Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Dianingtyas Kh.

Biasa saja, tak ada yang istimewa. http://khristiyanti.blogspot.com/

Bahasa Indonesia, Bahasa yang Paling Ramah

OPINI | 06 May 2011 | 08:11 Dibaca: 386   Komentar: 34   5

13046260311414175291

dari google

Sejak saya masih sekolah, yang selalu ditekankan oleh guru saya adalah penduduk Indonesia adalah orang yang ramah tamah. Meskipun kondisi ini sudah sedikit bergeser dari waktu saya sekolah, saya pikir sebagian besar rakyat Indonesia masih banyak yang bersikap ramah terhadap orang lain. Buktinya,  beberapa hari yang lalu seorang Kompasioner menuliskan bahwa dia menolong seorang bule yang sedang mengalami kempis ban di jalan.  Ini bukti kalau keramahan kita belum luntur oleh zaman, kan? Masih banyak orang yang ramah dan peduli di tengah kepesatan perkembangan zaman.

Menurut kamus, ramah berarti baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya (thd semua orang); suka bergaul dan menyenangkan dl pergaulan. Orang Indonesia masih identik dengan ramah. Lalu, apa lagi dari Indonesia yang identik dengan ramah? Saya pikir, bahasa kita identik dengan ramah. Mengapa?

Kita tahu, bahwa bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Namun, bahasa kita berbeda dengan bahasa negeri tetangga yang sama-sama menggunakan rumpun bahasa Melayu karena  bahasa Indonesia sudah berkembang sedemikian pesat dengan menyerap beragam bahasa daerah dan bahasa dari luar negeri seperti Inggris, Belanda, dan lainnya.

Mengapa saya katakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang ramah?

1. Bahasa Indoesia tidak mengenal kasta seperti bahasa Jawa yang bertingkat antara krama, ngoko alus, dan ngoko atau lugu. Hal ini menyebabkan Bahasa Indonesia mudah dipahami dan dipelajari.

2. Bahasa Indonesia tidak mengenal gender seperti bahasa Arab dan beberapa bahasa lainnya.

3. Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk jamak dan tunggal. Cupup memberinya kata beberapa atau banyak dan kita tak perlu mengubah bentuk dasarnya.

4. Bahasa Indonesia tidak mengenal pembedaaan waktu kini, lampau, dan yang akan datang seperti yang terjadi pada bahasa Inggris.

5. Bahasa Indonesia mudah diberi afiksasi, meskipun afiks itu merupakan serapan dari bahasa asing.

Sayangnya, karena mudah menerima sesuatu dari luar seperti kosakata dan imbuhan (afiksasi), penggunanya justru terkesan kurang bangga dengan bahasa Indonesia. Mereka lebih merasa bangga menggunakan bahasa Inggris karena terkesan lebih prestise. Kita lihat saja ststus-status di facebook. Biarpun ejaannya  salah tetap saja banyak yang suka menggunakan bahasa Inggris.

Bahkan, kadang saya pikir, pemerintah dan orang-orang yang duduk di jajarannya juga banyak yang lebih suka menggunakan bahasa Inggris. Kita lihat saja istilah-istilah yang banyak mereka gunakan adalah istilah dari luar, padahal kita sudah punya padanannya dalam bahasa Indonesia.

Seiring perkembangan zaman, memang tak salah kita mempelajari bahasa Inggris karena merupakan bahasa internasional. Namun, mempelajari bahasa asing bukan berarti  melupakan bahasa sendiri, bukan? Mari kita gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan fungsinya sebagai pemersatu bangsa.

Oh, iya, baru saja saya baca postingan seorang Kompasioner yang berasal dari Filipina. Dia sedang belajar bahasa Indonesia dan tulisannya benar-benar membuat saya terharu. Orang luar saja suka berbahasa Indonesia. Kita yang punya bahasa harusnya lebih suka, kan? Dan ini juga merupakan indikasi kalau bahasa Indonesia banyak diminati oleh orang luar negeri. Bukti yang lain, beberapa universitas di negara lain  membuka jurusan Bahasa Indonesia.  Tidak mustahil, suatu saat nanti Indonesia bisa mendunia -menurus Agnes Monica: go iternasional- dengan Bahasa Kesatuan kita, Bahasa Indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 3 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 4 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 6 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 7 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: