Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Agung Sugiarto

Manusia yang ingin terus belajar...

Sudah Ditangkep, Dibotakin, Dipukulin Pula

REP | 04 November 2011 | 08:49 Dibaca: 211   Komentar: 0   0

Wah, jangan begitu dong, masa sudah DITANGKEP, DIBOTAKIN, DIPUKULIN pula. Salah tuh, harusnya DITANGKAP, DIBOTAKI, DIPUKULI. Ah, itu sih sama saja, provokator nih? Eits…tunggu dulu, jangan asal tuduh. Coba deh simak:

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang benar adalah kata tangkap, bukan tangkep. Kata tangkep merupakan kata yang berasal dari peralihan bunyi /a/ menjadi /e/ pada dialek lokal, salah satunya dialek Betawi. Tangkap sendiri memiliki arti sebagai berikut:

tang·kap v ber·tang·kap v berperang seorang lawan seorang; bergelut
me·nang·kap v 1 memegang (sesuatu yg bergerak cepat, lepas, dsb); memegang (binatang, pencuri, penjahat, dsb) dng tangan atau alat: nelayan itu ~ ikan dng jala; polisi telah berhasil ~ para penjahat; 2 menerkam: harimau liar itu ~ kambing penduduk; 3 menadah (menyambut, menampung) barang yg dilemparkan: penjaga gawang ~ bola dng menjatuhkan diri; 4 mendapati (orang berbuat jahat, kesalahan, rahasia, dsb): guru itu ~ beberapa pelajar yg merokok di dl kelas; 5 menerima (suara, siaran radio, dsb): pesawat radio ini dapat ~ siaran dr luar negeri; 6 dapat memahami (mengetahui dsb): aku tidak dapat ~ isi pembicaraan mereka krn mereka menggunakan kata-kata sandi; 7 mencerap; menerima (dng pancaindra): pemimpin rakyat harus dapat ~ aspirasi rakyatnya; 8 makan atau mengena (tt pancing dsb): sudah sejam lebih pancingnya belum juga ~;
~ angin ki sudah bekerja keras, tetapi tidak ada hasilnya; ~ basah ki memergoki dan menangkap (orang yg sedang melakukan kejahatan atau perbuatan terlarang): polisi ~ seorang morfinis yg sedang mengisap ganja; ~ bayang-bayang ki pekerjaan yg sia-sia; ~ maksud memahami perkataanya; ~ tangan menangkap basah;
me·nang·kap·kan v menangkap untuk orang lain: ia ~ kupu-kupu untuk adiknya;
ter·tang·kap v (sudah) ditangkap (terpegang dsb);
~ basah terpergoki dan tertangkap (tt orang yg sedang melakukan kejahatan atau perbuatan terlarang): pencopet itu ~ basah ketika sedang merogoh tas seorang ibu; ~ muka bertemu dng tiba-tiba; ~ tangan kedapatan waktu melakukan kejahatan atau perbuatan yg tidak boleh dilakukan; tertangkap basah: wanita itu ~ tangan dng sejumlah barang bukti;
tang·kap·an n 1 sesuatu yg ditangkap; hasil menangkap; mangsa (yg ditangkap untuk dimakan); 2 orang yg dl keadaan tertangkap; tahanan (yg ditangkap oleh polisi dsb);
pe·nang·kap n 1 orang yg menangkap; 2 alat untuk menangkap;
~ ikan nelayan; ~ suara alat untuk menerima suara;
pe·nang·kap·an n proses, cara, perbuatan menangkap;
ke·tang·kap·an v terserang penyakit yg datangnya secara mendadak (kepala pusing sekali kemudian pingsan, dan kadang-kadang disusul kematian); apoplexia;
se·pe·nang·kap n sehasta (dr siku sampai ke kuku jari)

sumber: http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php

Sementara, akhiran –in merupakan bahasa Betawi untuk menggantikan akhiran –kan dan –i. Akhiran –in itu sendiri juga mendapat pengaruh yang besar dari bahasa Bali.

Akhiran – i sendiri memiliki makna sebagai berikut:

1.      Mengandung arti membentuk kalimat perintah.

Contoh: turuti perintahnya!

2.      Menyebabkan sesuatu jadi.

Contoh: menyakiti hati, menghargai dia

3.      Menyatakan intensitas (pekerjaan yang berulang-ulang)

Contoh: menembaki, memukuli

Oh iya, hampir lupa, awalan di- (ditangkap, dibotaki, dipukuli) mempunyai makna suatu perbuatan pasif.  Awalan di- merupakan kebalikan dari awalan me- yang bermakna perbuatan aktif.

Nah, percayakan, yang benar adalah ditangkap, dibotaki, lalu dipukuli :)

Salam…

Sumber:

http://books.google.co.id/books?id=NQh2tuWDhnEC&pg=PA47&lpg=PA47&dq=pengaruh+akhiran+in&source=bl&ots=ZoxEeKz8Ye&sig=afRoXpwqflg39X1jVzfI_cvnRlQ&hl=id&ei=7e-_Ts7zEcG8rAfOyOXWAQ&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=5&ved=0CDIQ6AEwBDgK#v=onepage&q=pengaruh%20akhiran%20in&f=false

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Betawi

http://blog.unnes.ac.id/yo9gi/2010/11/25/materi-bahasa-indonesia-kelas-3-macam-macam-imbuhan/

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 11 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 12 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 13 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Batas Maksimal Usia Pelamar Kerja Harus …

Usi Saba Kota | 8 jam lalu

Pernikahan dan Segala Suka Dukanya …

Sam Edy Yuswanto | 9 jam lalu

Sang Pengawal Lumbung Pangan …

Alfi Rahmadi | 9 jam lalu

Kiprah Anak Band Untuk Sesama …

Agung Han | 9 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: