Saya sedang senang mengamati tulisan-tulisan fiksi. Bukan tanpa alasan. Sejauh Fiksiana lahir dan berkembang, faktanya kemampuan menulis para penggiat fiksi meningkat tajam. Berangkat dari motivasi, didukung pengelola, dan diapresiasi semakin banyak pembaca. Wajar saja jika makin banyak orang terjun ke kanal fiksi, bahkan penulis berita politik dan tekno sekalipun. Meski begitu, memang saya melihat ada tulisan-tulisan fiksi (utamanya nonpuisi) yang dibuat terburu-buru. Padahal, jika dipoles dengan sedikit sentuhan imajinasi holistik, rasa dalam kata-kata yang digambarkannya akan lebih “menggigit”.
Saya menggunakan istilah “imajinasi holistik” karena merupakan termin yang paling cocok untuk menggambarkan sebuah karya tulisn fiksi yang setidak-tidaknya bisa membuat pembaca mendalami kata per katanya dalam minimal lima menit, bukan membaca sekilas (hanya melihat ada berapa paragraf tanpa benar-benar membaca) atau membaca kalimat penutupnya.
Holistik dikenal akrab dalam dunia penyembuhan medis. Sejarah holistik dimulai sebelum istilah “holism” diperkenalkan oleh Jan Christiaan Smuts dalam bukunya Holism and Evolution. Holisme saat ini berkembang dalam istilah holistik, yang mengkombinasikan penyembuhan, seni, dan ilmu hidup. Holistik populer dengan cepat di tahun 70-an. (HealIndonesia)
Imajinasi holistik pada dasarnya adalah membuat pola pikir yang utuh dan menyeluruh tentang rangkai bingkai imajinasi tulis. Sederhananya, upaya untuk menempatkan diri sebagai penulis sekaligus pelaku dalam tulisan. Saya mengambil contoh tulisan-tulisan tulisan MIRROR yang sedang ramai selama 12-21 Desember 2011.
Dalam tulisan “Dukun Beranak” karya Mira Aqila, sebuah adegan dituliskan:
Suara-suara angin berhembus meniup di sekitar telinga, bulu kuduk mulai berdiri, ia tahu ada yang mengikutinya dari belakang. Ketika dia berpaling ke belakang, tak ada seorangpun yang terlihat. Rumah dukun beranak sudah terlihat. Dia bergegas mempercepat langkahnya. Rokokpun telah habis ia hisap.
Perhatikan baik-baik penggalam adegan di atas. Yang saya maksud dengan imajinasi holistik dalam fiksi adalah setidak-tidaknya seperti di atas. Holistik karena melibatkan lebih dari dua indera pembacanya. Pembaca seakan-akan dibawa untuk mengarungi imajinasinya sendiri dengan membayangkan (mata/visual), mendengarkan (audio), dan merasakan rabaan (kinesis/fisis).
Frasa “Suara-suara angin berhembus meniup disekitar telinga” sudah melibatkan indera audio dan kinesis/fisis, telinga dan kulit. Sedangkan penggalan “Rumah dukun beranak sudah terlihat.” membawa pembaca membayangi secara visual. Meski tidak dituliskan detil semisal cat rumah atau bentuk pagar, namun pencitraan sebuah rumah seram nan mencekam sudah terbentuk di benak pembaca.
Contoh kedua adalah MIRROR “Kelereng Merah Jambu” karya Granito.
Tidak lama setelahnya, Tono pulang sekolah. Dia lihat mainan kesayangan berantakan, cerai berai kemana-mana. Tono marah sekali. Lebih marah lagi saat dia tahu, yang merah jambu telah ditelan adiknya. Benda kaca warna merah jambu, adalah yang paling Tono sukai. Itu gacoannya. Maka, dia lepas kendali emosi, adiknya dihantam dengan toples.
Coba “simak” paragraf di atas. Ada berapa indera yang bekerja untuk memahami adegannya? Setidak-tidaknya mata/bayangan pikiran, telinga ketika membayangkan suara Tono yang marah-marah, dan juga suara toples yang dihantamkan ke pelaku kedua. Suara toples adalah instrumen imajinasi yang mudah sekali dibentuk. Itulah mengapa, tidak mengherankan jika kondisi yang dirasakan Tini bisa membuahkan empati yang menyakitkan bagi pembacanya, meski tak harus melihat gambar bola mata berdarah di bagian akhir cerita :D
Menulis fiksi, sejauh yang saya pelajari, memang gampang-gampang susah. Setelah merampungkan beberapa tulisan fiksi yang terencana, saya dikirimi beberapa pertanyaan dari teman-teman meminta mengajarkan menulis fiksi. Saya balas, praktik saja dulu, sesering mungkin, terus rasakan menjadi pembaca setelah menulis fiksi karya sendiri. Ada greget atau tidak? Kalau belum ada, berarti ada yang perlu dipoles dalam kalimat-kalimatnya.
Imajinasi holistik membawa kita ke dalam pikiran yang melibatkan semua bagian tubuh. Ketika membaca sebuah cerpen yang setelah kata terakhirnya perasaan kita miris atau tergugah, maka tulisan tersebut berhasil melibatkan holism dalam kata-katanya. Meskipun pada kenyataannya tidak selamanya sebuah tulisan fiksi dibaca dari awal hingga akhir, namun keterlibatan imajinasi holistik dalam tulisan sudah cukup bisa membuat pembaca mengangguk puas meski hanya membaca paragraf terakhirnya.
Tantangan terbesar dalam menulis fiksi adalah menciptakan deskripsi suasana yang benar-benar terasa nyata, dekat, dan realistis. Pembaca butuh melibatkan perasaannya untuk bisa menikmati sebuah cerpen atau cermin, bukan sekadar pengetahuan diksi yang sering dijumpai dalam tulisan-tulisan narasi.
Libatkan mata, telinga, hidung, dan kulit (atau istilah MIRROR-nya bulu kuduk) pembaca dalam tulisan. Posisikan diri sebagai pembaca saat menulis adalah cara yang paling mudah untuk menciptakan bingkai imajinasi holistik dalam cerita. Tak perlu langsung memuat ke publik jika cerita dirasa masih garing, hambar, atau datar-datar saja.
Berikan tekanan dan kejutan yang membawa pembaca merasakan horornya bahkan di awal cerita, semisal kalimat “Aroma melati yang semriwing disekelilingnya mampu mendirikan bulu roma yang mendengarnya.” dalam “Misteri Peti Mati Suster Karla” karya Ratih Anggraeni. Bahkan dengan membacanya saja hidung ikut-ikutan kempat-kempot ketika membayangkan sebuah kuburan dengan aroma melati di sekitarnya, bukan?
Setidaknya sedikit petunjuk ini yang bisa saya bagi buat teman-teman yang sudah menulis atau baru merencanakan karya-karya tulisnya. Jika memahami posisi penulis dan pembaca, maka sejatinya menulis fiksi tidaklah sulit. Bahkan penulis pemula pun bisa membuat cermin horor yang baik mengalahkan Fiksianer yang sudah lama bergentayangan. Berimajinasilan secara holistik. Jika memang istilahnya “liar”, maka liarlah dengan indah.
Cukup sekian. Sebagai intermezo, berikut saya lampirkan penggalan dari beberapa cerita MIRROR yang saya pilih secara singkat, sekiranya bisa menjadi contoh imajinasi holistik yang kita akan praktikkan bersama.
Selamat berimajinasi!
Akhirnya perasaan lelah menghampiri tubuh Fani, dia pingsan setelah hubungan itu berakhir. Hingga suara adzan subuh membangunkannya, dia membuka matanya dan mendapati seseorang berada di sampingnya, tetapi Fani belum tahu wajahnya, karena seseorang itu tidur membelakangi Fani. (Blue and Brown Eyes, Kurnia Nia)“tolongggggg! Siapa kau!” Jeni beteriak sekerasnya. Nikmat yang tadi dirasakannya berganti ketakutan yang mengerikan. Tak ada seorangpun yang bisa mendengarnya. Makhluk di hadapannya semakin bringas. Tubuh Jeni terkoyak, jantungnya terbelah dengan darah segar tumpah di lantai kamarnya. Makhluk aneh itu merobek-robek tubuh Jeni, mengirisnya dengan sangar. (Misteri Mimpi Berdarah, Fitri Yeye)
Suara lirih itu kembali lagi. Dan dia di situ. Seorang perempuan bergaun biru melirihkan namaku. Rambutnya yang melambai seakan menarikku untuk menghampirinya. Wajahnya tak asing bagiku. Sepertinya aku mengenalnya di suatu waktu dan tempat. Entahlah. (Angin dari Bukit, Rey Prameshwara)
Banyak yang mendefinisikan pengertian penulis dalam arti yang berbeda-beda. Ada ...
Beberapa rekan saya di Kompasiana ini adalah para penulis fiksi ...
Jika Kahlil Gibran membuat ungkapan : “Cinta seperti burung dara, ...