Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Ahmad Sahal

Mencoba berkreasi di arena maya, mengungkapkan, mencurahkan, dan mengeluarkan semua isi otak agar tak tercecer, selengkapnya

Al-Quran, Bahasa, dan Sastra Arab

OPINI | 08 February 2011 | 23:21 Dibaca: 544   Komentar: 0   0

Membicarakan ketiga kalimat diatas bila disatukan seakan mempunyai keselarasan, dimana salah satu dari ketiganya adalah sumbernya. Berikut sekilas uraian tentang keterkaitan antar al Quran, bahasa (arab), dan sastra arab.

Al Quran diturunkan kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai mu’jizatnya, untuk mengeluarkan manusia dari zaman kegelapan menuju zaman cahaya yang terang benderang, menunjukan kepada jalan yang benar, menyeru agar beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subahanallahu wa Ta’ala, tiada sekutu bagi-Nya, serta mengingatkan kita juga agar waspada terhadap hari kiamat dengan hal-hal yang sifatnya dekat terhadapnya.

Bahasa arab dan Al Quran adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan karena al Quran itu sendiri diturunkan dengan bahasa Arab dimana Allah Subahanallahu Wa Ta’ala telah memilihnya sebagai bahasa Al Quran, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)

قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“(Ialah) Al Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS. Az-Zumar:28)

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ

“Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian dari ancaman”. (QS. Thaha: 113)

Itulah sebagian dari ayat Al Quran yang menerangkan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang digunakan Al Quran, dimana bahasa arab mempunyai derajat yang tinggi diantara bahasa dunia lainnya.

Al Quran bukan hanya diturunkan sebagai petunjuk dan syariat, peringatan dan kabar gembira. Akan tetapi, Al Quran diturunkan juga sebagai penyeru kaum musyrikin yang meragukan tentang kebenaran Al Quran, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (QS. Al-Israa: 88)

Bahkan, ketika kaum musyirikin tetap bersikeras dengan tentangannya meragukan kebenaran ayat Al Quran, Allah menurunkan firman-Nya:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al-Baqarah: 23)

Sejak masa kenabian Rasul pada tahun pertama, mujizat yang diturunkan kepada Nabi ini telah memberikan banyak pengaruh keislaman kepada para sahabatnya sehingga tak sedikit dari kalangan sahabat yang telah masuk islam yang disebabkan karena Al Quran. Diantara sahabat Rasul yang masuk islam karena Al Quran adalah ‘Utbah bin Rabi’ah, dimana ia diutus kaum musyrikin untuk menghadap Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk menawarkan beberapa tawaran yang menurut mereka dapat menghentikan dakwah beliau. Utbah yang dikenal dengan panggilan Abu Walid, menyampaikan tawaran tersebut kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam; yaitu, jika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menginginkan harta yang banyak maka mereka akan memberikan kepadanya sehingga Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjadi orang yang paling kaya raya di antara mereka, dan jika Rasulullah menginginkan kekuasaan, maka mereka akan menjadikan beliau penguasa di antara mereka, namun dengan syarat beliau menghentikan dakwahnya. Setelah mendengar tawaran yang disampaikan Abul Walid hingga tuntas, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membaca ayat pertama hingga ayat kelima surat Fushilat:

حم تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لا يَسْمَعُونَ وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ

“Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang . Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui . Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak mau mendengarkan . Mereka berkata : Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya….” (QS. Fushshilat: 1-5)

Akhirnya Abul Walid kembali menemui kaumnya dengan membawa kegagalan, bahkan justru dia terkagum-kagum dengan ayat-ayat yang telah dibaca Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sehingga kaumnya menuduh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menyihirnya.

Adapun mereka belum mempercayai tentang kemuliaan Al Quran dan kemujizatannya, akan tetapi mereka yang mendengarkannya, Allah membersihkan hatinya yang kotor sehingga jiwa mereka pun terbuka, hati mereka pun bergetaran dimana kehalusan ayat yang dibacakannya, sebagaimana yang terjadi dengan Umar bin Khattab RA. Beliau terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara ajaran nenek moyangnya, kesenangan terhadap hiburan dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu lebih mulia dan lebih baik.

Sampailah kemudian suatu hari, beliau berjalan dengan pedang terhunus untuk segera menghabisi Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Namun di tengah jalan, beliau dihadang oleh Abdullah an Nahham al ‘Adawi seraya bertanya:

“Hendak kemana engkau ya Umar ?”,

“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.

“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad ?”

“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”, tanya Umar.

“Maukah engkau aku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar, sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah meninggalkan agamamu”, kata Abdullah.

Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang sedang mengajarkan al Quran kepada keduanya (Fatimah, saudara perempuan Umar dan suaminya). Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi lembaran al Quran.

Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya: “Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,
“Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”, jawab mereka
“Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram

“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu ?”, tanya ipar Umar.

Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera membangunkan suaminya yang berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga wajahnya berdarah, maka berkatalah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah:

“Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”

Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan berdarah, timbul penyesalan dan rasa malu di hati Umar. Lalu dia meminta lembaran al Quran tersebut. Namun Fatimah menolaknya seraya mengatakan bahwa Umar najis, dan al Quran tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci. Fatimah memerintahkan Umar untuk mandi jika ingin menyentuh mushaf tersebut dan Umar pun menurutinya. Setelah mandi, Umar membaca lembaran tersebut, lalu membaca basmalah. Kemudian dia berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci”

Kemudian beliau terus membaca awal ayat surat Thaha:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha : 14)

Beliau berkata : “Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku dimana Muhammad”. Mendengar ucapan tersebut, Khabab bin Art keluar dari balik rumah, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, aku berharap bahwa doa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berdoa:

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

Umar bergegas menuju rumah tersebut seraya membawa pedangnya. Tiba di sana dia mengetuk pintu. Seseorang yang berada di dalamnya, berupaya mengintipnya lewat celah pintu, dilihatnya Umar bin Khattab datang dengan garang bersama pedangnya. Segera dia beritahu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan merekapun berkumpul. Hamzah bertanya: “Ada apa?”.

“Umar” Jawab mereka.

“Umar?!, bukakan pintu untuknya, jika dia datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika dia datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar. Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kemudian Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata :

“Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah?, Ya Allah inilah Umar bin Khattab, Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khattab”.

Maka berkatalah Umar :

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah.

Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil Haram.

Masuk islamnya Umar menimbulkan kegemparan di kalangan orang-orang musyrik, sebaliknya disambut suka cita oleh kaum muslimin.

Ibnu Mas’ud berkata :

“Kami dahulu tidak ada yang berani shalat di depan Ka’bah sebelum Umar masuk Islam”

Dari mereka semua yang mendapat hidayah dari Al Quran, adapula kaum musyrikin yang ingin menentang kebenaran Al Quran, bahkan mereka membuat tandingan ayat Al Quran yang sebenarnya hanyalah ucapan kosong belaka, sebagaimana yang dilakukan Musailamah bin Kadzab dalam ucapannya yang ingin menyamai ayat Al Quran:

والمبذرات زرعا، والحاصدات حصدا، والذاريات قمحا، والطاحنات طحنا، والخابزات خبزا، والثاردات ثردا، والاقمات لقما”

Ucapan diatas bermaksud ingin menyamai ayat pertama dalam surat Adz-Dzariyat, akan tetapi karena dengan sangat jelas sekali makna dari ucapan tersebut, ucapan itu pun gugur, bahkan menjadi senjata olok-olokan bagi kaumnya sendiri.

Dalam kitab An Naba’ Al ‘Adzim karya Prof. Dr. Muhammad Abdullah Darraz, beliau berpendapat dengan sangat luar biasa tentang penta’birannya mengenai makna-makna al Quran, dimana jikalau orang menyandarkan pendapatnya dengan pendapat beliau, maka orang akan selamat dari penta’wilan al Quran yang menyimpang dan tidak jelas. Sebagaimana dijelaskan pula dalam kitabnya, bahwa pada zaman sekarang banyak orang yang memaknai ayat al Quran hanya dengan membaca potongan ayatnya saja, tidak menyeluruh, sekedar untuk dalil yang ia perlukan saja yang sebenarnya dapat melemahkan dalil itu sendiri, bahkan menafsirkan ayat tersebut dengan pendapatnya sendiri, tanpa bantuan kitab-kitab tafsir ataupun hadits yang berhubungan dengan ayat tersebut. Seperti dicontohkan dalam surat Al Furqon: 72:

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu“.

Terlepas dari sifat manusia diatas, makna الزُّورَ disini tidak hanya satu makna saja, akan tetapi mengandung banyak makna. Dikatakan bahwa makna sifat tersebut antara lain adalah syirik, menyembah berhala, dikatakan pula bermakna bohong, fasiq, kafir, ucapan yang menyimpang, bathil. Muhammad bin Hanafiyah mengatakan bahwa makna tersebut adalah ucapan yang menyimpang dan nyanyian. Sebagian para Tabi’in mengatakan bahwa makna tersebut adalah musuh-musuh kaum musyrikin. ‘Amru bin Qois pun mengatakan bahwa makna tersebut adalah suatu majlis yang buruk dan khianat. Zuhri pun mengatakan bahwa makna tersebut adalah minum khamr, dan dikatakan pula makna tersebut adalah kesaksian yang palsu (diambi dari Tafsir Ibnu Katsir).

Itulah keseluruhan makna satu kata diatas yang begitu banyak dan dari berbagai ulama menurut siyaq kalam mereka sendiri, dan semuanya pun benar, tidak bertentangan dengan penjelasan makna kalimatnya, kerena makna kata diatas merupakan sesuatu yang menyangkut sifat haram, baik dari perbuatan maupun dari ucapan.

Al Quran sangat berpengaruh sekali terhadap bahasa (arab), dimana keduanya sudah menjadi kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Berikut beberapa pengaruhnya terhadap bahasa arab:

a) Dengan adanya Al Quran, maka bahasa Arab akan senantiasa terjaga kefasihannya, dan akan tetap kekal karena Al Quran itu sendiri senantiasa terjaga, sebagaimana Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al Hijr: 9)

b) Adanya qowaidh lughah dalam Al Quran, dengan begitu Al Quran akan terjaga dari lahn (kekeliruan) dalam segi i’rab dimana lahn itu sendiri adalah pemicu utama terjadinya rumitnya bahasa. Dari situ pula ada ilmu Nahwu yang berfungsi menjaga kata-kata yang keliru dalam membacanya

c) Dengan adanya Al Quran, bahasa Arab menyebar ke seluruh penjuru dunia, dimana pada masa awal kenabian, Al Quran tersiar hanya di Syibh Jazirah Arab, kemudian dengan dakwah Rasul, Al Quran bersama bahasa arab tersiar ke seluruh jazirah arab.

d) Banyaknya ilmu bahasa Arab, dimana ilmu-ilmu tersebut membantu terjaganya Al Quran, seperti tafsir dan pemahamannya, fiqih dan hukumnya, ilmu qiraat dan tajwidnya, serta ‘i’jaz Al Quran dimana menjadi penyebab munculnya ilmu balaghah (maani, badi’, dan bayan).

Sebelum turunnya Al Quran, para penyair serta kaumnya pada zaman jahili sangat fanatik terhadap apa yang mereka sembah. Apalagi dengan penyairnya yang senantiasa melantunkan syair buatannya sendiri dengan bermaksud membesarkan Tuhan yang disembahnya, sehingga para kaumnya pun tersihir dengan lantunan syair tersebut. Selain itu, para penyair jahili pun selalu melantunkan syair yang bertentangan dengan Al Quran, baik dari sisi akhlaq yang buruk, aqidah yang melenceng, adat budaya, serta kefanatikan leluhur mereka yang senantiasa mereka jaga. Setelah Al Quran diturunkan Allah Subahanallahu Wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka semua perihal pada zaman jahili berubah sedikit demi sedikit.

Jika dilihat dari sastra yang berupa natsr (kalimat bahasa arab yang indah, yang bukan berupa syair), Rasululllah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang pertama yang membuat natsr dari al Quran di dalam hadits-haditsnya, khutbah, di dalam lafadz beliau yang halus, di dalam maknanya yang mulia yang mendorong kepada perbuatan kebajikan dan melarang kepada perbuatan keburukan, dan di setiap perbuatannya yang senantiasa dilakukan dengan mengamalkan syariat islam, serta dalam ucapan yang berupa amtsal yang maknanya diambil dari Al Quran. Dari situlah para sahabat mengikuti jejak rasul dari segala perbuatan rasul serta berusaha keras agar senantiasa apa yang mereka ucapkan dan apa yang mereka perbuat mengandung pengamalan terhadap al Quran dan hadits-hadits rasulnya.

Dilihat dari sastra yang berupa syair, banyak syair yang yang telah dipengaruhi oleh Al Quran pada masa shadr al Islam (awal kenabian rasul), baik dari makna Al Quran maupun makna pengamalannya. Diantara penyair tersebut adalah: Hasan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rowahah. Mereka tidak membuat syair yang mengandung kebanggaan terhadap kaumnya sendiri, riya’ dan sum’ah. Akan tetapi, mereka membuat syair yang berisikan tentang jihad di jalan Allah serta peperangan kaum muslimin. Jika membaca syair tentang peperangan buatan mereka, maka akan terasa indahnya nuansa keimanan dan keagungannya serta sudah tidak ada lagi kandungan syair pada zaman jahili.

Lain daripada itu, banyak pula terdapat syair-syair yang berisikan tentang ketaqwaan, amal shalih, tentang shalat, shadaqoh, dan yang lainnya yang merupakan perintah dari Allah Subahanallahu wa Ta’ala. Adapula syair yang berisikan tentang syurga dan neraka, dan hari akhir dimana belum pernah dibuat pada masa zaman jahili sebelum al Quran diturunkan, sebagaimana syair yang dibuat oleh ‘Urwah bin Uzaynah:

لقد علمت وما الإسراف في طمع أن الذى هو رزقي سوف يأتينى

أسـعى له فيـعنـينى تطــلبه ولو قعـدت أتـانى لا يعـنينى

Terdapat banyak pula syair yang iqtibas (mengambil maknanya saja) dari ayat al Quran, bahkan hampir persis dengan lafadz ayatnya, seperti perkataan penyair:

يسقيه ربي حمـيم المهـل يجرعـه يشوى الوجوه فهو فى بطنه نار

Yang hampir sama dengan firman Allah Subahanallahu wa Ta’ala:

وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ

“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka.”

Dan salah satu ‘A’rab berkata:

ومـا هذه الأيـام إلا مـعارة فما اسطعت من معروفها فتزود

فإنك لا تـدرى بأبـة بلـدة تموت ولا ما يحدث الله فى غد

Yang hampir sama dengan firman Allah Subahanallahu wa Ta’ala:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)

Syair-syair diatas adalah sebagian syair yang berisikan tentang nuansa keislaman, baik diambil dari makna al Quran maupun hadits rasul. Namun sebagian para sahabat pada masa itu ada yang tidak sepakat dengan kemiripan para penyair ketika syairnya dibuat hampir sama dengan al Quran dari sisi shouti (suara) dan iqo’at fawashil (jeda berhentinya yang sama dengan lafadz ayat Al Quran).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Anak Kabur dari Pesantren, Salah Siapa? …

Mauliah Mulkin | | 28 August 2014 | 14:00

Pulau Saonek Cikal Bakal Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 28 August 2014 | 10:40

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Gap Year: Setahun Nganggur …

Marlistya Citraning... | | 28 August 2014 | 11:39

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 7 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 7 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: