Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Bahasa Indonesia Baku: Bukan Bahasaku

OPINI | 15 August 2010 | 07:39 Dibaca: 356   Komentar: 12   1

Setiap kebudayaan mungkin mengenal bahasa ibu. Bahasa pertama yang diperkenalkan pertama kali dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa Indonesia merupakan contoh kasus yang teramat menarik. Kemajemukan budayanya membuat Bahasa Indonesia seringkali menjadi bahasa kedua dibawah bayang-bayang bahasa-bahasa daerah tempat masyarakat itu tinggal. Tidak heran bahasa pergaulan kita sering tercampur dengan struktur bahasa daerah tertentu seperti ungkapan “Taruh kau punya mulut didepan mikrofon.” Ungkapan yang agak asing ditelinga, tapi bisa dipahami oleh pemakai bahasa Indonesia diluar komunitas tersebut.

Pendidikan formal bisa menjadi jembatan penghubung agar penggunaan bahasa Indonesia menjadi lebih terarah. Bentuk sistem berjangka yang dimulai sejak sekolah dasar hingga pendidikan tingkat atas. Institusi inilah yang mengarahkan kita menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Melatih penuturnya menyusun kalimat dengan struktur Subjek-Predikat-Objek. Membantu pemakai untuk menyusun tulisan secara sistematis dengan bertumpu pada kalimat utama pada tiap awal paragrafnya. Benar-benar sebuah proses panjang yang menjanjikan kualitas penutur bahasa Indonesia.

Namun kenyataan sering tidak berpihak pada teori. Bahasa Indonesia tetaplah sebuah mahluk asing dalam tataran tutur. Saat kita ingin meminjam buku maka struktur baku yang biasa kita ucapkan adalah “Bolehkah saya meminjam bukumu?” Bisa dibayangkan reaksi orang sekitar jika kita menggunakan ekspresi yang sama dalam pergaulan. Kita akan lebih nyaman memakai ujaran “boleh dong lihat bukunya?”

Fakta tersebut hanyalah contoh kecil dari masalah yang ada dalam bahasa kita. Masih banyak lagi remah-remah yang bisa kita renungkan. Baru detik ini penulis tersadar perbedaan antara tanaman dan tumbuhan. Tumbuhan adalah mahluk hidup yang tumbuh dengan sendirinya. Sedangkan tanaman tumbuh karena ditanam. Itulah mengapa tidak ada istilah bercocok tumbuh. Kasus sederhana inilah yang secara jujur membuat penulis lebih nyaman menuangkan ide dalam bahasa Inggris yang lebih ringkas, sistematis, dan lebih kaya ragam pilihan kata. Berdasarkan statistikpun, entri kosakata kita ini masih jauh lebih sedikit dari bahasa Inggris sekalipun. Namun sebagai bahasa muda, bahasa Indonesia tidak perlu rendah diri dihadapan bahasa-bahasa lain di dunia ini karena bahasa terbukti merupakan bidang keilmuan paling dinamis terkait dengan frekuensi penggunaannya yang luar biasa tinggi. Selamat Bertutur!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 15 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 16 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: