Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Penulisan “di-” sebagai Awalan dan Kata Depan

REP | 23 March 2011 | 20:32 Dibaca: 16093   Komentar: 17   3

Pernahkan kita memperhatikan “di-” pada tulisan-tulisan kita? Jika kita membaca tulisan-tulisan yang ada di kompasiana, kita bisa menemui “di-” yang disambung dengan kata berikutnya, ada pula yang dipisah. Kapan kita harus menyambung atau memisah “di-”? Jawabannya tergantung kedudukan “di-” pada kalimat itu.

Pertama,  “di-” sebagai awalan atau imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Kedua, “di” sebagai kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Kita ambil contoh dari postingan teman-teman kompasioner:

1.

Aria8 pada postingan berjudul Bekam Pengobatan Alternatif (20/03/11):

“Pengobatan alternatif yang di ajarkan Rasullullah telah dikembangkan secara profesional di suatu Klinik Pengobatan  di Denpasar.”

di ajarkan = “di-” ini sebagai awalan yang menunjukkan kata kerja pasif ditulis serangkai dengan kata dasarnya, jadi yang benar ditulis diajarkan.

dikembangkan = “di-” ini juga sama sebagai imbuhan, ditulis serangkai menjadi  dikembangkan. Ini sudah benar.

di suatu = “di-” di sini sudah tepat penulisannya terpisah dengan kata yang mengikutinya karena berkududukan sebagai kata depan.

di Denpasar = “di-” di sini sudah tepat penulisannya terpisah sebagai kata depan.

Jadi penulisan kalimat di atas yang tepat sebagai berikut:

“Pengobatan alternatif yang diajarkan Rasullullah telah dikembangkan secara profesional di suatu Klinik Pengobatan  di Denpasar.”

2.

Ahmad Jayakardi pada postingan berjudul 3 Penyanyi Indonesia Bersuara Indah (21/03/11):

“Saya menyebutnya secara khusus sebagai “penyanyi” yang bukan “vocalist“, karena akan dikaitkan dengan posisi disebuah band.”

dikaitkan = “di-” sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Ini sudah benar.

disebuah = “di-” sebagai kata depan yang menyatakan tempat, ditulis terpisah: di sebuah.

Jadi penulisan kalimat di atas yang tepat sebagai berikut:

“Saya menyebutnya secara khusus sebagai “penyanyi” yang bukan “vocalist“, karena akan dikaitkan dengan posisi di sebuah band.”

—o—

Bumi Ngapak-ngapak

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Susahnya Mencari Sehat …

M.dahlan Abubakar | | 30 August 2014 | 16:43

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | | 30 August 2014 | 18:30

Negatif-Positif Perekrutan CPNS Satu Pintu …

Cucum Suminar | | 30 August 2014 | 17:13

Rakyat Bayar Pemerintah untuk Sejahterakan …

Ashwin Pulungan | | 30 August 2014 | 15:24

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Mengenang Penyair Rendra di Taman Ismail …

Trie Yas | 8 jam lalu

Menyapa Ijen, si Eksotis dari Timur Jawa …

Hari Akbar Muharam ... | 9 jam lalu

Air Sehat Untuk Semua …

Asep Dudinov Ar | 9 jam lalu

Peluang dan Tantangan Kebijakan SBY dalam …

Adi Rio Arianto | 9 jam lalu

Mengenang Skandal Spingate di Richmond 2013 …

Bertho Mulwiennoer | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: