Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Philip Ayus

menjaga kewarasan lewat tulisan | twitter: @tweetspiring.

Fungsi Bahasa Daerah di Kompasiana

OPINI | 15 June 2011 | 08:47 Dibaca: 990   Komentar: 13   1

Kita punya 742 bahasa daerah di seluruh Indonesia!/melayuonline.com

Kita punya 742 bahasa daerah di seluruh Indonesia!/melayuonline.com

Pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota republik ini hingga sekarang, saya merasa masih seperti berada di kampung halaman. Bagaimana tidak? Hampir semua orang yang saya temui bisa berbahasa Jawa seperti saya. Memang sih, adakalanya waktu di angkot saya mendengar dialog antara supir dengan penumpang di sebelahnya, dialog yang sama sekali tidak saya mengerti, walaupun saya bisa menduga mereka memakai bahasa Aceh atau sejenisnya.

Memang, di tempat asing seperti Jakarta ini, bercakap dengan menggunakan bahasa daerah bisa “sedikit” menolong kerinduan akan kampung halaman. Selain itu, ada pula semacam perasaan senasib sebagai perantau di kota yang katanya mau hijau tapi selalu “di-kelabu-i” oleh asap knalpot ini. Selain itu, bahasa daerah juga bisa digunakan layaknya kata sandi para agen rahasia, jika tak ingin isi pembicaraannya diketahui orang lain.

Nah, sudah menjadi rahasia umum, bahwa para kompasianer berasal dari berbagai tempat, baik di pelosok tanah air maupun di luar negeri. Dan, kita juga tahu bahwa masing-masing kompasianer setidaknya menguasai dua bahasa: bahasa Indonesia dan bahasa ibu, alias bahasa daerah.

Di Kompasiana ini, penggunaan bahasa daerah jarang saya jumpai. Rata-rata sepertinya bersepakat untuk menulis dalam bahasa Indonesia, meski tak harus baik dan benar. Akan tetapi, fenomena penggunaan bahasa daerah sepertinya makin marak saya dapati, dan sayangnya, (kalau tidak salah) bahasa daerah yang luhur itu “disalahgunakan” untuk menggunjingkan satu atau lebih kompasianer oleh para kompasianer yang kebetulan sepaham dan menggunakan bahasa daerah yang sama.

Ya positifnya sih saya bisa tahu sedikit-sedikit tentang bahasa daerah, menjadi sedikit lebih mengenal nusantara. Tapi negatifnya, jika kebiasaan ini diteruskan, maka itu sama saja membuat pengkotakan di Kompasiana. Kompasianer atau pembaca yang tidak tahu artinya hanya bisa melongo dan masih bagus jika tidak berprasangka buruk terhadap pengguna bahasa daerah tersebut.

Lagipula, memangnya (para) Kompasianer yang sedang digunjingkan tak punya kawan yang juga berbahasa ibu seperti itu, baik di dunia nyata maupun di dunia maya? Jadi sebenarnya pergunjingan itu sia-sia belaka menurut saya, selain hanya menunjukkan sisi jiwa yang takut mengatakan isi pikiran secara langsung.

Saya rasa bahasa daerah perlu juga sesekali dipakai di Kompasiana, tapi tentu saja untuk kemanfaatan, bukan sebaliknya. Misalnya, untuk menggambarkan sebuah perasaan atau peristiwa yang belum ada padanannya di dalam bahasa Indonesia. Siapa tahu, istilah bahasa daerah kita bisa diserap KBBI dan memperkaya khasanah bahasa nasional kita?

Salah satu contoh, misalnya adalah kata “keblondrok” dalam bahasa Jawa (Semarang). Kata itu menggambarkan sebuah peristiwa dimana seorang pembeli terlanjur membeli sebuah barang namun kemudian mendapati bahwa ia seharusnya bisa mendapatkannya dengan harga yang jauh lebih murah. Pembeli itu–kata saya yang orang Jawa–telah “keblondrok.”

Hmmm… jadi penasaran nih, apa padanan kata “keblondrok” ini dalam bahasa daerah anda?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 9 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Menuju Organisasi Advokat Muda yang …

Valerian Libert Wan... | 7 jam lalu

Semoga Jokowi-JK yang Membuka Indonesia …

Bambang Trim | 7 jam lalu

Dialog Sunyi dari Hati ke Hati dengan Gus …

Puji Anto | 7 jam lalu

Satu Lagi Atlet Muslim Yang Di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, Narasi, …

Sigit Setyawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: