5 Kesalahan Penulisan dan Tata Bahasa di Kompasiana

HL | 19 May 2011 | 09:30
8476 190 12

13058058551155738547

Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Setelah hampir setahun bergabung dan menikmati banyak tulisan dengan bermacam kategori di Kompasiana, saya sering sekali menemukan penggunaan tata bahasa dan pola penulisan yang perlu diperbaiki. Saya sebut “perlu diperbaiki” karena tak bisa dipungkiri beberapa teman di sini sengaja memoles gaya penulisannya sedemikian rupa supaya terlihat khas, tanpa harus berpusing-pusing mempertimbangkan aspek tata bahasa.

Namun, sebagai media pembelajaran yang efektif sekarang ini, Kompasiana menyuguhkan banyak sekali kesempatan bagi kita, para penggunanya, untuk saling berbagi ilmu, tidak terkecuali saling mengingatkan kesalahan-kesalahan yang paling sering terjadi dalam aspek penulisan serta tata bahasa setiap tulisan.

Agar mudah dipahami, berbagai kesalahan yang paling sering terjadi tersebut saya rangkum dalam “5 kesalahan penulisan dan tata bahasa” berikut ini:

1. Penggunaan Kata Depan

Di Kompasiana, kesalahan penulisan yang paling sering saya jumpai adalah penulisan kata depan yang seakan-akan disamakan saja dengan kata penghubung. Contoh:

“di jalan” seringkali sering kali ditulis “dijalan” (tanpa spasi setelah di-)

atau

“ke rumah” sering kali ditulis “kerumah”.

Padahal, untuk setiap keterangan yang merujuk tempat ataupun waktu, di-/ke- penulisannya dipisahkan dengan kata induknya. Hal ini berbeda dengan¬† penulisan kata hubung pertanda objek seperti “dimakan”, “ditulis”, atau “dinikmati” yang memang penulisannya dirangkaikan.

Khusus untuk “dimana”, tetap ditulis serangkai karena merupakan morfem yang dalam konteksnya merujuk pada kata tanya. Itulah pula mengapa kata “dimana” kurang cocok ditulis di tengah-tengah kalimat sebagai penjelas sebuah keterangan.

2. Penempatan Tanda Baca

Tanda baca yang saya maksud di sini mencakup semua tanda yang paling sering digunakan, termasuk tanda seru (!), tanda tanya (?), titik (.), garis hubung (-), dan koma (,). Selain itu, juga penulisan tanda kurung ganda (…).

Jika Anda rajin menelusuri setiap tulisan terbaru di Kompasiana, maka pasti akan ditemukan satu-dua tulisan, baik berupa berita, opini, maupun fiksi masih sering mengandung kesalahan-kesalahan ini.

Kesalahan penempatan tanda baca yang saya maksud di sini adalah sering kali menggunakan spasi yang tidak perlu. Contoh:

Sebuah tulisan terbaru dengan judul yang dituliskan sebagai berikut:

Ada Ular Bertanduk di Kamar Rumah Sakit !atau

Wow ! Umur 72, Badan Masih Langsing

atau

( biasanya )

Coba perhatikan, penempatan tanda seru di kedua contoh di atas. Antara huruf terakhir dari sebuah kata dalam judul dengan tanda seru dibubuhkan spasi (tentunya dengan menekan tombol spasi di keyboard). Padahal, penulisan yang benar untuk setiap tanda baca adalah direkatkan pada huruf terakhir sebuah kata. Dengan kata lain, tanpa dibubuhi spasi.

Jadi, penulisan yang benar adalah: Ada Ular Bertanduk di Kamar Rumah Sakit!

Penulisan tanda kurung juga seharusnya tanpa spasi. Contoh yang benar: (biasanya).

Kesalahan penambahan spasi tidak hanya terjadi di tanda baca yang tertempel di bagian akhir kalimat, tetapi juga dalam hal penulisan tanda garis hubung (-).

Sebagaimana struktur tata bahasa yang tepat, tanda garis hubung paling sering digunakan pada kata berulang. Garis hubung menandakan kaitan antara dua kata yang dihubungkannya, ataupun kesamaan maknanya. Oleh karena itu, penulisannya pun direkatkan pada kedua kata yang dimaksud. Contoh:

“jalan - jalan” seharusnya ditulis “jalan-jalan”.

Perhatikan! Tidak ada spasi di antara garis hubung dan kata yang diterangkan/diulang.

3. Penggunaan Huruf/Ketikan Miring

Penulisan/pengetikan huruf miring pada umumnya digunakan untuk menandai istilah-istilah yang berasal dari bahasa asing selain Bahasa Indonesia, kecuali kata-kata serapan.

Seringkali tulisan kita diharuskan memuat beberapa kata asing sebagai penjelas atau bumbu-bumbu yang menambah nilai estetika. Oleh karena itu, bentuk huruf miring digunakan pada pola-pola tersebut. Kata-kata yang biasanya dicetak miring adalah kata dari bahasa asing (English, Arabian, atau Basa Jawa). Kata-kata ilmiah atau istilah-istilah dari suatu bidang tertentu yang tidak akrab di mata khalayak umum sebaiknya dicetak miring.

Harap dicatat bahwa penulisan kata-kata Bahasa Indonesia yang “gaul” pun harus dicetak miring. Contoh:

Kata-kata seperti “enggak“, “nyeleneh“, atau “ndeso” juga harus dicetak miring karena tidak berasal dari suku kata baku Bahasa Indonesia.

Satu kata yang sampai saat ini masih menggelitik saya adalah “postingan“. Kata ini bahkan sering digunakan oleh admin Kompasiana dalam memberi keterangan tulisan-tulisan HL ataupun pesan-pesan ke profil pengguna.

Kata “postingan” sebetulnya membingungkan saya, karena tidak berasal dari Bahasa Indonesia maupun English.

Kata “post” memang berarti tulisan yang dimuat ke suatu halaman. Akan tetapi setelah dilengkapi imbuhan “-an” menjadi “postingan“, maka sifatnya berubah dari kata menjadi istilah. Silakan bolak-balik Kamus Besar Bahasa Indonesia, saya yakin Anda tidak akan menemukan kata tersebut.

Anehnya, seiring waktu penggunaannya pun mengalami perkembangan, sehingga postingan lalu merujuk bentuk-bentuk kata lain, semisal “mem-posting“.

Memposting“? Apa maksudnya? Hihihi…. Okelah, dalam ukuran istilah, tak mengapa. Tapi please tolong ingat bahwa tidak ada kata “memposting” dalam kamus Bahasa Indonesia. Setidaknya belum dimasukkan.

Saya pribadi lebih suka menggantinya dengan kata asli Indonesia, semisal “tulisan” ataupun “karya”.

atau… “Memuat” alih-alih “memposting“.

Perkiraan saya, istilah tersebut digunakan sebagai kata akrab yang menandai kesamaan kegiatan dan hobi di Kompasiana. Akan tetapi jika memang memaksa harus ditulis dalam tulisan yang dipublikasi, maka sebaiknya dicetak miring karena itu bukan (belum) merupakan kata Bahasa Indonesia.

4. Penulisan Kalimat Kutipan Langsung

Penulisan kalimat kutipan langsung juga masih sering terjadi kesalahan oleh beberapa Kompasianer dan beberapa blog lainnya. Tanda kutip “…” seharusnya diketik tanpa spasi sebelum dan sesudah kata dalam kalimat.

Contoh yang benar:

“Kita akan evaluasi kesalahan ini secepatnya,” kata Dirut Kompasiana.

Tidak ada spasi antara tanda kutip dengan kata “kita” di awal kalimat maupun setelah kata “secepatnya” di akhir kalimat.

5. Penulisan Huruf Kapital

Penulisan huruf kapital saya perhatikan banyak terjadi pada bagian judul tulisan (bukan postingan lho ya! He… he….).

Dalam menulis judul, setiap kata kecuali kata depan, kata penghubung, dan kata kedua yang merupakan bafgian dari kata berulang dicetak dengan huruf awal kapital.

Contoh yang benar:

Wow! Kompasiana Blogshop Mampir ke Merauke

Kesalahan-kesalahan Umum Penulisan Istilah di Desa Rangkat

Selebihnya, penggunaan huruf awal kapital pada badan tulisan lebih terkait penggunaan nama. Admin Kompasiana dalam peraturan pun sudah memberi petunjuk lebih tegas bahwa penulisan judul tulisan sebaiknya tidak ditulis dengan huruf kapital secara menyeluruh.

Demikian 5 hal umum yang saya temukan terkait kesalahan-kesalahan penulisan dan penggunaan tata bahasa di Kompasiana. Jika ingin ditambahkan, maka pasti akan sangat membantu.

Apapun tulisan Anda, baik berupa berita, opini, maupun fiksi, sebaiknya mengandung tata bahasa yang baik.

Tulisan ini sekaligus saya tujukan sebagai pengingat dan “contekan” bagi diri sendiri untuk karya-karya berikutnya.

SEBAGAI BAHAN RUJUKAN LEBIH LANJUT:

http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penulisan_tanda_baca.

Tags: Array

Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Menyiasati Kejenuhan Menulis

Memasuki tahun ke 4 di Kompasiana pernah dalam satu tahun ...

Menulis, Bukan Untuk Menutupi Status Pengangguran

Menulis itu hak siapa saja. Bahkan burung-burungpun menulis ketika ia ...

Kompasianer, Mari Belajar Menulis dari Bu Anni  

Ada seorang penulis di Kompasiana belakangan ini yang fenomenal. Namanya ...