Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Penggunaan Kata/Kalimat dalam Bahasa Indonesia yang (Menurut Saya) Tidak Manusiawi

OPINI | 10 August 2011 | 07:37 Dibaca: 6276   Komentar: 24   5

13129183601123174499

Sumber Gambar : photobucket.com/albums/g434/Eternity_Layouts/heart_book.jpg

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan kondisi yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan segala kesempurnaannya, Allah menjadikan manusia sebagai khalifah yang akan meneruskan ajaran Allah di muka bumi. Bagitu banyak keutamaan dan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Namun sayangnya justru manusialah yang seringkali menurunkan derajat dirinya sendiri baik melalui tingkah laku yang ditampilkan maupun melalui hal lainnya seperti bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan berbagai hal tentang manusia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), manusia didefinisikan sebagai : “[n] makhluk yg berakal budi (mampu menguasai makhluk lain)”. Namun dalam kamus yang sama, kita juga menemui banyak sekali perbendaharaan kata / kalimat tentang manusia yang justru tidak manusiawi dan tidak menggambarkan manusia sebagai mahluk yang berakal budi dan mampu menguasai makhluk lain. Hal tersebut dapat kita lihat dari banyaknya perbendaharaan kata / kalimat, baik kata kerja, kiasan, peribahasa dan pengungkapan tentang manusia, yang berasal dari nama / perilaku hewan dan bahkan perilaku setan!. Penggunaan kata / kalimat seperti itulah menurut pendapat saya tidak manusiawi dan dapat menurunkan derajat manusia sebagai mahluk Tuhan yang utama.

Dalam bahasa Indonesia selama ini kita mengenal gaya bahasa ‘personifikasi’, yaitu : pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia (http://id.wikipedia.org/wiki/Majas). Dalam tulisan ini saya akan menggunakan istilah “hewanifikasi” dan “setanifikasi” untuk mengelompokkan kata / kalimat yang menurut saya tidak manusiawi.

HEWANIFIKASI

Pengungkapan dengan menggunakan perilaku hewan yang diberikan kepada manusia atau sesuatu yang bukan hewan. Berikut ini adalah beberapa contoh kata kerja, kiasan dan peribahasa tentang manusia yang menggunakan kata yang berasal dari nama / perilaku hewan:

(1). Ular / mengular v memanjang seperti ular: antrean orang membeli karcis mengular.

(2). Babi / membabi v bertingkah laku seperti babi; membabi buta ki melakukan sesuatu secara nekat, tidak peduli apa-apa lagi: angkatan udara musuh mengadakan serangan membabi buta.

(3). Bebek / membebek v 1 berlaku seperti bebek; 2 ki mengikuti saja pendapat orang tanpa berpikir (hanya meniru orang lain); 3 ki beristri banyak; pembebek n 1 orang yang mengikuti saja pendapat orang lain; 2 ki orang yang gemar beristri banyak.

(4). Beo / membeo v berbuat seperti burung beo dengan meniru saja perkataan (ucapan) orang lain (tanpa memahami maksudnya); pembeo n orang yang suka membeo atau mengikuti (menirukan) perkataan orang lain.

(5). Semut / menyemut v ki berkerumun (berduyun-duyun dsb) banyak sekali bagaikan semut; sangat banyak: orang menyemut di jalan-jalan yang akan dilalui pawai; kesemutan a berasa senyar (geranyam) pada anggota badan, seperti digigit semut, terutama kaki dan tangan (karena lama duduk tanpa bergerak-gerak atau tertekan terlalu lama dsb): karena terlalu lama bersimpuh, kakiku menjadi kesemutan.

(6). Tikus / menikus v ki berdiam diri tidak berkata-kata atau membantah karena takut dsb

(7). Bajing / bajing loncat ki pencoleng yang mencuri barang muatan dari atas kendaraan (seperti truk, bus) yang sedang berjalan; bajingan 1 n penjahat; pencopet; 2 a kas kurang ajar (kata makian).

(8). Kutu / kutu buku ki orang yang senang membaca dan menelaah buku di mana saja.

(9). Ular / ular kepala dua ki orang munafik (ikut ke sana ikut ke sini dsb).

(10). Kambing / kambing hitam n ki orang yang dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan.

(11). Anjing / Peribahasa : (1). Melepaskan anjing terjepit, artinya menolong orang yang tidak tahu membalas budi; (2). Seperti anjing terpanggang ekornya, artinya mendapat kesusahan yang amat sangat sehingga tidak keruan tingkah lakunya; (3). Manusia tertarik oleh tanah airnya, anjing tertarik oleh piringnya, artinya orang yang berakal itu jauh pemandangannya, tetapi orang yang bodoh hanya memikirkan keperluan perutnya, kalau ia telah kenyang sudah tidak menghendaki apa-apa lagi.

(12). Kambing / Peribahasa : Bagai kambing dibawa ke air, artinya enggan sekali mengerjakan suatu pekerjaan.

(13). Buaya / Peribahasa : Tak akan terlawan buaya menyelam air, artinya orang pandai (kaya, berkuasa) tidak mungkin dapat dilawan.

(14). Kerbau / Peribahasa : (1). Kerbau seratus dapat digembalakan, manusia seorang tiada terkawal, artinya menjaga seorang perempuan lebih sukar dp menjaga binatang yg banyak; (2). Seperti kerbau dicocok hidungnya, artinya menurut saja.

Sumber : (http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/)

SETANIFIKASI

Pengungkapan dengan menggunakan perilaku setan yang diberikan kepada manusia atau sesuatu yang bukan setan. Berikut ini adalah beberapa contoh kata kerja, kiasan dan peribahasa tentang manusia yang menggunakan kata “setan” :

Setann 1 kata untuk menyatakan kemarahan; sumpah serapah: Setan kau, enyah dari sini2 ki orang yang sangat buruk perangainya (suka mengadu domba dsb): pikiran setannya bangkitsetan gundul ki orang yang berbuat jahat: mereka mendesak pimpinan universitas mengusut tuntas setan gundul yang memalsukan tanda tangan rektor;

Menyetan v bertindak seperti setan;

Persetan p 1 jahanam: Persetan, aku tidak peduli larangan itu2 kata seru untuk menyatakan tidak mau tahu lagi; masa bodoh; tidak peduli: Persetan kata teman-teman mahasiswa bahwa aku ini banci;

Mempersetan v 1 menyumpah dengan mengucapkan setan: orang tuanya mempersetan anaknya2 tidak mengindahkan; memasabodohkan: ia mempersetan nasihat orangtuanya;

Kesetanan v kemasukan setan: dia betul-betul kaget ketika dilihatnya aku seperti kesetanan merangkul dan memeluknya.

Sumber : (http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/)

*****

Dengan mempertimbangkan hal-hal: (a). Keutamaan dan kemuliaan manusia dibandingkan makhluk Allah lainnya; (b). Banyaknya bahasa daerah yang dimiliki Indonesia yang dapat menjadi alternatif sumber kosakata; (c). Sebagaimana yang tertulis dalam kata sambutan di halaman depan situs http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/ disebutkan bahwa KBBI telah menjadi sumber rujukan yang dipercaya baik di kalangan pengguna di dalam maupun di luar negeri. Selain muatan isi, KBBI disusun tidak sekadar sebagai sumber rujukan, tetapi menjadi sumber penggalian ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta peradaban Indonesia;

maka saya pikir penggunaan kata dan kalimat yang menggunakan “nama / perilaku binatang” dan “setan” untuk mengungkapkan sesuatu hal tentang manusia sebaiknya dipertimbangkan untuk ditiadakan dari KBBI dan diganti dengan kata atau kalimat lain yang lebih manusiawi dan mencerminkan peradaban manusia Indonesia.

Saya bukan ahli dalam bahasa Indonesia tetapi rasanya sungguh tidak nyaman bila membaca, melihat dan mendengar penggunaan kata dan kalimat yang menyamakan manusia dengan binatang atau setan. Sebagai contoh, tentu saya akan berpikir untuk marah bila suatu saat mendengar seseorang berkata “El, kamu seperti anjing terpanggang ekornya!”, meskipun saya tahu yang dimaksud orang itu bukanlah “El, kamu seperti anjing!” namun penggunaan peribahasa tersebut menurut saya tetap saja dapat memerahkan telinga orang yang diajak bicara.

Salam.

EL

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Catat, Bawaslu Tidak Pernah Merekomendasikan …

Revaputra Sugito | | 23 July 2014 | 08:29

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49


TRENDING ARTICLES

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat anda? …

Robert O. Aruan | 3 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 6 jam lalu

Membaca Efek Keputusan Prabowo …

Zulfikar Akbar | 6 jam lalu

Prabowo Lebih Mampu Atasi Kemacetan Jakarta …

Mercy | 15 jam lalu

Kalah Karena Dicurangi? Belajarlah pada …

Ipul Gassing | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: