Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

M Farid W Makkulau

Regular called 'Etta Adil', a learner who live in village that has lost track of selengkapnya

Mengenal Paruntuk Kana dalam Sastra Makassar

OPINI | 01 May 2011 | 14:27 Dibaca: 1754   Komentar: 17   1

13042167081271019239

Wanita ini, "Kontu bulang sampulo angngappak". (foto : google)

SUATU hari saya duduk – duduk di teras rumah dan menyaksikan orang yang lewat depan rumah. Saat itu ada seorang perempuan yang singgah menanyakan rumah seseorang yang merupakan teman kuliahnya. Menyaksikan paras wanita yang ternyata mahasiswi itu, kontan saya berujar, ”Kuntui bulang sampulo angngappak”. (Artinya Seperti bulan empat belas). Tetangga baru yang mendengar saya berujar demikian bertanya, ”Maksudnya apa tadi pak ?”. Saya jelaskan bahwa itu ungkapan terhadap seseorang gadis yang sangat cantik. Ternyata Basa Kabuyu – buyu (sastra tutur Makassar) sudah banyak dilupakan, terlupakan, bahkan sama sekali tidak diketahui oleh masyarakatnya sendiri.

Dalam sastra daerah Makassar dikenal yang namanya Paruntuk Kana, yaitu semacam Peribahasa atau Pepatah dalam Bahasa Indonesia. Saat ini Paruntuk Kana sudah banyak dilupakan masyarakat Makassar sebagai bagian dari pengajaran budaya padahal dulunya basa kabuyu-buyu (sastra tutur) ini dimaksudkan untuk memperhalus budi pekerti, mengenalkan tata krama ataupun untuk menyindir / mengingatkan bahwa sesuatu perbuatan itu tidak baik dilakukan.

Berikut ini beberapa contoh ungkapan ‘Paruntuk Kana’.

- Singkamma miong tugguru ana’na

Artinya : Seperti kucing yang jatuh anaknya. Dimaksudkan terhadap seseorang yang bekerja sembrono, tidak memperhatikan baik buruknya yang dia kerjakan.

- Manre dongik tai tedong.

Artinya : Makannya seperti burung pipit, tetapi kotorannya seperti tahi kerbau. Maksudnya Besar pasak daripada tiang.

- Kapala rupa’

Artinya Tebal muka. Makna kiasannya : Nikanagi mange ri tau kurang sirika, Orang yang tidak punya rasa malu.

- Kontoi pak na Palu-palu

Artinya : Seperti pahat dengan palu. Makna kiasannya : Biasa dikatakan terhadap obat yang sangat mujarab bila dikenakan kepada orang sakit.

- Kammai rappo nipue’ rua

Artinya : Seperti pinang dibelah dua. Maksudnya : Bagaikan orang yang bersaudara kembar sulit dibedakan.

- Kammai jeknek aklete ri lekopacco.

Artinya : Seperti air meniti di daun talas. Maksudnya : Bagaikan Orang yang tidak tetap Pendiriannya.

- Kamma linta natabaya jekne tambako.

Artinya : Seperti lintah dikena air tembakau. Maksudnya : Orang yang langsung diam setelah ditantang pembicaraannya.

- Dallek - dallek ulara’

Artinya : rezeki ular. Maksudnya : Rezeki untung-untungan.

- Eja tompiseng na doang

Artinya : nanti merah baru udang. Maksudnya : Orang yang nekat melakukan sesuatu sehingga tidak perduli apapun yang bakal terjadi.

- Erokak na baddilik bulo

Artinya : Dia mau menembak saya dengan bedil bambu. Dimaksudkan seseorang yang mau mengetahui rahasia seseorang.

- Ia Le’bak Ampalembai ri Kaddaro.

Artinya : Persis dia yang memindahkan ke tempurung kelapa. Dikatakan kepada seseorang yang berperilaku seperti orang tuanya.

- Jarung naboya pangkuluk tappelak.

Artinya : Jarum dicari, kapak yang hilang. Maksudnya ingin mendapatkan sesuatu yang tidak berarti tetapi dia kehilangan yang lebih besar.

- Tu Bajiki Pantarak.

Artinya : Orang baik di luar. Maksudnya sindiran kepada orang yang kelihatannya baik, akan tetapi berhati jelek.

Semoga Bermanfaat Adanya. (*)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 5 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Beda Banget Nasib Rinni dan Aris …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: