Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

M Farid W Makkulau

Regular called 'Etta Adil', a learner who live in village that has lost track of selengkapnya

Aksara Lontaraq Terancam Punah

OPINI | 13 October 2011 | 13:07 Dibaca: 560   Komentar: 6   1

1318511144542313452

Buku Pelajaran Bahasa Daerah Makassar. (foto : ist)

Setelah berpulangnya Muhammad Salim, penerjemah dan penafsir Sureq Galigo, kitab sastra epik Bugis Kuno yang diakui sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia, praktis tokoh dari kalangan generasi tua yang bisa menerjemahkan dan menafsirkan La Galigo tidak ada lagi. Jangankan Sureq Galigo, Lontaraq pun terancam kehilangan generasi. Nama – nama seperti Djirong Basang Daeng Ngewa yang dahulunya aktif menulis buku pelajaran Bahasa Makassar juga kehilangan penerus.

Bahasa Daerah Makassar dan Bugis yang di sekolah SD dan SMP dijadikan muatan lokal diajarkan tanpa gairah, itupun terbatas hanya ada dalam ruangan kelas selama sejam. Anak – anak lebih memilih Bahasa Indonesia dalam pergaulan kesehariannya, baik di sekolah maupun di rumah. Sementara di Perguruan Tinggi, jurusan Bahasa dan Bahasa Daerah setiap tahun semakin turun peminatnya. Lontaraq yang dahulunya banyak disimpan di rumah – rumah penduduk, kini semakin kurang yang memperhatikannya bahkan dimakan rayap dan lapuk dimakan usia sebelum diinventarisasi dan dimasukkan dalam Museum. Naskah Lontaraq dari masa lalu boleh jadi nantinya hanya ditemukan fisiknya di Museum, tanpa ada lagi yang bisa menuliskannya. Begitu pula bahasa daerah aslinya, terancam ditinggalkan, dilupakan dan terlupakan oleh generasinya.

Sangat sulit lagi menemukan sosok seperti Muhammad Salim dan Djirong Basang Daeng Ngewa. Beliau berdua orang yang konsisten dalam bidang penulisan dan penerjemahan Bahasa dan Sastra Daerah. Karya yang sudah lahir dari tangan Muhammad Salim adalah transliterasi dan terjemahan 12 jilid Sureq Galigo karya Arung Pancana Toa, Lontaraq Sidenreng, Lontarak Soppeng/Luwu, Budhistihara, Pappaseng, dan Lontarak Enrekang. Sementara Djirong Basang Ngewa adalah penulis buku – buku Pelajaran Bahasa Daerah Makassar (Pappilajarang Basa Mangkasarak) yang sangat produktif. Sebagian besar bukunya dijadikan Panduan dalam pengajaran muatan lokal untuk Tingkat SD dan SMP di Sulawesi Selatan.

Sepinya peminat Bahasa dan Sastra Daerah, dari tingkat SD, SMP dan Perguruan Tinggi (Untuk SMA tidak diajarkan lagi) semakin membuat Lontaraq dan Bahasa Daerah Bugis Makassar terancam dilupakan dan terlupakan. Bahasa ibu ini semakin terpinggirkan ditengah menjamurnya bahasa – bahasa gaul di kalangan remaja dan mahasiswa akibat pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Kalaupun masih ada yang menggunakan (baca : menuturkan) Bahasa Daerah dalam pergaulan hidupnya maka sesungguhnya itu banyak diantaranya tidak asli lagi, sudah bercampur dan dipengaruhi Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia.

Akhirnya, menjadi pertanyaan besar bagi kita semua. Ancaman punahnya Bahasa Daerah Bugis dan Makassar bukan hanya terjadi di Sulawesi Selatan, tapi juga menjadi ancaman bagi semua bahasa etnis di Nusantara. Padahal, hal ini bukan hanya menyangkut bahasa dan aksara, tetapi juga menyangkut banyaknya kearifan local (local wisdom) yang terkandung dalam bahasa dan aksara itu, sebuah kearifan yang melahirkan begitu banyak peradaban indah dan menakjubkan di wilayah Nusantara ini. Pelajaran Bahasa, Sastra dan Kebudayaan Daerah seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat. Peran serta semua pihak dibutuhkan untuk menyelamatkan aset kultural bangsa ini. Mari membicarakannya, semoga saja kita masih sempat melestarikannya. (*).

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: