Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Dudu Rahman

Guru SD dan Pimpinan Pondok Media (Citizen Journalism forum) Kota Tasikmalaya

Sejumput Mawar Tentang Sajak dan Penyair Bode Riswandi

OPINI | 06 August 2010 | 15:35 Dibaca: 457   Komentar: 2   0

Bode Riswandi lahir di Tasikmalaya, 6 November 1983. Tidak aneh, jika metafora sajaknya disadur dari wilayah geografis yang berupa pegunungan, lembah, lindai, dan persawahan yang membentang. Bisa dikatakan masih perawan dari polusi metropolitan. Kondisi ini membawa jiwa si penyair ke renung yang cenderung memilih suasana pedesaan. Membaca puisi penyair ini, bisa larung ke labirin ruang alam, karena ramuan-ramuan katanya, menjadi metafora yang mapan. Hal tersebut sering dijumpai dalam rancang bangun puisi, Bode, panggilan akrabnya, memuat metafora alam, dibungkus unsur agamis yang sedikit ‘nakal’, seperti bait :

Kekasih, berilah aku buah dada bugar
Buah dada yang memanjang dari Langit-Mu
Langit yang menjadikan api sebagai taman mawar
Bagi Ibrahim

Bagaimana tidak, bait di atas jika dibaca selintas; seperti erotisme sesat, desah jiwa ke Tuhan yang nyeleneh. Namun, jika dimaknai dari sudut pandang yang lebih dalam, penyair ini membawa pembaca bercinta atas kesucianNya dengan birahi suci pula tentunya, selayak “racauan cinta” Rumi yang maha dahsyat. Sejalan dengan Prof. Jakob Sumardjo, “… Dan Bode Riswandi bertolak dari adat untuk melukiskan penyatuan denganMu”.

Antologi Puisi Mendaki Kantung Matamu

Dalam antologi puisi MKM ini, penyair, membawa pembaca ke suasana yang loncat-loncatan. Meskipun karya-karya di dalamnya dirancang sebagai jejak penyair selama proses kreatif pembuatan puisi. Beberapa diantaranya :

Antarkan Mayatku Sampai Rumah Sepi, Kekasih

Kematianku meninggalkan darah di kelopak matamu
Bunga-bunga waktunya kau tabur
Di batu nisan — di dadamu

Mendaki Kantung Matamu
:buat WS. Rendra

Mendaki kantung matamu rakyat dengan darah selabu
Berlari tak tentu. Siapa lagi yang terbunuh? Darah kami
tinggallah selabu

Di Vietnamp Camp

Banyak yang bercerita lewat angin, semacam dingin
Atau isyarat yang licin. Sepi serupa kembang muda
Yang tumbuh di ranting rahasia

Buat Anna Politkovskaya

Salju yang runtuh dari rambut kelabumu
Semacam peluru makarov yang dilempar
Seseorang ke dada dan kepalamu. Lantas
Orang-orang bernyanyi untukmu, …

Mulai puisi pertama hingga terakhir, penyair mencoba merekam semua peristiwa yang dirasa, dilihat, dan direnungkan, tanpa memandang koherensi judul sebagai benang merah. Namun, tidak mengurangi keistimewaan dari kumpulan puisi ini, justeru pembaca akan mengalami pengembaraan makna yang dahsyat di ruang buku antologi MKM ini.

Beberapa bulan lalu, di kota santri Tasikmalaya, Buku Antologi Puisi Mendaki Kantung Matamu (MKM), telah ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat sastra. Selain pakar dan kritisi yang membahas keistimewaan buku ini, banyak pula tanggapan positif perihal rencana penerbitannya yang ditungu-tungu, mulai dari tukang becak, pelajar hingga pejabat. Betapa tidak, penyair yang lumayan mempunyai reputasi tinggi di perpuisian nasional ini, membungkus puisi-puisi yang pernah dimuat, dari beberapa antologinya, bersama penyair-penyair muda Indonesia. Pada akhirnya menumbuhkan sikap apresiasi yang welcome dari masyarakat, atas konsistensi, intensitas dan loyalitas terhadap eksistensi kepenyairannya selama ini.

Sambutan hangat masyarakat, terutama pelajar, menunjukkan Bode Riswandi memberi pengaruh terhadap gairah jiwa apresiasi masyarakat bawah-atas, yang sebelumnya, hampir redup, mati suri dan lenyap, khususnya di Tasikmalaya. Banyak sekali instansi pemerintah Kota Tasikmalaya, komunitas seni dalam dan luar daerah, mengundang penyair satu ini dalam rangka bedah antologi puisinya.

Buku antologi yang didominasi warna sampul merah itu, memberi semilir kebanggaan kepada warga masyarakat, karena memiliki generasi penyair muda berprestasi yang kreatif, khususnya dalam perkembangan sastra di Kota Tasikmalaya. Hingga meranumkan nama daerah di kancah nasional maupun internasional, selain penyair kawakan Acep Zamzam Noor, Saeful Badar, Soni Farid Maulana, Nazarudin Azhar, dlsb. Gaung penerbitan antologi ini, menggema hingga dunia cyber sastra, seperti Blog, Twitter, dan Facebook yang sangat digandrungi penyair-penyair pemula maupun penikmat cyber sastra.

Meskipun launching Antologi Puisi MKM ini baru akan dilaksanakan dalam waktu dekat, kegiatan road show ke luar daerah seperti Bogor, Bandung, dan Purwokerto, sudah dilaksanakan sebelum acara penerbitan diselenggarakan di Kota Tasikmalaya. Langkah tersebut dilakukan semata-mata menunggu waktu yang tepat agar pelaksanaan efektif dan efisien. Selain ajang publikasi, penyair ini memang hampir diminati kerabat sastra Indonesia, sehingga undangan bedah puisi MKM ini pun silih berganti.

Lulusan FKIP Unsil ini, berhasil mengetengahkan sajak-sajak segar yang mawar. Kembara kata yang sedemikian lengang, melalui proses kreatif yang tidak stagnan, mengukuhkan masyarakat sastra terhadap kepenyairannya. Seperti yang dikatakan “Ki Guru”, sapaan Bode kepada Acep Zamzam Noor dalam pengantarnya, “Bode Riswandi adalah salah satu dari sedikit penyair muda Jawa Barat yang potensial. Jika saja ia terus menjaga intensitas, mentalitas, dan integritasnya sebagai penyair, saya ramalkan sekali waktu puisi-puisinya akan menjadi penting”.

Sebelum meluncurkan buku tunggal antologi puisi ini, karyanya dimuat di Pikiran Rakyat, Majalah Syir’ah, S. K. Priangan, Tabloid MQ, Puitika, Lampung Post, Bali Post, Koran Minggu, Majalah Sastra Aksara, Jurnal Bogor, Tribun Pontianak. Selain itu, puisinya terkumpul dalam Biograpi Pengusung Waktu (RMP, 2001), Poligami (SST, 2003), Kontemplasi Tiga Wajah (Pualam, 2003), Dian Sastro For President #2 (Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2003), Jurnal Puisi (Yayasan Puisi, Jakarta 2003), End Of Trilogy (Insist Press, Yogyakarta 2005), Temu Penyair Jabar-Bali (2005), Lanskap Kota Tua (WIB, 2008), Tsunami, Bumi Nangroe Aceh ((Nuansa, 2008), Rumah Lebah Ruang Puisi (Yogyakarta, 2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa antologi Temu Sastrawan Indonesia II (2009), Antologi Penyair Muda Indonesia-Malaysia (2009), dan Antologi Pemenang Sayembara Cerpen Nasional “Sang Kecoak” (Insist Press, 2006).

Diluar kepenyairannya, Bode Riswandi, mengajar di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tasikmalaya (Unsil). Bergiat di Komunitas Azan, Sanggar Sastra Tasik (SST), Rumah Teater, dan Teater 28.

Sebagai apresiasi, kita do’akan saja, mudah-mudahan umur kepenyairan Bode Riswandi, panjang, serta memberi khazanah terhadap perkembangan sastra Indonesia. Amin.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menebar Rimpang Jahe Menuai Rupiah Sebuah …

Singgih Swasono | | 16 April 2014 | 09:28

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 8 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 10 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 10 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: