Aku hidup di sebuah negeri yang kaya… Katanya tanpa bekerja sekalipun sudah bisa makan, minum, dan hidup sejahtera. Mungkin itu yang membuat masyarakatnya cenderung malas… Karena apa? Karena merasa sudah kaya dan enggan menambah kekayaannya *mungkin takut dibilang berlebihan*
Negeriku bernama INDOngeNESIA (Coba baca baik-baik mungkin akan menemukan makna dalam kata)… Mungkin terlalu banyak gelar yang diberikan pada negeriku ini, yang terbaik yang aku dengar terakhir kali, negeriku masuk dalam the best three negara terkorup di planet yang bernama BiUsMI, aku mendapatkan informasi itu dalam sebuah seminar akbar mengenai korupsi di Universitas InsyaAllah (InsyaAllah jujur… InsyaAllah sama korupnya)
Oh ya, kenapa setiap hari aku harus melihat pemandangan mengiris hati? Orang-orangtua dan anak-anak kecil mencari nafkah dengan meminta-minta. Lalu dimanakah pemerintah Negara INDOngeNESIA? Katanya mereka menjadi tanggung jawab negara???? Nenek tua yang selalu duduk di depan wc stasiun, ibu-ibu dengan anaknya yang sering terlihat ‘ngemper’ di depan penjual roti ijo, dan masih banyak lagi.
Suatu saat aku sempat berbincang dengan seorang anak, sosoknya begitu familiar, setiap siang aku bertemu dengannya dalam bis atau jalanan… Dia terlihat asyik mejajakan koran. Tapi tak ada yang tau gurat-gurat perjuangan yang ditorehkannya… Anggap saja saya A dan dia B.
B : Kak koran?
A : (Aku memalingkan wajah kepadanya, lalu tersenyum. Sebenarnya aku tidak sedang punya waktu untuk membaca koran, tapi…”
B : (Mengulurkan koran) Cuma 1500 kak.
A : (Aku merogoh saku mencari recehan yang tersisa) Nih… Makasih ya. Oh ya, kamu nggak sekolah dek?
B : Ya ini buat sekolah kak. Terpaksa bolos beberapa hari.
A : Lha kenapa?
B : Harus bayar uang buat UAN kak, dikasih waktu seminggu.
A : (Aku menyelidik) Berapa?
B : 20.000
Bayangkan 20000 bisa membuat seseorang mengorbankan waktu… Mungkin angka segitu nggak berat untuk aku dan kamu, tapi dia? 20000 bisa membuat seorang anak kehilangan ilmu untuk beberapa hari. Dan di titik ini saya kembali bertanya, dimana pemerintah? Dimana ulur tangan dermawan? Dan apakah orang-orang kaya sudah memenuhi kewajiban 2,5% mereka ?
DAn berlanjut ke cerita selanjutnya…
Saat itu aku membuka website dimana aku memiliki account di Universitas InsyaAllah… Dan betapa terkejutnya saat ADA TUNGGAKAN SENILAI 9 JETI LEBIH… Tunggakan darimana???? Bukannya semua sudah lunas. Usut punya usut ternyata penggelembungan biaya itu karena aku mendapatkan beasiswa dari salah satu lembaga pemerintah Negara INDOngeNESIA.
YA ALLAH… sampai kapan semuanya akan carut marut??? Semuanya serba melakukan hal-hal yang bisa menguntungkan DAN DENGAN JALAN YANG SALAH.
UANG UANG UANG… Hanya itu yang dipikirkan!!!!
Lalu aku merenung dalam diam, bukankah seharusnya dana sebesar 9 JETI itu bisa dialokasikan kepada pihak-pihak lain? Kepada anak-anak penjual koran yang seringkali aku temui… Kepada para lansia yang terpaksa masih tetap harus bekerja dengan jalan meminta-minta…
Sudahlah!!! Rasanya sudah bosan dengan permasalahan di negeri TERCINTA ini… Tapi apa aku dan kalian harus diam? Diam dan hanya bisa menyalahkan? Setidaknya sebagai MAHAsiswa ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Bergerak… Jangan hanya mau menjadi ‘orang berada’… Lakukan apa yang kita bisa, meskipun hanya setitik saja. Itu pasti akan berarti… Terutama tugas yang sangat berat dan panjang menanti, memperbaiki Birokrasi di Negara INDOngeNESIA….
Bisnis kuliner menjamur dimana-mana. Bila Anda pernah menikmati hidangan atau masakan yang unik atau pernah
