Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Florensius Marsudi

Lelaki sederhana, istri satu, anak satu, putri. Sedang belajar (lagi). Belajar menulis....

“Waktu dan Tempat Kami Persilahkan….”

OPINI | 30 March 2010 | 16:50 Dibaca: 1018   Komentar: 10   2

Seorang sahabat. Kebetulan ia  pengajar bahasa Indonesia di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), disalah satu universitas tempat aku tinggal. Pada suatu kesempatan, ia mendapat kehormatan untuk menjadi pengatur acara pada pesta nikah.

“Saudara-saudari yang terkasih, resepsi pernikahan saudara Giwang dan saudari Anting akan segera kita mulai. Kita akan membukanya dengan doa pembukaan. Pada kesempatan ini, doa pembukaan akan dipimpin oleh yang terhormat bapak Dulang. Maka, waktu dan tempat kami persilahkan.”  Suara sahabat itu amat nyaring terdengar ditelinga.

Mendengar kata-kata tersebut aku cuma tersenyum. Ia memandangku.

Usai resepsi….Aku mendatanginya.

“Bagus….” Kataku.

“Apanya?” Jawab dia.

“Itu, waktu dan tempat kami persilahkan….”

“Ha…..ha…..dia tertawa.  Ya…ya…ya… memang aku sadar. Tadi aku salah ucap.”

“Mestinya yang dipersilahkan itu bapak Dulang, bukan waktu dan tempat.  Waktu dan tempat sudah ada di situ…. Lagi pula, kata   ‘dipersilahkan’  itu keliru.  Kata yang benar dan baku adalah  ‘dipersilakan’, dari kata dasar  ’sila’ . Coba lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia.” Kataku.

“Ya, Mas, dalam berbahasa lisan, nalar dalam berucap memang harus tetap dipakai.”

“Setuju,”  aku mengiyakan,  “apalagi  seorang pengajar sepertimu; mestinya seorang pengajar, apalagi pengajar bahasa Indonesia harus mempunyai kepekaan berbahasa yang lebih,  dibandingkan orang kebanyakan. Jikalau bukan kita sebagai bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia, siapa lagi yang akan mencintai - menghargai bahasa Indonesia?”

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 8 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 8 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 9 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 11 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: