Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Herry Jonathan

Seorang pemerhati berbagai issue yang suka bola,bulutangkis dan tenis

Cina Atau China?

OPINI | 30 November 2010 | 09:37 Dibaca: 931   Komentar: 7   1

Jakarta, 2/5/07 06.58

Membingungkan.Tapi yang jelas gua bertanya ini tanpa maksud menimbulkan isu SARA dan sejenisnya.Seinget gw,kita dulunya nyebutnya Cina,waktu SD selagi belajar sejarah G 30 S,terus waktu baca koran atau nonton TV tentang liputan Asian Games 1990 Beijing,semuanya nulis Cina dan nyebutnya juga Cina,begitu juga ketika ditulis sebagai RRC (Republik Rakyat Cina,bukan China).Tapi sekarang ini istilah RRC, (juga sebagai People’s Republic of China dalam dunia internasional) udah jarang digunakan,paling kalo lagi di berita politik,sedangkan kalo di berita ekonomi dan olah raga,istilah Cina/China lebih sering dipake.

Terus ada normalisasi hubungan politik,nah sempet tersentil kalo Cina/China ini ga suka disebut dengan Cina dalam bahasa Indonesia,katanya konotasinya menghina,walaupun gua ga ngerti kenapa bisa merasa terhina.Tapi itu kabar itu sepertinya lewat begitu aja.Tetep aja di media massa disebutnya Cina.

Then 1998,waktu malapetaka itu dateng dan reformasi jadi begitu diagung-agungkan,ada keinginan untuk menggunakan istilah Tionghoa atau Tiongkok untuk menggantikan Cina/China ini.Alesannya ya masih sama,konotasi menghina itu.

Kenapa konotasinya menghina? Katanya ya kalo Cina itu lafalnya sama kayak kata “hina”,jadi mereka merasa terhina.Tapi kenapa mesti terhina? Buktinya mereka bisa jadi negara yang begitu hebat sampai detik ini.Pada kenyataannya di media massa
istilah Tiongkok atau Tionghoa masih jarang digunakan.Sebagian besar media cetak masih menggunakan istilah “Cina.”Tapi ada juga yang make istilah “China” (baca:Chaina),seperti Metro TV yang sepertinya udah menerapkan standar pengucapan lafal seperti itu kepada semua penyiarnya.Setiap kali nonton Metro TV yang diucapin selalu “Chaina…” bukan “Cina”. Pernah denger juga lafal “Chaina” di Radio El Shinta,walaupun mereka ga sekonsisten Metro.Ada yang bilang,itu karena Metro mau go internasional seperti Al Jazeera.Tapi itu ga relevan ah,kenapa ga sekalian aja “Belanda” disebut “Nederlan”, “Filipina” dibilang “Filipin”, “Jepang” dibilang “Jepen” dan “Maladewa” dibilang “Maldif”?

Gua ga tau juga gimana reaksi pemerintah Cina/China terhadap beberapa negara yang dalam mengucapkan nama “Cina/China” kurang lebih mirip dengan Bahasa Indonesia.Di Bahasa Spanyol/ Portugal,Cina/China disebut sebagai “ China” (baca: cino),di Bahasa Prancis Cina/China ditulis sebagai “Chine” (baca :shin), sedangkan warga Cina/China disebut “Chinois” (baca : Shinoa). Memang ada perbedaan mendasar.Hampir di setiap negara dunia,penulisan nama negara ini ditulis dengan huruf “h” ,di Jerman,Rumania,Polandia,Hindi,Persia,Tamil,semua pake huruf “h”.

Tapi bukan berarti cuma di Indo aja yang nulis Cina.Bahasa Slovakiapun nulisnya Cina,begitu juga dengan Bahasa Italia,dengan lafal pengucapan yang sama pula.
Ada yang lebih ekstrim,di Estonia,mereka menyebutnya dengan “Hiina” hahah,.

Walau kecil,kadang masalah yang bekaitan dengan hal ini bisa jadi menimbulkan sesuatu yang menyenangkan atau menjengkelkan.Ada pengalaman menarik,waktu di Swiss dulu,dalam perjalanan dari Caux ke Montreux,gw ketemu sama sesama murid sekolah,tapi dia ini senior.Kita ngobrol-ngobrol,tanpa tahu nama masing-masing.Dia terus nanya,”Where are you from?” gua jawab Indo,terus gua tanya balik,dia bilang,”I’m from Algeria.” Temen gw yang dari Indo nanya,” Algeriadi mana tuh?” terus gua jawab,”Aljazair,tau ngga loe?” Terus sang senior sumringah.”You call Algeriaas Aljazair in your country?” Gua bilang “Yes.” Terus dia langsung jabat tangan gua.Dia bilang dia nyebut negaranya juga dengan nama Aljazair,dia seneng ada negara yang menyebut nama negerinya sama persis begitu.Dia bilang mungkin cuma Indo satu-satunya negara di dunia yang nyebut Algeria dengan nama Aljazair.

Yah,sebenarnya mau Cina mau China atau mau apa kek,ga masalah,tetep aja itu tidak mengubah kenyataan bahwa mereka (yang dulunya begitu terbelakang) jadi negara yang hebat,dan kita tetep aja harus belajar banyak dari mereka.Kembali ke Shakespeare yang bilang,”Apalah arti sebuah nama?” atau Deng Xiao Ping yang bilang,”Ngga masalah kucingnya kucing putih atau item,yang penting dia nangkep tikus.”

Tapi dalam beberapa hal,masalah ini bisa jadi merepotkan,tetep diperlukan ketegasan,yang mana yang benar.Gua juga kadang-kadang kalo lagi subtitling,di mana sebagian besar kata yang harus diketik adalah bahasa baku,suka bingung harus ngetik apa,”Cina” atau “China?”

Masalahnya,sepengetahuan gua memang karena belum ada ketegasan,baik dari Pemerintah Cina/China sendiri.Beda dengan kasus Birma,yang pemerintahnya udah bener2 ketauan minta untuk menghilangkan penyebutan nama negara mereka dengan kata Birma,jadilah kita nyebutnya dengan nama Myanmar.Begitu juga dengan India yang mengganti nama Kota Madras jadi Chennai,Kalkuta jadi Kolkata dan Bombay jadi Mumbai.Kita harus ikutin.Walaupun ga perlulah kalo ke pasar kita bilang,”Mau beli bawang Mumbai 5 kg,” hahhaha

Di tiap negara,termasuk juga di Indo,ada lembaga bahasa yang berwenang memberikan penegasan.Sepertinya itu tugas mereka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasar Jibama, Arena Transaksi Sekaligus …

Dhanang Dhave | | 27 November 2014 | 09:26

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 3 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 5 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 6 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Jare Wong Biyen, Jangan Diabaikan Ya… …

Er - Te - Em Woworu... | 7 jam lalu

TNI AD Mencetak Perwira Penerangan yang …

Macgyver Hadiningra... | 8 jam lalu

Tentang Rasa yang Kikuk dan Lelah …

Kayana Octora | 8 jam lalu

Berharap Mujizat untuk Timnas …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Tenggelamkan dan Bakar Kapal Asing Pencuri …

Ik2mi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: