Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Sjamsu Dradjad

suka membaca dan ingin bisa menulis dengan baik...

Membuat Tulisan yang “Bicara”: Sebuah Dialog

OPINI | 12 July 2011 | 21:37 Dibaca: 98   Komentar: 4   0


Suatu kali, mungkin di antara kita pernah merasa begitu terhipnotis dan takjub saat membaca sebuah tulisan, terutama yang bergenre fiksi, laporan perjalanan/feature, biografi, esai, kontemplasi, dan semacamnya. Kita bisa begitu gembira, tertawa terpingkal-pingkal karena lucu, sedih dan menangis bercucuran air mata, takut sekaligus tegang, iba, benci, atau beragam emosi lain saat berhadapan dengan teks.

Itulah kehebatan tulisan! Ia sanggup membawa pembacanya memasuki “suasana hati” yang tak terbayangkan sebelumnya. Benarkah sampai sedahsyat itu kekuatan tulisan? Dan mengapa pula itu bisa terjadi? Saya tahu bahwa banyak di antara Anda -yang saya yakin begitu lahap membaca- bisa memberikan jawabannya. Dengan begitu Anda bisa membuat tulisan lanjutan untuk melengkapi tulisan ini hingga menjadi lebih kaya.

Saya punya satu jawaban yang bisa membuat sebuah tulisan menjadi “berbicara”. Apa itu? Ruh! Ya ruh atau nyawa tulisan!

Ruh tulisan adalah jiwa yang akan membuat tulisan menjadi hidup! Bicara tentang ruh sebuah tulisan, tentunya tidak mungkin meninggalkan beberapa hal berikut, misalnya gaya penulisan atau cara bertutur, diksi, dan point of view.

Sebenarnya banyak sekali buku tentang menulis yang bisa mengajari kiat-kiat untuk menghasilkan tulisan yang ciamik. Di buku-buku itu juga dijelaskan dengan sangat detil langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan sebelum seseorang mulai menulis. Dan hebatnya, ketika kita sedang membaca penjelasan dalam buku itu, kita seolah-olah sudah merasa yakin akan mampu melakukannya.

Berbekal ‘segudang teori’ dari buku yang sudah dikuasai di luar kepala itu, kita begitu bersemangat untuk segera mulai menulis. Duduk di depan komputer ditemani segelas kopi susu dan camilan, kita mulai menekan-nekan tuts merangkai sebuah kata, sebaris kalimat legkap dengan titik komanya, dan jadilah sebuah paragraf.

Sampai di situ, kita boleh bernapas lega. Masih dengan semangat yang membara sembari sesekali mencomot camilan dan meneguk kopi susu, kita membuat paragraf-paragraf selanjutnya hingga membentuk sebuah tulisan yang utuh. Kita berpikir semua ide dan gagasan yang ada di kepala kita sudah tertuang habis tak bersisa di layar komputer yang sedang dihadapi.

Saat itu kita mengalami ekstase yang begitu menggetarkan! Beban yang menghimpit seakan terlepas dari pundak. Semua terasa ringan. Kepuasan tak terkira menghampiri kita seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan yang berat. Dan sekarang, saatnya untuk membaca ulang apa yang sudah tertulis itu. Awal paragraf pertama terasa menjanjikan! Ini poin penting. Namun ketika mata kita menelusuri kalimat dan paragraf setelahnya, kening kita mulai berkerut. Kok jadi gini, ya? Padahal maksudku tidak seperti itu! Kok kering sih bahasanya! Kaku banget! Dan berbagai ekspresi ketidakpuasan yang lain. Saat itu perasaan nggak pede mulai menyergap.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan penulis itu? Sejatinya tidak ada hal istimewa yang sedang terjadi. Itulah proses! Ya, itulah proses yang memang harus dilalui oleh penulis dalam berkarya!

Masih beruntung jika kita bisa mulus menyelesaikan paragraf pertama. Kalau tidak salah, begitu banyak penulis yang butuh waktu berjam-jam untuk sekadar menuliskan paragraf pembuka, bahkan kata pertama! Apa yang dibutuhkan untuk minimal mengurangi waktu yang terbuang hanya untuk menuliskan kalimat awal itu? Nah, menurut yang sudah biasa menulis, kita hanya butuh outline/kerangka karangan karena itu akan memandu kita untuk menjelaskan ide yang ada di kepala –maaf, ini teori juga ya sebenarnya.

Lalu hal kedua yang patut diperhatikan adalah fokus pada tema yang akan digarap karena seringkali pikiran penulis meloncat-loncat sehingga perlu dipagari agar tidak lari ke mana-mana. Sebaiknya dibaca lagi paragraf terdahulu sebelum membuat paragraf selanjutnya karena setiap paragraf harus saling berkaitan.

Hal yang tidak kalah penting adalah penggunaan tanda baca yang tepat, huruf besar dan kecil yang benar, dan penanda paragraf. Hal ini sangat penting untuk menghasilkan tulisan yang runtut dan enak dibaca. Selain itu, penggunaan kata atau kalimat yang berfungsi sebagai bumbu-bumbu penyedap agar tulisan tidak menjadi kaku/kering saat dibaca juga jangan dilupakan. Coba bayangkan bila kita harus membaca uraian panjang dengan bahasa yang sangat formal? Sebenarnya ini juga tidak salah, tapi akan terasa menjemukan. Percayalah. Jadi sebisa mungkin dihindari. Sisipkan kata-kata/kalimat dengan bahasa gaul/lisan sebagai intermeso … dan rasakan hasilnya. Aha …! Pasti sangat berbeda.

Menurut hemat saya –sekali lagi, ini menurut saya loh-, keberhasilan tulisan menjadi enak dibaca bukan hanya karena penggunaan bahasa yang taat “EYD” dan formal, akan tetapi lebih pada kepiawaian penulis mengalirkan tulisannya dengan menggunakan kata-kata yang ‘ringan’ dan cerdas, mungkin juga perlu sedikit ‘nakal’ untuk menguraikan tema yang ‘berat’ sehingga mudah dipahami.

Begitulah ‘kira-kira’ bagaimana salah satu jurus versi saya untuk membuat tulisan kita menjadi lebih berjiwa dan mempunyai ‘ruh’. Namanya juga ‘kira-kira’, jadi sangat mungkin untuk diperdebatkan oleh siapa pun yang kebetulan atau secara tak sengaja membaca tulisan ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

“Tak Sempurna Hanya Tanpa …

Jarjis Fadri | | 31 July 2014 | 08:41

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 9 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 14 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 14 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: