
seseorang yang selalu diberi keindahan yang semu...
Dibaca: 117
Komentar: 0
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
sumpah pemuda adalah satu dari sekian pengingat kebangsaan kita sebagai warga negara indonesia, selain tentu saja hari kemerdekaan, hari pancasila, hari pahlawan dan hari nasional lainnya. hari sumpah pemuda menjadi nilai tersendiri akan penghargaan generasi muda yang ikut andil dalam proses kemerdekaan, dan kedepannya, bagaimana caranya memberdayakan generasi muda untuk menyongsong masa depan indonesia. ini tentu bukan persoalan sederhana ditengah ancaman narkoba, free seks, masa depan dunia kerja yang tidak pasti, hingga sifat dari dalam seorang remaja yang “tidak berpikir dua kali, tidak mau mengalah” - kata rhoma irama, yang membuat remaja sulit ditebak.
yah itulah remaja dengan segama persoalannya. namun bukan ini yang hendak saya tulis, melainkan apa yang mereka sumpahkan itu di sumpah pemuda. atau barangkali pemahaman kita terhadap sumpah mereka itu.
sesungguhnya salah kalau sumpah pemuda itu bilangnya “berbahasa satu,” wong indonesia punya banyak bahasa daerah, ratusan, nah dengan begitu kalo sumpahnya hanya mengakui bahasa indonesia saja itu ya tidakk bener, yang lebih mendekati bener itu “berbahasa satu bahasa persatuan,” itu bahasa indonesia, itu bahasa persatuan. katanya indonesia negara berbhineka tunggal ika?

ini tentu bukan persoalan sederhana. persatuan itu bukan penyatuan. persatuan itu justru dipersyarati oleh adanya keberagaman yang bersedia diikat dalam kesatuan yang menghargai perbedaan dan suasana saling menghormati keberagamaan dan mampu bekerja sama.
seperti sikap kita dalam beragama, kalau kamu tidak terang-terangan bahwa kamu pemeluk hindu, budha, katolik, kristen, konghuchu, dsb, dan saya sembunyi-sembunyi bahwa saya muslim - maka kita harus siap-siap untuk saling tertipu dan terjebak. karena itu pluralisme justru dipersyarati oleh ragamnya identitas dan karakter diberbagai konteks kehidupan. yang, sekali lagi, ragam identitas dan karakter itu mampu diikat bersama, bukan dileburkan jadi satu tapi mau didudukkan bersama.
frasa yang kita ucapkan berulang-ulang hari ini: “berbahasa satu bahasa indonesia” itu bagaimana bisa diterima di negeri ini?. barangkali karena cara pandang ini kita perlahan diajarkan untuk mulai tidak menghargai bahasa daerah kita masing masing. entahlah. tapi yang saya rasakan bahasa daerah itu semakin menjauh dari kehidupan modern kita. yah, bahasa kita kan bahasa indonesia, bahasa komunukasi kita dengan dunia adalah bahasa inggris, itulah bahasa universal, dan bahasa agama kita adalah bahasa arab. selesai, cara pandang seperti ini menyingkirkan bahasa daerah semakin terdesak dan kita anggap tidak penting. ternyata tidak sederhana menjaga keindonesiaan itu.
karena itu kita harus berhati-hati mengikat sumpah. kita harus berhati-hati mengulang sumpah yang para pemuda sumpahkan dulu.[]