Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Bahasa Indonesia Baku: Bukan Bahasaku

OPINI | 15 August 2010 | 07:39 Dibaca: 362   Komentar: 12   1

Setiap kebudayaan mungkin mengenal bahasa ibu. Bahasa pertama yang diperkenalkan pertama kali dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa Indonesia merupakan contoh kasus yang teramat menarik. Kemajemukan budayanya membuat Bahasa Indonesia seringkali menjadi bahasa kedua dibawah bayang-bayang bahasa-bahasa daerah tempat masyarakat itu tinggal. Tidak heran bahasa pergaulan kita sering tercampur dengan struktur bahasa daerah tertentu seperti ungkapan “Taruh kau punya mulut didepan mikrofon.” Ungkapan yang agak asing ditelinga, tapi bisa dipahami oleh pemakai bahasa Indonesia diluar komunitas tersebut.

Pendidikan formal bisa menjadi jembatan penghubung agar penggunaan bahasa Indonesia menjadi lebih terarah. Bentuk sistem berjangka yang dimulai sejak sekolah dasar hingga pendidikan tingkat atas. Institusi inilah yang mengarahkan kita menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Melatih penuturnya menyusun kalimat dengan struktur Subjek-Predikat-Objek. Membantu pemakai untuk menyusun tulisan secara sistematis dengan bertumpu pada kalimat utama pada tiap awal paragrafnya. Benar-benar sebuah proses panjang yang menjanjikan kualitas penutur bahasa Indonesia.

Namun kenyataan sering tidak berpihak pada teori. Bahasa Indonesia tetaplah sebuah mahluk asing dalam tataran tutur. Saat kita ingin meminjam buku maka struktur baku yang biasa kita ucapkan adalah “Bolehkah saya meminjam bukumu?” Bisa dibayangkan reaksi orang sekitar jika kita menggunakan ekspresi yang sama dalam pergaulan. Kita akan lebih nyaman memakai ujaran “boleh dong lihat bukunya?”

Fakta tersebut hanyalah contoh kecil dari masalah yang ada dalam bahasa kita. Masih banyak lagi remah-remah yang bisa kita renungkan. Baru detik ini penulis tersadar perbedaan antara tanaman dan tumbuhan. Tumbuhan adalah mahluk hidup yang tumbuh dengan sendirinya. Sedangkan tanaman tumbuh karena ditanam. Itulah mengapa tidak ada istilah bercocok tumbuh. Kasus sederhana inilah yang secara jujur membuat penulis lebih nyaman menuangkan ide dalam bahasa Inggris yang lebih ringkas, sistematis, dan lebih kaya ragam pilihan kata. Berdasarkan statistikpun, entri kosakata kita ini masih jauh lebih sedikit dari bahasa Inggris sekalipun. Namun sebagai bahasa muda, bahasa Indonesia tidak perlu rendah diri dihadapan bahasa-bahasa lain di dunia ini karena bahasa terbukti merupakan bidang keilmuan paling dinamis terkait dengan frekuensi penggunaannya yang luar biasa tinggi. Selamat Bertutur!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 7 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 7 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 14 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 10 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 10 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 10 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: