Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Irsyam Syam

Aktivis FPI (Front Peternak Indonesia)... Peternakan Syariah, Adakah???... @IrsyamSyam... http://kandang-kata.blogspot.com/

Bugis : Kamu itu Kasar

OPINI | 29 April 2011 | 00:25 Dibaca: 834   Komentar: 46   6

[Bahasa Menunjukkan Bangsa]

Seisi ruang sidang terlihat keheranan mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang presidium. Setiap peserta yang mengangkat tangan atau menginterupsi diberi kesempatan berargumen dengan berucap “kita, silahkan”. Jika ucapan itu tidak diikuti dengan gerak tangan ke arah peserta, maka sulit membedakan siapa sebenarnya yang dipersilahkan bicara.

Photobucket

Jadi Presidium di MUNAS ISMAPETI (Unand, 2007)

Itu kejadian empat tahun lalu, ketika saya dipercaya menjadi presidium sidang musyawarah nasional Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI). Peserta dengan latar multi etnis membuat komunikasi wajib dilakukan dengan Bahasa Indonesia. Sebagai orang yang menetap di daerah, meski sudah menggunakan Bahasa Indonesia, terkadang masih saja ada unsur-unsur kedaerahan yang tak sengaja terbawa.

Seperti juga ketika saya mempersilahkan peserta dengan kata ganti “kita”. Itu semata-mata dimaksudkan untuk penghormatan. Namun konteks penggunaanyalah yang kurang tepat. Seandainya ruang sidang itu hanya diisi oleh orang Bugis-Makassar, tentu tak mengapa. Tapi menjadi lain, karena peserta menterjemahkannya dalam makna Bahasa Indonesia yang sebenarnya.

“Kita” dalam Bahasa Indonesia adalah kata yang menunjukkan orang banyak. Sementara dalam Bahasa Bugis hanya menunjukkan seseorang (individu), lho koq bisa??? Dalam pergaulan sehari-hari, masayarakat Bugis menggunakan dua sapaan kepada seseorang, yaitu idi’ dan iko’.

Idi’ termasuk ada makkaratteng yang digunakan jika berkomunikasi dengan orang yang sederajat atau seumuran. Sementara iko’ adalah ada cuku’ yaitu kata ganti yang digunakan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda atau keluarga bangsawan kepada yang di bawahnya. Selain kedua itu, masih ada ada conga’ yaitu sapaan kepada bangsawan atau orang yang dihormati, seperti Puang dan Petta.

Dalam perkembangannya, kata idi’ dan iko’ mengalami penyempitan makna. Hal itu terlihat dalam penggunaanya dalam pergaulan sehari-hari yang tak lagi memperhatikan umur atau strata sosial. Menggunakan kata ganti idi’ berarti sopan atau menghormati lawan bicara, sedangkan iko’ terdengar kasar.

Lalu korelasinya dengan Bahasa Indonesia?

Disinilah terjadi sedikit trouble ketika orang Bugis menggunakan Bahasa Indonesia. Dengan maksud mempertahankan penggunaan ketiga kata ganti tersebut. Iko’ diterjemahkan langsung menjadi kamu, sedang idi’ diterjemahkan menjadi kita. Boleh jadi keputusan menjadikan idi’=kita, karena terkadang juga diikuti kata (pada)idi’ yang menunjukkan orang banyak. Atau karena memang orang Bugis tak menemukan padanan kata idi’ dalam Bahasa Indonesia. Entahlah.

Maka jika suatu saat anda berkesempatan bertandang ke Sulawesi Selatan, sebisa mungkin hindarilah menggunakan kata “kamu” untuk menyapa orang lain. Terlebih kepada mereka yang usianya lebih tua. Dan jika ada yang menyapa anda dengan sapaan “kita”, tak perlu bingung itu sebuah penghormatan.


@Pinrang, 26042011

Selepas kopdar bareng Eka Siswanto Pratama & Andi Olha Mappasosory

.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

7 Perilaku Buruk Berlalu-lintas di Tiongkok …

Aris Heru Utomo | | 21 December 2014 | 09:10

Blusukan ke Pasar Pengalengan, Pasar Sayur …

Thamrin Sonata | | 20 December 2014 | 23:42

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 3 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 4 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu

Aburizal Bakrie Disandera Jokowi ? …

Adjat R. Sudradjat | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: