Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Arkazora

Mantan Mahasiswa, Mantan Pendiri LSM, Mantan Aktivis Parpol, dan kini belajar menulis yang ingin netral selengkapnya

Pergeseran Makna Kata “Artis”

HL | 18 December 2011 | 16:39 Dibaca: 1178   Komentar: 16   1

13242293031305835261

Pesinden muda Peni Candrarini berlatih di Garasi Seni Benowo di Dusun Tegalgede, Desa Benowo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (14/3 ). (KOMPAS/IWAN SETIYAWAN)

Artis …. semua orang di dunia tahu kalau “jabatan” sebagai artis adalah jabatan terheboh saat ini. Dengan predikat artis seseorang mampumerubah sendi-sendi kehidupannya, mulai dari sendi ekonomi yang cepat berubah mulai dari segi gaya, fashion, tutur kata, bahkan gaya hidupnya.

Yah …. dengan menjadi artis akan dapat merubah segalanya jadi mudah dan menyenangkan menurut kebanyakan orang. Penghasilan yang begitu besar dan menjanjikan ekonomi yang lebih dari “glamour” membuat banyak orang menempuh cara untuk menyandang gelar artis ini. Bahkan konon banyak orang yang sampai mampu menggadaikan kehormatan hanya untuk nampang di layar-layar TV maupun perfilman, supaya dapat dibilang sebagai artis.

Namun, apakah sebenarnya arti makna artis itu sendiri ? Khalayak umum mengetahui artis hanya sebatas penyanyi, pemain film dan bahkan yang lebih parah para koruptor dan pejabat-pejabat yang mempunyai kasus dapat disebut sebagai artis.

Hal ini dikarenakan pergeseran dari makna dan arti dari artis itu sendiri. Banyak orang yang salah dalam pengartian kata artis ini, yang mereka tahu bahwa artis adalah orang yang sering nonggol di layar kaca, koran, majalah  maupun layar lebar perfilman. Sehingga, para publik figur dari koruptor dan pejabat-pejabat yang bermasalah tersebut sering nonggol di media-media tersebut, sehingga muncullah “image” bahwa mereka termasuk dalam kategori artis dikarenakan sering menjadi perbincangan yang menarik di media.

Sebenarnya menilik kata Artis, berasal dari kata “Art” yang berarti seni, sehingga orang-orang yang menekuni dunia senilah yang disebut artis. Dan tidak hanya seni suara (menyanyi), perfilman (aktor/aktris) saja yang layak menyandang predikat artis ini.

Mengingat, banyak cabang seni di dunia ini mulai dari seni pahat/patung, seni tari/”dance”, seni musik tradisional, seni pedhalangan dan lain-lain.

Selain hal tersebut diatas seni sendiri mempunyai norma-norma dalam penyajian, entah itu norma kesusilaan, norma konsumsi publik, norma estetika/keindahan dan sebagainya, yang hal itu mencitrakan seni adalah hal yang indah, baik dan mempunyai makna yang positif bagi penikmatnya.

Tapi … yang terjadi saat ini makna artis sudah jauh bergeser dari makna sebenarnya bahkan tarian erotis, pakaian seksi, dengan pemakai yang sensual dan (maaf) merangsang syahwat dikategorikan bentuk dari seni ! Padahal seni itu sendiri adalah hasil cipta karsa dan karya manusia dengan menggunakan nurani. Bahkan dosen seni saya sempat mengatakan bahwa SENI adalah dari kata SENTUHAN NURANI, yaitu hal yang tercipta dari seni mewakili nurani manusia.

Lebih parah lagi, pekerja seni saat ini yang mempunyai tempat di masyarakat adalah seni instant yang terkesan temporary dan tak mempunyai makna yang positif bagi penikmat seninya, bahkan cenderung sebagai penggambar keadaan yang lagi trend pad.a saat itu tanpa memikirkan dampak dari hasil seninya tadi.

Contoh saja dari seni suara/menyayi, dari segi lirik lagunya saja sudah banyak yang bergeser/menyimpang dari arti seni itu sendiri, sebut saja lagu hamil duluan yang menggambarkan pergaulan bebas anak sekarang yang tidak seharusnya di “blow up” sebegitunya yang akan berdampak negatif dan menjadi trend bagi pendengar, dan akan ditiru olehnya.

Dari segi penyanyi saat ini, sudah diketahui banyak nama goyangan yang menjadi trend saat ini. Entah itu gergaji, patah-patah, ngebor, ngecor dan lain-lain, yang menggambarkan gerakan sensual yang tidak patut dipertontonkan.

Dari Seni Peran (Perfilman)

Dulu pada zamannya Warkop yang digawangi Dono, Kasino, Indro memang memasang wanita-wanita cantik dengan busana yang aduhai untuk mendongkrak ratting filmnya, sekarang selain jurus itu masih digunakan dan ditambah lagi dengan judul yang menggairahkan, contoh saja judul film pergaulan bebas, darah perawan, dan lain-lain, yang selain menggunakan trik lama dengan wanita-wanita seksi dan fulgar juga ditambah dengan adegan-adegan panas yang bikin jantung mau copot …. hemmmm (gak munafik juga sih)

SENI TRADISIONAL YANG TENGGELAM

Tapi anehnya, pekerja seni (artis) tradisional seperti sinden, pedhalangan dan lain-lain, yang masih menggunakan “pakem” patokan atau aturan dalam berkesenian malah tidak mempunyai tempat bahkan terlupakan bahwa mereka juga artis.

Apakah hanya mereka tidak sering nonggol di media-media elektronik dan cetak, sehingga mereka tidak pantas kita sebut sebagai artis….. atau karena mereka tidak seseksi artis-artis tenar lainnya sehingga tidak menjadi perhatian publik. Atau malah karya seninya yang sudah gak laku dijual di media ? patut kita renungkan.

Dari segi karya seninya, bahwa sinden contohnya langgam-langgam (lagu) yang liriknya juga menggambarkan keadaan zaman namun juga tersirat pendidikan bagi budi pekerti yang luhur bagi maanusia, contohnya langgam dadi ati, ojo lamis, caping gunung, dan lain-lain.

Kalau kita sedikit mendalami lirik lagu dari langgam tsb pasti banyak kita jumpai hal-hal yang mendidik dan bersifat sebagai “pitutur” / pengingat bagi kebaikan dan kebenaran.

Kapan kiranya hal yang baik dan benar di dunia ini mendapatkan tempat selayaknya ? begitu juga dengan sebaliknya.

Sebaiknya predikat artis disandang oleh pekerja seni yang tidak hanya biasa di”blow up” dan menjadi buah bibir di media saja, tapi sebagai publik figur dari seni yang mampu menyampaikan pesan-pesan tersirat dan tersurat dalam hasil seninya. Sehingga dengan ke-Artisannya mampu memberi andil positif dalam kehidupan banyak orang. Semoga !

For My Artis !!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 12 jam lalu

Haru Biru di Kompasianival 2014 …

Fey Down | 17 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 20 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 22 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Aku Muak!!! [Lisal] …

Singgih Swasono | 10 jam lalu

Kalau di Tokyo Berada di Stasiun yang Salah …

Andre Jayaprana | 10 jam lalu

High Lifestyle, Low Happiness …

Azzahra Khairunnisa | 10 jam lalu

Is It Date? di Rumah Sakit? …

Irma Sri Nurwati Ut... | 10 jam lalu

Uang Penglaris …

Isti | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: