Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

M Farid W Makkulau

Regular called 'Etta Adil', a learner who live in village that has lost track of selengkapnya

Menemukenali Bahasa Orang Pulau Pangkep

OPINI | 26 May 2011 | 03:42 Dibaca: 67   Komentar: 3   3

13063810051904454599

Pulau Balang Lompo, salah satu Pulau Liukang Tupabbiring-Pangkep (foto by me)

Fenomena kebahasaan masyarakat pulau (Makassar : To Pulo) menarik untuk ditelusuri dan dikaji sebagai salah satu upaya memahami lebih mendalam sejarah pulau, profil, karakter dan kecenderungan masyarakat pada masing-masing pulau. Di gugusan pulau dalam wilayah Kecamatan Liukang Tupabbiring, berpenduduk sekitar 14.498 jiwa yang tersebar di 42 pulau, masyarakatnya menuturkan dua bahasa daerah, yakni Bahasa Makassar dan Bahasa Bugis yang digunakan sebagai lingua franca (bahasa pengantar) dalam interaksi sosial. Masyarakat Liukang Tupabbiring mempunyai hubungan kekerabatan dari etnik Bugis Makassar dengan masyarakat kecamatan daratan yang terdekat dari pulau itu, seperti Kecamatan Pangkajene, Bungoro, Labakkang, Segeri, Ma’rang dan Mandalle.

Spesifikasi nama - nama pulau dalam gugusan kepulauan ‘Spermonde’ yang masuk lingkup Kecamatan Liukang Tupabbiring ini, terbagi atas dua wilayah, yaitu wilayah utara dan selatan. Di bagian utara, memakai nama depan ‘Sa’. Misalnya Pulau Salemo, Pulau Sanane, Pulau Samatellu dan lain sebagainya. Pemakaian kata depan ‘Sa’ menandakan bahwa pulau-pulau tersebut pernah dikuasai Kerajaan Tanete (Barru) sehingga bahasa daerah dan adat istiadat yang digunakan adalah Bahasa Bugis. Sedangkan Pulau-pulau ‘Spermonde’ yang berada di wilayah selatan merupakan bekas kerajaan Gowa. sehingga, adat istiadat dan bahasa yang digunakan adalah Makassar. (HA Gaffar Patappe, 2002 dalam Wajdi, 2004).

Pola penamaan pulau juga tidak terstruktur. Hanya tidak memakai suku kata berawalan ‘Sa’. Tapi, ada juga pengecualian, seperti : Pulau Sarappo (Lompo dan Caddi) dan Pulau Sanane yang berada di wilayah selatan. Begitu pula Polewali di bagian utara yang tak memakai kata depan ‘Sa’. Tentang pemakaian kata depan ‘Sa’, ada juga yang memberinya penegasan bahwa hal itu memberi tanda sebagai pulau. Maksudnya ‘Sa’ adalah pulau yang kemudian menunjukkan ciri pulau itu. Sebab ‘Sa’ juga banyak ditemukan di pulau-pulau Liukang Kalmas dan Tangaya. Kata depan ‘Sa’ itu dipengaruhi Bahasa BajoE. Misalnya, Sarappo yang berarti di pulau banyak puah pinang (rappo), pada masa silam. Demikian pula halnya dengan pulau ‘Sanane’ karena di pulau itu banyak buah ‘nane’ (HA Gaffar Patappe, 2002 dalam Farid, 2004).

Ironisnya, Pulau-pulau yang namanya berawalan ‘Sa’ itu tidak ada orang atau etnis BajoE yang tinggal, jika disebutkan penamaan pulau - pulau tersebut karena pengaruh Bahasa Bajo, malahan orang BajoE lebih banyak menempati pulau-pulau Liukang Tangaya ?. Pulau-pulau Liukang Tupabbiring yakni antara lain Balang Lompo, Balang Caddi, Sarappo Lompo, Sarappo Caddi (atau Sarappo Keke), Podang-podang Lompo, Podang-Podang Caddi, Gondong Bali, Kapoposan, Badik, Pajenekang, Langkadea, Karanrang, Pala, Sanane, Salebbo, Salemo, Sabutung, Kulambing, Saugi, Satando, Sakuala, Sabangko, Sapuli, Saranti, Pandangang, Bonto Sua. (Wajdi, 2002).

Yang pasti, kita tahu bahwa orang - orang pulau di Pangkep, khususnya masyarakat yang mendiami pulau - pulau dalam lingkup Kecamatan Liukang Tupabbiring sebagian besar menuturkan bahasa Bugis atau bahasa Makassar karena pada dasarnya orang - orang pulau punya hubungan kekerabatan yang kental dengan masyarakat daratan. Asal usulnya berasal dari suku - suku yang mendiami sebagian besar wilayah Sulawesi. Di Kepulauan Liukang Kalmas dan Liukang Tangaya, ada yang menuturkan Bahasa Makassar dan Bugis dalam kehidupan sosial mereka, Tapi lebih banyak yang menggunakan Bahasa Mandar, serta sedikit Bahasa BajoE. Begitu pula tata cara hidup berupa adat istiadat, memakai budaya Mandar yang jika di daratan menempati Kabupaten Polmas, Majene dan Mamuju.

Di wilayah Kecamatan Liukang Kalmas dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 11.215 jiwa yang tersebar di 14 pulau menggunakan bahasa Mandar. Mengapa demikian ? Pada akhirnya, kita akan sampai pada asumsi atau dugaan bahwa pelaut-pelaut Mandarlah yang pertama kali menemukan atau mendiami pulau-pulau di Liukang Kalmas tersebut. Adapun pulau-pulau Liukang Kalmas antara lain, Kalu-kalukuang, Pammatauan, Massalima, Saliriang, Sabaru, Pamalikang, Marasende, Doang-doangan Caddi, Doang-doangan Lompo, Banko-bangkoang, Butung-butungan, Dewakang Lompo, Dewakang Caddi dan Bangka Uluang Pulau-pulau Liukang Tangaya antara lain, Pulau Sabaru, Tilamu, Baloang-baloang (Lompo dan Caddi), Sumanga, Longkoisang, Pelokang, Metalang, Sabalana, Makkarangana, Lilikang, Sapuka, Tinggalungan, Pulau Kembang Lemari, Aloang, Tampaang, Kuwassang, Sapinggang, Sailus (Lompo dan Caddi), Pulau Marabatuang, Satanger, dan Pulau Kapoposan Bali.

Begitu pula di Kecamatan Liukang Tangaya, yang terdiri dari 57 pulau dengan jumlah penduduk sekitar 13.865 jiwa, gugusan pulau di bagian barat menggunakan bahasa Mandar dan dibagian timur menggunakan bahasa Makassar dan sebagian bahasa BajoE. Di daratan Sulawesi Selatan, etnis Mandar umumnya mendiami daerah Kabupaten Polmas, Majene dan Mamuju. Sedangkan etnis Bajo umumnya mendiami daerah Selayar dan beberapa pulau di Sulawesi Tenggara. (Wajdi, 2004).

Ketiga gugusan pulau tersebut, Spermonde (Liukang Tupbabiring), Kalu-kalukuang group (Liukang Kalmas) dan postelion dan paternoster (Liukang Tangaya) masuk dalam wilayah Pangkep. karena faktor sejarah, kedekatan etnis, hubungan emosional (hubungan kekerabatan) dan bahasa masyarakat kepulauan tersebut yang merupakan penutur bahasa lokal Bugis, Makassar, Mandar dan Bajo hingga deretan pulau-pulau indah dan menawan tersebut masuk wilayah administratif Kabupaten Pangkep (Propinsi Sulawesi-Selatan) meski pulau-pulau itu berbatasan dengan Pulau Lombok (Propinsi Nusa Tenggara), Pulau ‘Dewata’ Bali (Propinsi Bali), Kalimantan Selatan, Pulau Madura dan Propinsi Jawa Timur. (HA Gaffar Patappe, 2002). (*)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 12 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 14 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 18 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 20 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: