inilah yang disebut Sutardji Calzoum Bachri dalam kredo puisinya, bahwa sebagai penyair ia hanya menjaga kata-kata –sepanjang tidak mengganggu kebebasannya- agar kehadirannya bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri (bukan alat menyampaikan pengertian).

Dua bait pertama adalah kata-kata yang dipenuhi kebebasan untuk membentuk pengertian. Bagaimana Perjalanan Kubur, dengan kebebasannya menjadi aku-lirik yang tak hanya bisa hidup, tapi bisa terluka, berbicara, dan bahkan menjadikan si pembaca puisi sebagai kau-lirik, atau lawan bicara Pejalanan Kubur. Lebih dalam lagi pada bait ke dua, bagaimana Perjalanan Kubur menggali-gali lorong kehidupannya. Dan menemukan jalan yang telah dan akan ditempuh kau-lirik, yaitu si pembaca puisi itu sendiri.

Ringkasnya, melalui puisi Perjalanan Kubur, Sutardji Calzoum Bachri mendedahkan tentang bagaimana kehidupan tak henti-hentinya memberi peringatan kepada si pelaku hidup.

Tapi Sutardji tetaplah Calzoum Bachri. Kredo puisi juga mengandung banyak interpretasi yang harus terus diselami dan diseriusi. Dan salah satunya adalah melalui pendekatan intuitif, atau dalam istilah Acep Zamzam Noor, pendekatan bulu kuduk.

Mungkin saja sebagian orang bulu kuduknya berdiri saat seseorang membaca sajak Perjalanan Kubur dengan ekspresi kematian, ekspresi duka atas kematian alina sebagai sahabat atau kekasih yang dicintainya. Mungkin juga sebagian lain bulu kuduknya berdiri karena menyadari bahwa alina adalah si pejalan kubur, alina yang tak lain adalah diri si pembaca sendiri.

Tapi alina tetaplah alina, ia bisa berinisial al, el atau ul atau apapun.

Sarabunis, penyair dan bobotoh Persib
aktivis Sanggar Sastra Tasik (SST), dan Komunitas Azan,

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 13 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 17 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 21 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: