Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Penulisan “di-” sebagai Awalan dan Kata Depan

REP | 23 March 2011 | 20:32 Dibaca: 16998   Komentar: 17   3

Pernahkan kita memperhatikan “di-” pada tulisan-tulisan kita? Jika kita membaca tulisan-tulisan yang ada di kompasiana, kita bisa menemui “di-” yang disambung dengan kata berikutnya, ada pula yang dipisah. Kapan kita harus menyambung atau memisah “di-”? Jawabannya tergantung kedudukan “di-” pada kalimat itu.

Pertama,  “di-” sebagai awalan atau imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Kedua, “di” sebagai kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Kita ambil contoh dari postingan teman-teman kompasioner:

1.

Aria8 pada postingan berjudul Bekam Pengobatan Alternatif (20/03/11):

“Pengobatan alternatif yang di ajarkan Rasullullah telah dikembangkan secara profesional di suatu Klinik Pengobatan  di Denpasar.”

di ajarkan = “di-” ini sebagai awalan yang menunjukkan kata kerja pasif ditulis serangkai dengan kata dasarnya, jadi yang benar ditulis diajarkan.

dikembangkan = “di-” ini juga sama sebagai imbuhan, ditulis serangkai menjadi  dikembangkan. Ini sudah benar.

di suatu = “di-” di sini sudah tepat penulisannya terpisah dengan kata yang mengikutinya karena berkududukan sebagai kata depan.

di Denpasar = “di-” di sini sudah tepat penulisannya terpisah sebagai kata depan.

Jadi penulisan kalimat di atas yang tepat sebagai berikut:

“Pengobatan alternatif yang diajarkan Rasullullah telah dikembangkan secara profesional di suatu Klinik Pengobatan  di Denpasar.”

2.

Ahmad Jayakardi pada postingan berjudul 3 Penyanyi Indonesia Bersuara Indah (21/03/11):

“Saya menyebutnya secara khusus sebagai “penyanyi” yang bukan “vocalist“, karena akan dikaitkan dengan posisi disebuah band.”

dikaitkan = “di-” sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Ini sudah benar.

disebuah = “di-” sebagai kata depan yang menyatakan tempat, ditulis terpisah: di sebuah.

Jadi penulisan kalimat di atas yang tepat sebagai berikut:

“Saya menyebutnya secara khusus sebagai “penyanyi” yang bukan “vocalist“, karena akan dikaitkan dengan posisi di sebuah band.”

—o—

Bumi Ngapak-ngapak

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Dari Body Mulus, Sampai Bibir Sexy …

Seneng | 6 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 13 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 14 jam lalu

Anda Tidak Percaya Alien, Maka Anda Sombong …

Zulkifli Taher | 14 jam lalu

Anfield Crowd, Faktor X Liverpool Meredam …

Achmad Suwefi | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Berlari itu Menginspirasi …

Hanni | 7 jam lalu

Diari Santri: #15 Perak Laju …

Syrosmien | 8 jam lalu

Misteri Kartu di Mandala …

Aksa Hariri | 8 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Ledakan Permintaan Jasa Rumah Sakit …

Petra Sembilan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: